Dazzling Hill

Bagi orang Bandung, Selasar Sunaryo Coffee and Art Space tentu tidak asing. Kompleks seluas 5000 meter2 di perbukitan Dago Pakar dengan pemandangan keren ini adalah salah satu pusat kebudayaan dan kesenian Indonesia, yang kedai kopinya juga menjadi salah satu tempat hang out favorit di Bandung. Nama Drs. Sunaryo sendiri dikenal luas sebagai salah satu seniman senior Indonesia yang disegani.

Pada tanggal 5 September lalu, Selasar Sunaryo Art Space merayakan ulang tahunnya yang ke-14. Berkenaan dengan hari jadinya, diadakan sebuah acara bertajuk URBANITE Dazzling Hill pada tanggal 8 September. Acara musik ini dihelat pada amfiteater terbuka Selasar Sunaryo, menghadirkan band-band lokal ternama.

Acara dibuka dengan kemunculan Cascade, band ‘lulusan’ LA Lights Indiefest 2007. Musiknya yang merupakan gabungan dari Pink Floyd, Cocteau Twins, My Bloody Valentine, Mew, Rush, dan Ride, menghangatkan suasana perbukitan Bandung yang terasa cukup dingin malam itu, walaupun penuh sesak dengan penonton karena tiket yang dibanderol harga 25 ribu rupiah sold out. Setelah Cascade, muncul duo ensemble Missions Possible dengan organ (organ Hammond-nya keren banget, deh! Hehehe) dan gebukan drum-nya. Sambil membawakan lagu antara lain soundtrack Mission Impossible dan Pink Panther dengan jenaka namun cukup membius, Lucky, sang pemain organ (yang disebut oleh Iyo, vokalis Pure Saturday, sebagai ‘dedengkot’ kancah dunia indie Bandung) cukup mencairkan suasana dengan lelucon-lelucon yang dilontarkan dengan wajah datar.

Acara dilanjutkan oleh Individual Life, band instrumental asal Yogyakarta yang beranggotakan 8 orang. Musik post-rock yang dibawakan mereka terdengar syahdu, menyatu dengan udara Selasar Sunaryo. Menjelang pukul 10 malam, muncullah salah satu yang paling ditunggu malam itu, Payung Teduh! Sebagian besar penonton segera seperti tersihir, ikut bernyanyi hampir dalam semua lagu yang dibawakan termasuk lagu-lagu hits-nya seperti Berdua Saja dan Perempuan Dalam Pelukan. Sayangnya karena waktu terbatas, Payung Teduh hanya sempat membawakan 5 lagu. Penonton tampak kecewa, tapi cukup terhibur dengan permainan musik mereka yang tetap maksimal seperti biasa.

Acara malam itu ditutup oleh penampilan Pure Saturday, salah satu band yang disegani di Indonesia. Selain membawakan lagu-lagu hits-nya seperti Kosong dan Desire, band ini juga membagikan CD dan merchandise dengan melemparkannya pada penonton yang antusias.

Selain penampilan seluruh band yang memukau, acara dibawakan oleh duo MC Iqbal Ramadhan dan Felicia Mukti yang menjadi elemen penting malam itu dengan banyolan (lelucon dalam bahasa Sunda) yang sukses mengocok perut penonton. Walaupun Kopi Selasar tidak menyediakan menu reguler, tersedia paket minuman yang terdiri dari pilihan cappuccino, hot chocolate, atau cafe latte dengan french fries.

Satu akhir minggu yang menyenangkan di Bandung dengan art space, kopi, dan musik berkualitas. Sempurna.

 

About author

Sejarah French Press

Pada jaman dahulu kala, ada seorang lelaki tua yang hidup di Provence. Lelaki tua ini selalu berjalan mendaki bukit setiap hari, untuk menghindari istrinya yang ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official