Catalyst Art Market 6: Tenant Lineup pt.1

Dalam hitungan minggu acara Catalyst Art Market 6 akan diadakan, tepatnya di tanggal 30 April – 1 Mei 2016! Sebelum sampai hari H, Kopling mau mengajak kamu semua untuk kenalan dulu satu per satu dengan artist/ilustrator/brand kreatif yang berpartisipasi. Yuk!

1. Nrsimha

 

Didirikan oleh tiga orang lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB), yaitu Ngurah Pandu, Made Sutha, dan Cokorda Suryanata, pada tahun 2012, Nrsimha adalah sebuah brand yang fokus mengangkat kearifan lokal Indonesia melalui hasil karya tangan ilustrator, desainer, crafter, dan maker lokal. “Nama Nrsimha berasal dari bahasa sansekerta, yaitu nara, yang artinya manusia, dan simha, yang artinya singa. Jadi, Nrsimha ini dimanifestasikan sebagai half man-half lion, manusia yang menjadi raja hutan untuk melindungi alam dan semua makhluk hidup yang tinggal di dalamnya,” papar Pandu.

Pandu juga mengatakan, produk utama Nrsimha adalah daily wear dan lifestyle product supaya pesan-pesan yang ingin disampaikan ke dalam setiap ilustrasi lebih mudah dicapai generasi muda. “Warna monokrom adalah warna yang nggak pernah mati, nggak pernah tergilas oleh waktu. Begitu juga pesan dan nilai yang ingin kami sampaikan semoga nggak lekang dimakan jaman,” harap Pandu.

Kalau kamu perhatikan, ilustrasi yang ada di dalam produk-produk Nrsimha selalu menggambarkan binatang endemik Indonesia yang terancam punah dan digambar tangan dengan teknik pointilisme, cross-hatching, atau watercolor. “Kami ingin meningkatkan awareness generasi muda untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan menjaga alam yang merupakan habitat mereka. Pada kenyataannya mereka terancam punah karena ekspansi dan perburuan liar manusia,” ujar Pandu.

Ia menambahkan, meskipun metode pembuatannya sama seperti brand clothing lainnya, yaitu menggunakan teknik sablon, yang membedakan adalah semua ilustrasi Nrsimha merupakan gambar tangan yang dibuat secara detail dan mengandung filosofi berbeda-beda. “Butuh waktu cukup lama untuk mengedukasi pasar bahwa produk kami dibuat melalui proses yang rumit dan dilakukan hampir 90% secara manual termasuk screen printing-nya,” jelasnya. Hal ini memang sebuah tantangan tersendiri bagi Nrsimha, namun tidak menyurutkan semangat mereka. Ke depannya, Nrsimha ingin memperluas jenis produknya dengan membuat doodling book, artsy scarf, dan bomber jacket.

2. Obie Indonesia

 

 

“Obie ini terbentuk secara mendadak, tapi ada sebuah planning yang tertata secara sistematis,” ujar Dewi Tobing, founder Obie Indonesia. Berawal dari stres saat sedang mengerjakan tugas akhir, Dewi akhirnya memutuskan untuk menggambar setiap hari dan mengikuti pameran untuk pertama kalinya. Dari situlah ia terpikir untuk membuat sesuatu yang bisa dijual dari karya-karya yang ia buat, dan terciptalah Obie Indonesia.

Pada awalnya, Obie Indonesia menyediakan beberapa produk seperti art print, notebook, t-shirt, dan tote bag. Nggak puas sampai di situ, Dewi ingin orang-orang bisa menikmati karyanya dalam bentuk tiga dimensi, dan lahirlah boneka-boneka kayu yang menjadi produk andalannya juga hingga kini. Obie Indonesia identik dengan warna hitam-putih, warna favorit Dewi. Bukannya nggak mau keluar dari warna tersebut, tapi Dewi ingin menghasilkan karya dan produk berkualitas yang benar-benar matang. “Percuma menghasilkan gambar yang oke tapi produknya nggak bagus kan. Jadi, Obie memang benar-benar mematangkan kualitas dari berbagai sisi, seperti brandpackaging, dan produknya,” kata Dewi.

Sebagai pendatang baru di dunia ilustrasi, Dewi mengaku cukup kaget karena karya dan produknya bisa diterima dengan sangat baik. Ke depannya, ia ingin mengembangkan produk yang berkaitan dengan home & living.

3. SROU Studio x Kara Andarini

 

“SROU diambil dari bahasa Sansekerta, Sru, yang berarti seru. Hal ini menggambarkan keseruan yang terjadi saat proses pembuatan hingga hasil akhir,” kata creative director SROU, Nabila Delaseptina, yang merupakan lulusan Kriya Tekstil Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia sangat tertarik dengan surface design, terutama manipulating fabric. Nabila suka melakukan eksplorasi tekstur yang dapat dihasilkan dari selembar kain polos. “Saya percaya sebuah produk nggak hanya bisa dinikmati oleh indra penglihatan, namun juga indra peraba. Karena itulah SROU banyak bermain dengan tekstur,” jelas Nabila. Produk utama SROU adalah kain yang diaplikasikan pada produk home and living, seperti bantal, pouch, dan artwork. SROU ingin membuat inovasi

Untuk melengkapi bentuk, SROU juga bermain dengan warna. “Setiap warna dicampur secara manual, sehingga memberi efek yang berbeda-beda,” tambahnya. SROU percaya bahwa eksplorasi tekstil dan efek tactile akan terus berkembang. “Untuk ke depannya, SROU akan terus bereksplorasi dengan teknik surface design yang berbeda-beda,” kata Nabila.

Sementara itu, Kara Andarini merupakan seniman dan ilustrator lulusan Seni Grafis ITB yang sejak masa kuliah sangat tertarik dengan elemen garis dan tekstur, khususnya pada medium drawing. Eksplorasi yang menjadi ketertarikannya di antaranya adalah tarikan garis, tekanan pena di atas kertas, hingga ke arsir yang merespon permukaan kertas untuk menghasilkan tekstur beragam. “Ketertarikan itu juga yang menggiring saya ke beberapa projek seni yang didasari dengan medium drawing,” kata Kara. Ia pun menambahkan, architectural drawing dan bentuk organis dari alam merupakan inspirasi visual yang suka ia eksplor. Kesamaan interest pada eksplorasi bentuk, warna, dan tekstur di antara SROU dan Kara membawa keduanya untuk kolaborasi dan menghasilkan produk yang unik dan sangat indah.

About author

Cempaka Surakusumah

Desainer Grafis yang bekerja di Thinkingroom Inc. ini suka menekuni kegiatan lain di luar bidang desain grafis yang dijalaninya seperti tari nusantara, khususnya tari Betawi, ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official