[LIPUTAN] Artjog14, Legacies of Power

Perhelatan akbar seni tahunan Artjog kembali digelar di bulan Juni 2014. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pelataran Taman Budaya Yogyakarta disulap menjadi karya raksasa yang selalu sulit untuk dilupakan. Tahun ini gilirannya Samsul Arifin, seorang seniman kelahiran Malang untuk memukau pengunjung Artjog. Karya yang dibuatnya berjudul “Goni Cabinet”, 150 figur boneka goni seukuran tubuh manusia yang disusun secara hierarkis layaknya struktur kekuasaan. Karya tersebut merupakan satire terhadap para wakil rakyat dalam kabinet.

Samsul sudah terkenal menggunakan boneka dan alat tulis dalam berkarya. Alat tulis baginya merupakan sarana untuk mengenal ilmu pengetahuan, dan boneka adalah personifikasi figur bodoh dan tersudutkan. Pemilihan bahan goni untuk karakter imajinernya yang bernama Goni itu pun sarat akan makna. Menurutnya, goni memiliki sejarah dan karakter yang menarik. Goni biasa digunakan sebagai wadah sejumlah komoditas seperti beras atau kopi. Goni juga lekat dengan kemiskinan dan kesulitan, dan kerap dijadikan pakaian pada zaman penjajahan.

Pameran-artjog14-yogyakarta-2

Ticket Box Artjog14 dan pintu masuk area pameran di bawah karya komisi “Goni Cabinet”

Yang berbeda dari Artjog kali ini adalah kehadiran ticket box yang menjual tiket masuk sebesar 10,000 rupiah. Konon, menjadikan Artjog acara berbayar sempat ditentang oleh beberapa pihak. Tim penyelenggara pun sempat mengkhawatirkan kalau hal itu bisa mempengaruhi jumlah pengunjung. Tapi ternyata TIDAK! Jumlah pengunjung lebih banyak dari sebelum-sebelumnya. Bahkan sempat ada pernyataan “setiap hari seperti hari pembukaan pameran” keluar dari beberapa seniman Yogyakarta yang sempat Kopling temuin selama di sana.

Pameran-artjog14-yogyakarta-5

Suasana ruang pamer yang penuh dengan pengunjung di minggu ke-2 Artjog14

Tema Artjog kali ini adalah Legacies of Power. Menurut sang Kurator pameran, Bambang ‘Toko’ Witjaksono, sebagai bangsa kita akan mengalami peristiwa besar dan penting di tahun 2014 ini, yaitu Pemilihan Umum, dengan pemilihan presiden baru sebagai puncaknya.

Pergantian kekuasaan di Indonesia dalam dekade terakhir diwarnai oleh maraknya kasus korupsi partai yang mengakibatkan turunnya kepercayaan rakyat dan rendahnya pertumbuhan ekonomi. Maka dari itu kita perlu memahami sejarah untuk dapat memandang masa depan. Lewat pameran ini, kita diajak melihat kembali sejarah peralihan kekuasaan di Indonesia, baik yang terjadi melalui konfrontasi, diplomasi, maupun pemilihan umum.

Tahun 2014 ini adalah momen pergantian pemimpin yang juga dipandang sebagai manifestasi suara rakyat. Harapan dan cita-cita digantungkan pada sang pemimpin baru, sang superhero yang seolah akan mampu menyelesaikan seluruh problem negara.  Apakah 2014 akan menjadi titik balik bagi Indonesia? atau akankah kita terus terpuruk?

Pameran-artjog14-yogyakarta-6

Hendra ‘Blankon’ Priyadhani “Celebration” Mixed media, assemblage variable dimensions (14 pieces), 2014

Pameran-artjog14-yogyakarta-7

Detail karya “Celebration”

Pameran-artjog14-yogyakarta-4

Arya Pandjalu “Shield” Papier-mache, stainless steel, auto paint, 190 x 168 x 95 cm, 2014

Pameran-artjog14-yogyakarta-10

K. Agustian E a.k.a Oel Gustian “People United” Collage of acrylic canvas, 110 x 100 cm, 2014

Pameran-artjog14-yogyakarta-8

Uji Handoko “The Trinity” Series Embroidery, 3 pieces @ 130 x 175 cm, 2014

Pameran-artjog14-yogyakarta-11

Darbotz – Antz “Unity in Diversity” Spray paint on  plywood panel, 300 x 900 cm

Pameran-artjog14-yogyakarta-3

Agung Prabowo (kiri) “Nirhengkara” (Tanpa Niat Jahat). (kanan) “Nircintraka” (Tanpa Ada Celaka) Reduction linocut on handmade paper, 91 x 81 cm, 2013. Bagian dari keseluruhan instalasi 5 buah karya

Itu tadi adalah sebagian kecil dari karya-karya yang merespon tema Legacies of Power, yang dipamerkan di Artjog14. Kalau Kopling masukin semua, bisa sampai besok nih nulis artikelnya enggak selesai-selesai. Nanti deh, pelan-pelan Kopling post via twitter atau Instagram. Oiya, sekedar intermezzo, Kopling sudah ber-instagram loh, buat yang belum tau, silahkan follow akun instagram kopikeliling.

Itu tadi tentang tema pameran, sekarang Kopling akan cerita mengenai hal-hal seputar acaranya sendiri. Seperti biasa Kopling selalu datang ke Artjog di weekend ke-2 supaya enggak begitu ramai. Namun tahun ini, di hari ke-8 pagelaran acara pun pengunjung nampak sangat padat. Ruang gerak cukup terbatasi (untuk keperluan dokumentasi) dan di beberapa ruang pameran terasa panas.

Layout pameran sendiri nampak lebih padat. Bisa jadi itu karena semakin banyak karya yang membutuhkan ruangan sendiri sebagai bagian dari presentasi. Misalnya saja karya video Krisna Murti feat. Landung Simatupang yang berjudul “Tale of Sangupati”, atau karya Sara Nuytemans “Rise and Shine”.

Ukuran karya pun tidak tanggung-tanggung. Walau di tahun ini tidak ada kehadiran karya raksasa di dalam ruangan seperti tahun 2012 (karya Pintor Sirait yang berbentuk pesawat), namun ukuran besar pun masih terasa menguasai ruangan. Misalkan saja karya Edhi Sunarso “Keberangkatan Pengasingan Presiden Soekarno oleh Belanda ke Pulau Bangka”, yang berukuran 400 x 80 x 80 cm atau karya Darbotz – Antz “Unity in Diversity” yang berukuran 300 x 900 cm. Mungkin itu adalah hal yang logis dilakukan untuk mendapatkan atensi di tengah persaingan ketat dengan ratusan karya lain yang ada di sana.

Pameran-artjog14-yogyakarta-11

Patung Soekarno raksasa oleh Edhi Sunaroso

Kebetulan yang luar biasa ketika di akhir ruang pamer yang tersisa, Kopling mendapat kesempatan untuk bertemu dengan orang penting di balik suksesnya acara-acara Artjog selama ini. Tidak lain dan tidak bukan adalah Heri Pemad. Kopling tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk bertanya-tanya mengenai Artjog, prosesnya, dan cerita-cerita di balik layar menarik lainnya.

Pameran-artjog14-yogyakarta-12

Mas Heri Pemad dari Heri Pemad Art Management (HPAM)

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Artjog selalu menjadi acara yang seru untuk dinikmati. Mungkin karena nuansa kota Yogyakarta… mungkin karena ada unsur travellingnya juga, karena datang (ga begitu) jauh-jauh (amat) dari Jakarta. Mungkin juga karena suasana ramainya pameran, beragamnya pengunjung. Itu semua, bergabung dengan hadirnya ratusan karya-karya yang bagus, selalu berhasil memuaskan mata sekaligus hati Kopling.

Enggak cuma Kopling yang merasakan puas dengan acara tersebut. Kehadiran dedek-dedek manis ber-tongsis, pose-pose menawan di depan karya, hiruk pikuk suasana, hingga sentuhan-sentuhan nakal mereka memegang karya, menjadi fenomena menarik. Bagaimana pun juga, apresiasi terhadap karya yang luar biasa ini patut diancungi jempol. Walau dialog yang terjadi mungkin lebih banyak “Mas, mba, mohon jangan menyentuh karya!”.

Pameran-artjog14-yogyakarta-9

Gimana pose aku mas?

Featured Image: Samsul Arifin “Goni Cabinet” 150 Dolls figure, Variable Dimension, 2014

About author

Kilas Balik 2014 pt.1

Wah, nggak terasa beberapa hari lagi kita sudah berada di tahun 2015. Cepat sekali ya rasanya? Kamu udah berhasil melakukan semua resolusi di tahun 2014 ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official