How to Run a Movement/Community

Hari Rabu tanggal 17 September lalu Kopling ikutan kumpul-kumpul bareng tim Sketsaku, SUMMON Studio, dan Kultur Blender di Catalyst Art Shop yang berlokasi di Jalan Kemang Utara No 50, Jakarta Selatan untuk acara #TabungReaksi yang bertajuk Community Talk: How to Run a Movement or Community.

Di kegiatan ini, hadir beberapa teman, baik yang masih mahasiswa maupun yang udah kerja, yang tergabung dalam komunitas seni di kampusnya maupun di tempat kerjanya. Ada juga yang datang karena baru ingin memulai membuat komunitas sendiri di lingkungannya.

Tujuan dari kegiatan ini sebenarnya untuk memberikan gambaran bagi teman-teman di luar sana yang ingin membuat komunitas atau gerakan, serta untuk menjadi api penyemangat teman-teman yang udah menjalankan komunitas dengan memberikan berbagai tips supaya komunitas tersebut bisa berjalan dalam jangka waktu panjang.

Bagi yang udah pernah membuat atau terlibat di dalam komunitas, pasti udah tau bahwa membuat komunitas itu memerlukan tanggung jawab besar dan nggak akan berjalan kalau penggeraknya nggak membuat komitmen menghabiskan sebagian waktunya untuk “merawat” komunitas itu sendiri. Sama seperti membuat perusahaan, menjalankan komunitas itu perlu waktu, tenaga, dan (tentu saja yang nggak bisa dipungkiri) biaya.

Tabung-Reaksi

Sharing session beberapa komunitas berbasis visual di Catalyst Art Shop, Kemang. 

Kalau dilihat kilas balik ke belakang, baik Kopling, Sketsaku, SUMMON Studio, dan Kultur Blender awalnya memutuskan untuk membuat pergerakan karena diawali kesamaan interest di antara para penggeraknya. Kopling, misalnya, tumbuh karena melihat sepinya dunia seni-ilustrasi saat itu dan ingin menjadi wadah bagi teman-teman yang ingin berpameran. Kopling ini bukan komunitas, tapi sebuah pergerakan atau energi yang bisa diaplikasikan. Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata kopi juga menjadi simbol dari rasa nasionalisme, dari kekayaan alam Indonesia yang sangat ironis. Dari ketidaksengajaan itu terciptalah sebuah kolaborasi kopi dan seni yang menarik.

Sementara Sketsaku muncul karena ingin menjadi wadah bagi siapapun yang ingin menyalurkan atau mengutarakan karyanya sambil mendapatkan respon dari orang lain. “Berapa jumlah individu yang tergabung di dalam Sketsaku itu nggak begitu penting. Yang penting adalah kualitas individunya,” ujar Septian Fajrianto, salah satu penggagas Sketsaku. Willy, penggagas Sketsaku yang lain, menambahkan, komunitas ini mencoba membuat kegiatan menggambar jadi sesuatu yang menyenangkan buat semua orang.

SUMMON Studio, yang kini beranggotakan Mahendra Nazar dan Raden Mas Dira, juga tumbuh dari hobi menggambar para anggotanya dan sempat menggunakan nama lain sebelumnya. Meskipun begitu, hingga kini visi dan misi SUMMON Studio tetap sama, yaitu membuka kesempatan kepada siapapun yang ingin berkarya, terlepas dari apakah profesi mereka berlatar belakang bidang kreatif maupun bukan. Sedikit berbeda dari yang lain, David Tandayu dari Kultur Blender dengan tegas menyatakan bahwa Kultur Blender didirikan karena ingin ikut andil dalam meningkatkan kualitas industri kreatif di dalam negeri.

Nah, ketika komunitas/gerakan udah berdiri, tantangan selanjutnya adalah bagaimana mempertahankan komunitas tersebut/gerakan tersebut. Selain diibaratkan sebagai perusahaan, sepertinya sih mendirikan komunitas/gerakan itu bisa diibaratkan juga kayak orang pacaran. Berhasil jadian bukan berarti ceritanya selesai, tapi gimana caranya supaya benih-benih cinta itu tetap tumbuh. Setelah itu baru hubungan bisa berlanjut ke tahap berikutnya, dan terus meningkat. Tapi kan ya namanya cek-cok itu bisa terjadi di tengah-tengah hubungan, makanya jumlah penggerak di awal pun bisa silih berganti seiring dengan berjalannya waktu. Wajar. Yang penting adalah mempertahankan supaya semangatnya tetap sama dan kompornya tetap ada, agar bisa terjadi regenerasi.

Gimana caranya supaya kompor itu tetap menyala? Jawabannya ya para penggeraknya harus nggak boleh capek menyuarakan visi misi komunitas/gerakan kepada semua orang. Ketika bertemu dengan orang lain, jangan segan-segan untuk membanggakan bendera komunitas/gerakan dan jangan putus asa ketika mereka nggak mendengarkan, karena di suatu tempat di suatu waktu pasti akan ada orang yang sejalan dengan komunitas/gerakan yang kita buat. Ketika gagasan yang diangkat memang bermanfaat dan jelas seperti apa bayangan masa depannya, biasanya orang pasti akan datang mendukung.

Struktur organisasi juga sangat penting, karena nanti ada kaitannya dengan program-program yang akan diadakan. Struktur inilah yang akan berfungsi sebagai kontrol untuk melihat apakah kelompok tersebut masih layak diterima oleh masyarakat, atau apakah kelompok tersebut masih luwes untuk bergerak ke tempat yang lain. Dengan membuat struktur, peran masing-masing anggota di sebuah komunitas/gerakan juga jelas, jadi nggak akan terjadi tumpang tindih atau adu kekuasaan.

Yang nggak kalah penting adalah kolaborasi, atau bermain dengan komunitas/penggerak lain. Memiliki jaringan adalah salah satu hal terpenting dalam mempertahankan kelangsungan hidup komunitas/gerakan. Banyak banget kemudahan yang bisa kita dapet ketika kita mengenal dan dikenal oleh banyak orang. Jangan pernah bergerak sendirian, karena satu suara besar lebih baik daripada banyak suara namun kecil dan berceceran di beberapa tempat.

Nah, kamu sendiri mendirikan atau tergabung di dalam komunitas/gerakan apa sih? Kasih tau Kopling dong, siapa tau kita bisa kolaborasi lebih lanjut!

About author

Street Eraser

Kehilangan dan kesalahan yang kita buat adalah sebuah seni kehidupan. Dan tanpa keduanya, gambaran tentang hidup akan menjadi kurang utuh. Kehilangan dan kesalahan adalah bagian ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official