The Ephemeral Art

If you don’t take take to stop and listen, then that moment is not grasped but gone forever.” ~Richard Shilling.

 

Sebelum manusia bisa menciptakan benda-benda sintetis yang cantik, alam dengan sendirinya sudah memberikan keindahan alami yang luar biasa. Hanya saja, nggak seperti benda-benda sintetis yang kecantikannya bisa bertahan lama dan bahkan terus-menerus, sebagian besar keindahan alam hanya bisa dinikmati sesaat atau sementara waktu hingga saatnya memudar.

Richard Shilling adalah salah satu seniman asal Inggris yang ingin mengabadikan bentuk-bentuk keindahan alam tersebut sebelum akhirnya pudar. Menyebut dirinya seorang land artist, ia membuat karya seni dari benda-benda yang terdapat di alam sekitar seperti batu, batang pohon, atau daun untuk menghasilkan land art, sebuah karya seni yang nggak abadi. Dalam pembuatannya, Shilling sama sekali nggak memakai lem atau tali dan beberapa karyanya hanya bisa bertahan selama beberapa menit sebelum akhirnya disapu oleh angin atau perubahan kondisi cuaca lainnya.

Perjalanan sebagai land artist diawali oleh kekaguman Shilling akan karya land art maestro Andy Goldsworthy. Beberapa tahun yang lalu, Shilling sedang berjalan-jalan di sebuah bukit dan menemukan struktur yang luar biasa indah terbuat dari batu. Saat itu ia bertanya-tanya kenapa struktur batu itu bisa berada di tengah-tengah ladang. Nggak lama kemudian ia mengetahui kalau struktur batu itu dibuat oleh Andy Goldsworthy. Sejak itu ia merasa sangat terinspirasi dan lahirlah seorang lagi land artist.

Karya-karya Shilling sangat cantik, terlihat dari variasi pola dan warna yang sangat menyala ketika dihadapkan ke cahaya matahari. Menurutnya, kesempurnaan hasil karyanya tergantung dari ketepatan waktu. Shilling berhasil mendapatkan momen yang tepat untuk mengabadikan karya “4 Colour Sun Wheel” ke dalam sebuah foto, karena beberapa menit kemudian sinar mataharinya berkurang sehingga hasilnya akan kurang bagus untuk ditangkap oleh kamera.

 

 

 

 

 

 

Bagi Shilling, karya-karyanya lebih dari sekedar menyusun daun, batu, cabang pohon, dan buah. Karya Shilling adalahsebuah metafora kehidupan di mana ia bercerita mengenai proses, cara pembuatan, perasaan yang dikeluarkan, dan segala sesuatu yang dilihat oleh mata.

Selesai melihat karya-karya Richard Shilling, saya jadi membayangkan sedang duduk di sebuah taman dan memandang daun berwarna-warni yang berguguran dihempas oleh angin sore sambil mendengarkan sebuah lagu dari She & Him. “I somehow see what’s beautiful in things that are ephemeral…

Nah, keindahan alam apa yang paling kamu suka?

 

Artikel oleh: @Patipatigulipat

 

About author

Neapolitan, Pot Kopi Jadul dari Italia

Salah satu alat pembuat kopi yang boleh dibilang antik karena punya sejarah yang panjang adalah Neapolitan flip coffee pot. Alat pembuat kopi ini disebut “napoletana” ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official