Espresso dan Revolusi Kopi

l_67_espresso-cup-226-(1)

Tanpa harus dipromosikan lagi, kita semua tahu betapa nikmatnya minuman yang bernama espresso itu: rasanya, aromanya, kelembutannya. Tapi hanya biji kopi yang berkualitaslah yang akan menghasilkan secangkir espresso yang nikmat. Tapi ternyata itu nggak cukup, karena proses pemanggangan biji kopi, penggilingan, sampai penyeduhannya juga harus tepat dan dilakukan oleh orang yang berpengalaman.

Meskipun kopi itu nggak kalah kerennya dengan wine dan proses produksinya sama rumitnya, tapi ada bedanya. Produksi pembuatan wine itu sudah selesai saat wine keluar dari pabrik, tapi kopi nggak begitu. Kopi nggak bisa langsung diminum seperti wine saat keluar dari pabrik. Wine bisa langsung dinikmati dengan cara membuka botolnya, tapi kopi masih butuh perjalanan panjang untuk hadir di atas sebuah meja makan. Meskipun biji kopi itu berasal dari kebun kopi terbaik di dunia, kalau cara penyeduhannya salah, ya semuanya akan sia-sia. Proses akhir pembuatan kopi itu sama pentingnya dengan kualitas si biji kopi. Jadi dalam pembuatan kopi yang enak, yang dibutuhkan adalah biji kopi yang baik, skill dan teknik pembuatan kopi yang tepat, juga pengetahuan tentang kopi. Lebih rumit kan?

Tapi sebenarnya, kopi yang terbaik itu yang ditanam oleh siapa? Kebanyakan, kopi yang seperti ini ditanam oleh para petani kecil dan mereka hanya dapat melakukan panen secara musiman. Nggak heran harganya jadi lebih mahal dibanding dengan kopi yang ditanam oleh perusahaan besar. Membeli barang di butik yang jumlahnya terbatas dan pembuatannya lebih rapi tentunya juga lebih mahal dari barang yang kita beli di pasar, bukan?

Hubungan Antara Espresso dengan Third Wave Coffee

Espresso tradisional yang dulu kebanyakan diminum oleh orang Italia itu biasanya dibuat lebih “nggak serius” ketimbang espresso yang sekarang kita kenal. Baik kualitas biji kopinya, kesegarannya. cara pembuatannya, nggak serapi dan seteliti espresso masa kini. Perbedaan lainnya adalah pembuatan espresso jaman dulu itu lebih tertutup. Resepnya hanya diketahui oleh para pembuat kopi yang semuanya orang Italia itu, juga konsumen nggak akan bisa tahu dari mana biji kopi yang menjadi bahan espresso yang mereka minum itu berasal.

Setelah muncul Third Wave Coffee, espresso hanya dibuat dari biji kopi Arabika yang berkualitas, dan asalnya pun dapat dilacak, lebih transparan. Adalah suatu kebanggaan bagi pemilik coffee shop juga para barista kalau mereka dapat menghadirkan minuman kopi yang terbuat dari biji kopi berkualitas, sama bangganya dengan pemilik restoran yang mampu untuk menyuguhkan daging yang segar untuk para pelanggannya. Biji kopi yang digunakan untuk membuat espresso oleh para artisan ini harus segar, yang baru dipanggang kurang dari 2-4 minggu sebelumnya.

Hal lainnya yang berubah karena adanya Third Wave Coffee ini adalah metode pembuatan espresso yang lebih beragam, dengan alat yang dikeluarkan oleh berbagai pabrik. Tapi tujuannya hanya satu: membuat secangkir kopi yang nikmat dan kualitasnya dapat dipertanggungjawabkan.

Di era Third Wave Coffee ini juga hadir berbagai varian dari espresso yang tadinya nggak pernah ada. Meskipun ada pihak-pihak yang menuduh gerakan ini gerakan sok elit, sebenarnya gerakan ini hanya bertujuan untuk menghadirkan kopi yang lebih enak. Itu saja.

Betapa beruntungnya kita yang hidup di masa Third Wave Coffee ini!

Sumber gambar: Fine Dining Lovers

Coffeebeerian

Awal September ini Kopling dapat undangan dari teman Kopling Coffeebeerian, sebuah café yang terletak di kawasan Panglima Polim, Jakarta Selatan. Walau sudah buka sejak beberapa bulan, ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official