Kisah Shakila Sheikh

2

Ada yang bilang seni itu bisa dipelajari, tapi juga ada yang bilang bahwa orang yang belajar seni itu pada akhirnya akan kalah dengan mereka yang memang terlahir dengan bakat seni. Mungkin pendapat itu ada benarnya.

Shakila Sheikh adalah seorang gadis kecil yang berusia sekitar 7 tahun ketika ditemukan oleh seorang seniman yang bernama B.R. Panesar. Sejak saat itu, Panesar sudah seperti ayah bagi Shakila, dan dipanggilnya dengan sebutan “Baba”. Baba menemukan Shakila ketika ia sedang berjualan sayur di sebuah pasar di Talitala di Kalkuta, India, bersama ibunya.

Baba yang ketika itu berusia setengah baya memberikan telur dan biskuit kepadanya, tapi Shakila menolaknya karena dia diajarkan untuk tidak menerima apapun dari orang asing. Pada suatu hari, Baba mendekati ibunda Shakila dan meyakinkan sang ibu untuk menyekolahkan Shakila.

shakila

Shakila pun akhirnya bersekolah selama beberapa tahun dan pendidikannya terhenti karena jarak yang harus ditempuhnya dari rumah ke kota terlalu jauh. Tapi Shakila sempat belajar bahasa Bengali. Ketika baru berusia 12 tahun, Shakila dinikahkan oleh ibunya dengan seorang laki-laki untuk menjadi istri kedua tanpa sepengetahuan Baba.

Beberapa tahun setelah menikah, barulah Shakila kembali mencari Baba karena membutuhkan pekerjaan. Baba lalu menyuruhnya membuat kantung kertas atau thongas dan menjualnya.

Saat membuat thongas, Shakila teringat warna-warna terang yang dilukisnya ketika dia masih kecil. Baba pernah memberikannya beberapa buku gambar dan pen untuk membuat sketsa. Dua dari karyanya pernah masuk koran ketika itu. Tentu saja karena jasa Baba.

art1--310x465

Pada suatu hari, Baba mengajaknya untuk mengunjungi pameran lukisannya – dan di situlah titik balik dalam kehidupan Shakila. Ia menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengamati karya-karya Baba yang dipamerkan di sana.

Dalam perjalanan pulang, Shakil berpikir terus dalam kereta tentang lukisan-lukisan yang tadi dilihatnya. Karena harga cat mahal dan Shakila tidak punya uang, ia berpikir untuk menggambar dengan kertas-kertas yang berwarna. Ketika ia bercerita dengan suaminya tentang idenya, suaminya menertawakannya. Shakila pun marah, dan semakin ingin menjadi seorang pelukis.

Karya pertama Shakila dibuat ketika ia baru berusia belasan tahun, dan hasilnya mencengangkan Panesar dan beberapa seniman lainnya. Mereka pun lalu memberikan kanvas kepada Shakila, juga majalah dan koran bekas. Shakila mulai membuat kolase, dan membuat pameran tunggal pertamanya di awal tahun 90-1an di Chitrakoot Art Gallery di Kalkuta.

Sejak saat itu, karya Shakira semakin berevolusi secara luar biasa. Semakin kompleks dan semakin gelap. Adalah Sarkar, kakak Shakila yang kemudian mengirim karya Shakila ke luar negeri. Papier Mache karya Shakila pun terpampang di Grameen Bank saat International Trade Fair di Hannover.

2004031500020101

Instalasi karya Shakila yang berjudul “Ghuter Deyal” menggambarkan seorang perempuan yang kesepian dan melankolis. Instalasi itu menggambarkan posisi Shakila yang sebenarnya di dunia seni. Shakila yang tidak pernah mendapatkan pendidikan secara memadai namun dirinya memang terlahir sebagai seorang seniman. Salah satu nasehat Baba kepada Shakila adalah agar dirinya tidak boleh pernah membuat karya seni dengan meniru karya orang lain dan gambar-gambar yang dibuatnya harus dari imajinasinya sendiri.

Kekerasan dan nuansa politik kerap muncul dalam karya Shakila, namun dirinya menolak untuk menjelaskan mengapa dia menggambarkannya. Karya Shakila dikenal penuh simbol.

Ketika mengadakan pameran tunggal, kurang lebih 500 orang datang untuk melihat karya Shakila setiap harinya dan mereka kagum betapa ia mempunyai ide sebanyak itu. Saat ia membuat karya tentang dewa dewi Hindu, para tetangganya yang Muslim konservatif menjadi murka dan menuduhnya berpindah menjadi orang Kristen – tapi itu tidak menghentikannya. Dia terus melakukan apa yang ia ingin dan harus lakukan, dan pada akhirnya mereka hanya melihat dan tidak lagi mengkritiknya.

Suaminya pun saat ini sudah menjadi tiang pendukungnya, bahkan menjaga anak-anak mereka ketika Shakila sedang bekerja. Sang suami juga membantunya mencari koran-koran dan majalah-majalah bekas untuk karya istrinya. Di tempat mereka tinggal, suami seperti Akbar memang hampir tidak ada.

Studio Shakila adalah sebuah kamar kecil di depan rumahnya, yang dipenuhi dengan poster-poster film bekas. Di tengah malam pun Shakila tetap bekerja dengan penerangan lampu minyak. Saat ini, putri Shakila telah menikah dan kedua putranya sudah beranjak dewasa, tapi Shakila terus berkarya.

Karyanya yang paling disukainya adalah tentang Kali. Setiap ada orang yang membeli karyanya, Shakila merasa senang, tapi juga sedih karena itu artinya dia tak akan pernah melihat karyanya itu lagi – dan dia juga tidak punya kamera untuk mengambil foto karya-karyanya. Dia bahkan tidak menggunakan gunting untuk membuat kolase itu…

 

[LIPUTAN] ART|JOG|8 Infinity In Flux

Seperti yang sudah diberitakan di artikel sebelumnya, Kopling jalan-jalan lagi ke Yogyakarta untuk hadir ke perhelatan seni tahunan ART|JOG. Di edisinya yang ke-8, ART|JOG mengambil ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official