Jalan-jalan Jakarta pt.3

Kalo minggu lalu kopling merekomendasikan beberapa taman di Jakarta sebagai alternatif buat kamu wikenan, minggu ini Kopling mau ngebahas beberapa museum di Kawasan Kota Tua Batavia – Jakarta yang bisa kamu kunjungi wiken ini. Ini namanya jalan-jalan sekalian belajar tentang sejarah. Terhibur, sekaligus jadi nambah pinter. Keren kan?

Museum Wayang

Museum ini menyimpan koleksi wayang bukan cuma yang asalnya dari dalam negeri (Jawa, Sunda, Bali, Lombok, Sumatera), tapi juga yang berasal dari luar negeri (Malaysia, Suriname, Kelantan, Perancis, Kamboja, India, Pakistan, Vietnam, Inggis, Amerika dan Thailand). Jumlah koleksinya kurang lebih 5,147 buah. Sebagian memang dibeli sama Pemerintah kita, sebagian lagi hibahan, dan sebagian lagi sumbangan dan titipan. Barang yang dipamerkan juga ternyata bukan cuma wayang, tapi semua perlengkapan yang ada hubungannya sama wayang.

Wayang secara etimologi berasal dari kata ‘bayang-bayang’. Awalnya, Wayang ini dipake buat berkomunikasi sama roh leluhur atau nenek moyang, dan perantaranya disebut dalang. Jadi semacem handphone untuk ke alam lain gitu mungkin ya. Baru kemudian berkembang jadi sarana hiburan, pendidikan, media informasi, dan ajaran moral.

Museum Wayang ini udah ada sejak tahun 1975, dan sampe sekarang pun bangunannnya masih bergaya Neo Renaissance, meski pun udah beberapa kali dipugar. Sebelum jadi museum, gedung ini adalah gereja Belanda (Hollandse Kerk).

Pas kamu masuk ke dalam museum ini, kamu akan disambut sepasang Ondel-Ondel. Dan di antara semua jenis dan ragam wayang yang bakal kamu temui di sana, mungkin yang paling familiar buat kamu adalah si Unyil dan teman-temannya. Eh, Unyil itu juga termasuk Wayang Golek lho, sebenernya.

Di tengah gedung ada Taman Museum Wayang. Juga ada Ruang Punakawan yang biasanya dipake buat seminar, sarasehan, pergelaran, pertunjukan mini dll. Secara berkala, Museum Wayang menampilan pertunjukkan tiap jam 10.00 – 14.00 setiap hari Minggu ke-2 (Pergelaran Wayang Golek) dan hari Minggu terakhir (Pergelaran Wayang Kulit).

Museum Seni Rupa dan Keramik

Dulunya museum ini adalah gedung Raad van Justitie (Dewan Kehakiman pada masa pemerintahan Belanda), tapi terus pada masa pemerintahan Jepang, gedung ini berubah fungsi jadi asrama tentara dan tempat perbekalan. Keadaan ini berlangsung sampai Belanda menguasai Indonesia lagi dan oleh Belanda tetap dijadikan asrama tentara. Nah, tahun 1967-1973 gedung ini jadi kantor Walikota Jakarta Barat, tapi terus dipugar tahun 1974. Tahun 1967 gedung ini jadi Balai Seni Rupa Jakarta.

Museum Seni Rupa dan Keramik punya dua jenis koleksi, yaitu koleksi seni rupa dan koleksi keramik. Untuk koleksi seni rupa, mereka mempunyai lukisan, sketsa, patung, serta totem kayu. Dari koleksi-koleksinya ada beberapa koleksi yang mempunyai peran penting dalam sejarah perkembangan seni rupa di Indonesia, misalnya lukisan Seko karya S. Sudjojono, lukisan potret diri Affandi, dan lukisan Pengantin Revolusi karya Hendra Gunawan. Pokoknya kamu yang kerjanya di bidang seni kalo ke sini bisa seperti menemukan surga.

Penyusunan koleksi lukisan di museum ini sengaja dibuat banyak ruang yang dibuat sesuai periodisasi:

• Ruang Masa Raden Saleh (karya-karya periode 1880 – 1890)
• Ruang Masa Hindia Jelita (karya-karya periode 1920-an)
• Ruang Persagi (karya-karya periode 1930-an)
• Ruang Masa Pendudukan Jepang (karya-karya periode 1942 – 1945)
• Ruang Pendirian Sanggar (karya-karya periode 1945 – 1950)
• Ruang Sekitar Kelahiran Akademis Realisme (karya-karya periode 1950-an)
• Ruang Seni Rupa Baru Indonesia (karya-karya periode 1960 – sekarang)

Sementara untuk koleksi keramik, sama seperti Museum Sayang, koleksi di museum ini juga berasal dari dalam dan luar negeri. Ada koleksi keramik dari berbagai daerah di Indonesia seperti Medan, Aceh, Palembang, Lampung, Jakarta, Bandung, Purwakarta, Malang, dan lainnya. Selain itu juga ada koleksi keramik yang berasal dari luar negeri seperti Cina, Eropa, Jepang, Thailand.

Museum Fatahillah

Disebut juga sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia. Nah, ini “biangnya” museum di sini, karena memang yang paling terkenal. Sayangnya, museum ini sekarang lagi direnovasi dan baru dibuka lagi tahun depan (2014).

Dulunya, museum ini adalah Stadhuis atau Balai Kota. Bentuknya memang dibuat mirip Istana Dam di Amsterdam. Kebanyakan yang dipamerin di sini adalah koleksi tentang kebudayaan Betawi, termasuk becak, warung rokok, gerobak bakso, dan lain-lain.

Di lantai atas, ada jendela besar yang menghadap halaman depan. Dulunya halaman ini adalah alun-alun. Di sinilah dulu para pemimpin Belanda ngasih perintah untuk menjalankan hukuman mati. Wah, serem ya…

Di belakang museum ada Meriam Si Jagur yang nggak ada hubungannya sama nama artis. Meriam ini dianggap keramat, dan sampe sekarang kadang masih sering “diruwat”. Di sini juga ada patung Dewa Hermes, anaknya Dewa Zeus, yang adalah dewanya kaum pedagang. Mungkin karena itu memang di kawasan ini banyak pedagang yang sepertinya memang diberkahi sama si Dewa Hermes itu.

Di ruang bawah tanah ada penjara bawah tanah yang katanya terkenal angker. Di sini ada bola-bola besi yang gunanya untuk diikat di pergelangan kaki dan tangan tahanan Belanda supaya si tahanan nggak kabur. Ada cerita yang beredar bahwa kadang di malam hari kedengeran suara orang merintih di sini. Percaya nggak percaya sih. Tapi ya ngapain juga kan ke museum malam-malam?

 

Gimana? Seru kan? Punya referensi tempat jalan-jalan seru di kotamu? Boleh loh, kasih tau kita lewat comment box di bawah, atau mention di @KopiKeliling. Kalo mau berbaik hati nulisin buat Kopling kita bakalan lebih seneng lagi. Berbagi, sekaligus promosi. Ya nggak? Hehehe…

About author

joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official