Taiwan, Sebuah Pulau Dengan Kultur Kopi Dengan Banyak Pengaruh

Seperti halnya badai yang melanda Taiwan setiap tahunnya, negara pulau dengan 23 juta penduduk ini memiliki kultur kopi dengan gelombang pengalaman yang merupakan hasil pengaruh dari Jepang, Korea, Tiongkok, Hong Kong dan Amerika. Meskipun skena kopi Taiwan merupakan pertentangan dan juga amalgamasi dari berbagai  kebudayaan, namun juga memiliki semangat pionirnya sendiri.

Taiwan memiliki romansa yang panjang dengan kopi. Dimulai sebagai hasil kolonisasi Jepang dari tahun 1895 hingga 1945. Di periode modernisasi Kepang, Restorasi Meiji (1868 hingga 1912), banyak mahasiswa Jepang yang berangkat ke Eropa dan Amerika untuk belajar kajian limiah baru dan juga perkembangan kebudayaan. Sebagai hasilnya, konsep coffee shop dan juga bermacam-macam metode coffee brewing termasuk syphon di bawa ke Jepang, dan pada akhirnya diperkenalkan di Taiwan.

Van Lin (sumber gambar: google plus)

Menurut Van Lin, salah satu pendiri  Gabee Café, kultur kopi modern Taiwan juga merefleksikan sejarahnya. “Pada tahun 1949, setelah Perang Dunia II, perang saudara Tiongkok berakhir dengan beringsutnya Kuomintang (Partai Nasionalis Tiongkok) dari daratan utama ke Taiwan, “jelasnya. “Migrasi massal dari orang-orang dengan etnis yang bermacam-macam dengan tradisi kuliner yang berbeda-beda pula, telah mengubah Taiwan menjadi sebuah melting pot dari banyak ide masakan. Café-café yang ada di sini (Taiwan, red) tidak hanya saling bersaing dalam kualitas kopi mereka, namun juga ada kecendrungan dari tiap café untuk mengkreasikan minuman khas mereka sendiri. Sebagai hasilnya, café mandiri yang ada di sini kerap berpetualang dengan bahan-bahan yang diperlukan saat membuat minuman khas tersebut.”

Gabee Café, Taiwan (sumber gambar: log.roodo.com)

Sebagai contoh, kopi kas milik Van di Gabee Café adalah Caffé Batata, sebuah minuman menggoda yang menggunakan campuran yang tak biasa antara espresso dengan ubi rambat yang dihaluskan, dan potongan kentang yang dikaramelisasi sebagai penghias, gula jawa, dan kemudian dimahkotai dengan whipped cream, serpihan jahe dan biji kopi yang telah diroast. Meski terdengar aneh dan tak biasa, minuman inilah yang mengantarkan Van sebagai pemenang Taiwan Barista Championship di tahun 2006.

Di tiga tahun terakhir ini, industri kopi Taiwan telah membangkitkan gelombang ketertarikan di antara kalangan awam, sampai kepada toko-toko franchise dan convenience store telah meminjam konsep specialty coffee untuk mempromosikan produk-produk kopi dengan mutu yang lebih rendah milik mereka.

Industri kopi Taiwan dalam skala luas didefinisikan oleh kualitas, harga dan juga jam buka gerai. Gerai dengan kelas yang lebih bawah didominasi oleh convenience store yang buka 24 jam dengan pengaruh yang besar, dan harga kopi yang dijual adalah sekitar $2 per-cangkir. Gerai restoran cepat saji dan franchise kopi, yang bisanya buka mulai jam 6 pagi, menjual kopi dengan kisaran harga antara $3 hingga $5.

Penulis: Haris Fadli Pasaribu

Initiated Project

Pameran Kolektif dari: Akhmad Aditya Renanto, Kancata, Listya Amelia, Lendy Johnny, Nugraha Pratama, Willow and Wod, Zulfikar Arief. iCreate Gallery, Grand Indonesia 12-31 Mei 2012.
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official