Rukmunal Hakim

Saat lulus SMU, Rukmunal Hakim yang saat ini bekerja sebagai full time illustrator sempat bekerja di bidang yang sangat jauh dari seni. Setelah lulus SMU, Hakim sempat bekerja di bidang yang sangat jauh dari seni. Baru sekitar 5 tahun yang lalu, ia mulai belajar gambar dan diterima bekerja sebagai storyboard artist di sebuah studio animasi. Dari situ ia mulai mengenal dunia seni sampai sekarang. Hakim merasa kalau menggambar itu menyenangkan dan ia seperti mendapatkan panggilan hidup untuk terus menekuni bidang ini.

Bisa dibilang, Hakim adalah seniman yang “lahir” melalui social network. Pada tahun 2010 ia mulai serius mengembangkan konsep dan teknis menggoret pensil melalui teman–temannya di dunia maya. Hakim belajar untuk membuat karya yang bercerita sehingga bisa menghasilkan komunikasi dua arah antara seniman dan penikmatnya.

“Setiap karya yang gue buat selalu diniatkan agar bisa bercerita. Karena bila karyanya tidak bisa bercerita maka hanya menjadi gambar mati,” kata Hakim.

Hakim menyebut style karyanya lebih ke arah low-brow nouveau atau pop surrealism. Ia mengaku saat ini karyanya masih lebih banyak bercerita tentang dirinya sendiri dan belum banyak menyentuh aspek sosial budaya yang cakupannya lebih luas. Buat Hakim, hampir semua ilustrator lokal adalah inspirasinya dalam berkarya. Namun, ia sangat mengagumi Ario Anindito, Diela Maharanie, Aditya Wijanarko, dan Elfandiary. Sementara itu, Hakim juga sangat mengagumi beberapa seniman luar Aaron Horkey, Joe Fenton, dan Richey Beckett.

Pada dasarnya Hakim berkarya agar bisa bertemu dengan ilustrator – ilustrator lainnya di dunia untuk bisa berbagi ilmu dan pandangan sehingga dapat saling memberi inspirasi. “Hal ini yang membuat gue merasa hidup,” ujar Hakim. Pada saat ini Hakim sedang sibuk membuat karya ilustrasi pribadi dan menjualnya melalui dunia maya.

Sampai saat ini, karya-karya Hakim sudah pernah dipamerkan di Jakarta, Bali, Singapura, Vancounver, Edinburgh, dan Manchester. Hakim juga pernah mengikuti pameran Kopi Keliling Volume 4 dan Volume 5.

Dalam sehari, Hakim biasanya meminum 3 gelas kopi. Kopi tubruk adalah favoritnya untuk sehari-hari.

Kopi Keliling Volume 4

Every {coffee} Day menggunakan tinta di atas kertas. Ilustrasi ini merupakan penggambaran sederhana bagaimana kopi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Melalui karyanya Hakim membuat ilustrasi dari pagi yang semangat hingga malam yang penuh kesedihan. Kopi menjadi bagian dari alur cerita keseharian tersebut.

 

Lihat karya-karya Hakim lainnya di sini: http://rukmunalhakim.tumblr.com/

About author

Sejarah Kopi dalam Sastra

O coffee! Doved and fragrant drink, thou drivest care away, The object thou of that man’s wish who studies night and day. Thou soothest him, ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official