A Study of Light

 “Light is knowledge, knowledge is love, love is freedom, freedom is energy, energy is all. Without a doubt without light you can’t have images” – Vittorio Storaro – ‘Cinematographer’s Style’

Ada pameran seru nih di awal tahun. Judulnya “A Study of Light”. Menarik banget ya judulnya? Sesuai dengan judulnya, pameran ini adalah sebuah studi mengenai beragam cahaya yang mempengaruhi emosi manusia di malam hari. Setiap karya yang dipamerkan akan mengeksplorasi beragam penerapan cahaya (warna, hitam dan putih, sebuah scene yang direkam hanya dengan menggunakan lilin sebagai sumber cahaya, lampu fluorescent, lampu kota, dan lainnya) sekaligus memberikan penghormatan bagi “penenun cahaya” dan desainer visual selama 50 tahun terakhir seperti Bertolucci, Tim Walker, Paolo Roversi, Man Ray, dan Wong Kar Wai.

Proyek ini terdiri dari 4 medium yang berbeda; film pendek, foto, lukisan, dan instalasi cahaya, fashion dengan tehnik tenun, seni, dan keindahan bersama, namun mempunyai interpretasi nya sendiri mengenai cara kita menggunakan cahaya untuk menciptakan keindahan.

Keempat seniman kemudian akan menciptakan sebuah karya yang menggabungkan keahlian mereka dan menjalin sebuah interpretasi cahaya, yang akan menjadi poin utama dalam proses ‘studi’ tersebut. Walau menggunakan medium yang berbeda, hampir semua seniman mempunyai latar belakang fesyen dan mempunyai ketertarikan yang dalam terhadap fesyen dan perempuan, menghasilkan sebuah karya yang stylish.

 

“A Study of Light”

Stephanie Arifin, Gerry Habir, Advan Matthew, Talitha Maranila,
dikurasi oleh LIAISON PROJECT.

13th – 20th January 2013*
Dia.Lo.Gue Artspace, jalan Kemang Selatan 99A.

*Eksklusif untuk media dan pers pada tanggal 12 Januari // dibuka untuk umum mulai tanggal 13 Januari // pesta penutupan pada tanggal 20 Januari.

 

Abdul Dermawan Habir

Abdul Dermawan Habir yang lebih akrab dipanggil Gerry ini mempunyai passion yang sangat besar di film. Pria kelahiran Jakarta tahun 1985 ini kuliah dan mendapatkan gelar Bachelor of Art di School of Audio Engineering (SAE) Byron Bay, Australia. Setelah lulus Gerry magang di bagian departemen kamera di salah satu produksi serial TV Australia berjudul “East of Everything”. Pada tahun 2008 Gerry kembali ke Jakarta dan memproduksi film pendek bersama Gareth Evans (The Raid) dan Timo Tjahjanto (Rumah Dara) yang berjudul “Save Haven”. Film ini menjadi salah satu segmen dalam omnibus internasional berjudul S-VHS. Gerry baru saja menyelesaikan pekerjaan sebagai asisten kamera dalam film panjang Mo Brothers yang berjudul “Killers”.

Advan Matthew

Advan Matthew adalah pria kelahiran tahun 1988. Ia pertama kali berkenalan dengan musik melalui piano dan vokal, serta pengalaman hidupnya sewaktu bersekolah di SMA di Amerika yang banyak berfokus pada musik, terutama band jazz, paduan suara, chorus, dan orkestra simfoni. Di tahun 2009, ia meneruskan sekolahnya ke universitas di Perth, Australia. Dari situ ia mulai belajar seni fotografi fesyen yang tak lama kemudian menjadi usahanya. Bagi Advan, semuanya berlangsung dengan sangat cepat, mulai dari musik ke fotografi. Yang ia tahu adalah ia tidak pernah melihat ke belakang. Sebagian besar hasil karya Advan mengambil tema feminitas dengan hasil akhir yang berani. Ia banyak terinspirasi dari berbagai tokoh perempuan, haute couture, baroque era, classical repertoires, dan old master classic portraits. Advan percaya bahwa dalam fotografi fesyen, imajinasi bisa tumbuh melampaui teknik dan seorang fotografer fesyen harus terus berkembang seiring dengan perkembangan desain dan tren, serta yang terpenting adalah harus menyisakan ruang untuk bermimpi. Di pameran Advan selanjutnya yang berjudul “GRAY”, sebagai bagian dari pameran seni multidisiplin “A Study of Light”, ia memamerkan 25 karya terbaru dengan Ambiguitas Jenis Kelamin sebagai tema utamanya.

Stephanie Erlita Arifin

Stephanie lahir pada tahun 1988 di keluarga yang tidak memiliki spesialisasi atau latar belakang seni maupun fesyen, namun sangat memiliki passion dan pengetahuan yang luas tentang kedua bidang tersebut. Ia belajar sejarah seni dan fesyen secara otodidak. Setelah berhasil memperoleh gelar sarjana S-1 Desain Komunikasi Visual dari University of Technology, Sydney, di tahun 2008, Stephanie mendapatkan sudut pandang dunia yang lebih artistik dan melihat semua hal secara artistik dan kreatif, namun ia tetap tidak bisa melarikan diri dari passion-nya. Ia memutuskan untuk mengejar mimpinya di bidang fesyen dan melanjutkan mengambil S-2 Brand Management di instituto Marangoni, Paris, pada tahun 2011. Setelahnya, ia menjadi manajer pemasaran dan pembeli untuk sebuah toko pakaian pria kecil di Jakarta.

Stephanie juga telah menyutradarai beberapa film seperti Euphoria (2010) dan film karyanya sendiri, The Fates (2009), serta menjadi stylist dan art director beberapa spread majalah dan film pendek. Proyek Study of Light ini sebenarnya ide Stephanie sebagai sebuah film pendek untuk mencegah ia dari kebosanan. Proyek ini kemudian semakin besar dan ia tidak pernah menyadari sebelumnya bahwa acara ini bisa menjadi pameran seni pertamanya. Suatu saat nanti, ia berharap bisa menjadi sutradara seni dan fesyen untuk film yang paling banyak dicari di Indonesia, atau bahkan dunia.

Talitha Nashtiti Maranila

Talitha Nashtiti Maranila lahir tanggal 15 Oktober 1990. Di usianya yang masih terbilang muda, ia telah menunjukkan ketertarikannya akan segala sesuatu yang berhubungan dengan seni karena ia lebih menikmati menggambar daripada bergumul dengan angka-angka. Ia selalu tertarik dengan sesuatu yang feminin dan unik. Dua hal tersebut kemudian menjadi sesuatu yang selalu ditemui di setiap karya-karyanya yang kebanyakan mengambil gambar perempuan dengan karakter warna kesukaannya. Ia baru saja menyelesaikan kuliah Fashion Business di Lasalle College Jakarta dan akan wisuda di bulan April 2013. Inspirasi Talitha biasanya datang dari foto-foto tua yang cantik, percakapan/dialog/adegan film, sebuah peristiwa, kenangan-kenangan yang ia ingat dan seniman kesukaannya. Kecintaannya akan film dan fesyen tertuang saat ia menjadi art director dan costume designer film Study of Light. Talitha menjadikan lukisan, ilustrasi, dan gambarnya sebagai sebuah media yang dapat menangkap emosi, kenangan, dan pikirannya akan segala sesuatu. Di pameran selanjutnya yang berjudul “PENUMBRA”, sebagai bagian dari pameran seni multidisiplin, Talitha memamerkan 3 lukisan terbaru akrilik di kanvas. Talitha mencoba menyampaikan gagasan Penumbra sebagai salah satu sisi manusia yang selalu ingin disembunyikan.

 

About author

Catalyst Art Market Bali

Kosongin jadwal kamu di pertengahan bulan September, karena Kopi Keliling bersama dengan Catalyst Arts akan mengadakan keriaan ini: Catalyst Art Market Bali 10-11 September 2016 ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official