Resatio Adi Putra

Resatio Adi Putra, yang akrab dipanggil Tio, adalah seorang kelahiran Bandung yang saat ini bekerja sebagai Desainer Grafis di Jakarta. Tio sudah mulai menggambar dari umur 3 tahun, namun ia baru tertarik dengan visual art sewaktu SMP dan SMA. Saat itu, ia sering memerhatikan cover art di kaset atau CD band-band favorit, tapi hanya sebatas memerhatikan saja dan belum tertarik untuk membuat sesuatu.

Ketika awal kuliah (sekitar tahun 2005), ketertarikannya semakin besar saat melihat karya-karya Shephard Fairey, Andy Warhol, dan Waile. Sejak itu Tio mulai mencoba untuk meniru style mereka. Pada tahun yang sama, Tio mulai berkenalan dengan teman-teman yang kuliah di seni rupa dan melihat apa yang mereka kerjakan untuk tugas kuliah. Ia pun mulai iseng-iseng mencoba dan menemukan keseruan berkarya. Di tahun 2007-2008, Tio mulai menekuni vector art namun merasa kurang cocok menekuni children illustration bergaya vector art ini. Pada tahun 2008-2009, ia pun menemukan style yang sesuai dengannya dan sebenarnya sudah lama ada sejak dulu, yaitu kolase. Ia yakin pilihannya kepada kolase tidak akan berubah karena ia bisa lebih menyampaikan pesan dalam karyanya melalui seni kolase.

Awalnya, keinginan Tio untuk menekuni visual art nggak didukung oleh orang tuanya. Maklum, dulu sewaktu kuliah Tio memang nggak mengambil spesifik jurusan yang berhubungan dengan seni. Namun sekarang kedua orang tuanya sudah bisa menerima apa yang ia kerjakan. Lagipula, ia nggak mengkhususkan diri sebagai fulltime artist karena pekerjaan utamanya adalah desainer grafis.

Tio memutuskan untuk menekuni visual art, khususnya seni kolase, saat ia melihat karya Mark Weaver sekitar tahun 2008-2009. Sejak itu ia mulai mendalami karya-karya lain seperti karya Salvador Dali, Rene Magritte, dan Max Ernst. Selain itu, ia juga menyukai karya-karya film dari Jan Svankmajer. Tio mengaku bisa melihat karya-karya mereka dalam waktu lama dan memikirkan apa sebenarnya yang mereka coba sampaikan dalam karyanya. Ia bisa menonton film-film Jan Svankamajer berkali-kali untuk mencari tahu hal yang sama.

Ia juga menambahkan kalau John Clowder, seniman kolase kesukaannya, adalah salah satu alasan kenapa ia terus membuat kolase. John Clowder menulis sebuah Collagist Manifesto sebagai berikut: “If art is dead remix is its rebirth! Collage is not insemination, but reanimation. Its tools of production having more in common with those of Jack the Ripper than the fey artist. In the circle of life of the creative world collage artists are the endearing scavengers. We scour the public domain like circling vultures, and exhume from its tombs matter to piecemeal our frankensteins. Our resource constituency comprises obsolete adverts, morbid medical texts, bone atlases, and zoographic curios. Consequently, bone and exposed flesh are kindred to collage artists as they are our familiar inheritance, and it is mostly from these elements that I composed my creations.
Menurut Tio, visual art bisa berbicara banyak sekali, mulai dari kesenangan atau kesedihan, dan apapun yang ingin disampaikan oleh senimannya dengan sangat indah. Buat Tio, inspirasinya bisa datang dari mana saja, kehidupan sehari-hari, musik, children illustration, dan apapun yang ia lihat di jalan. Biasanya, Tio mengangkat topik-topik tertentu seperti surealisme, fantasi, dan sejarah. Ia juga menyebutkan bahwa karyanya memiliki style surealisme dan dadaisme. Tio mengatakan bahwa satu quote yang ditulis oleh Fred S. Kleiner mengenai dadaisme dalam bukunya berjudul Gardner’s Art Through The Ages cukup menggambarkan karya-karyanya. Bunyinya sebagai berikut:

“A phenomenon bursting forth in the midst of the postwar economic and moral crisis, a savior, a monster, which would lay waste to everything in its path. It was a systematic work of destruction and demoralization. In the end it became nothing but an act of sacrilege.”

Lebih lanjut, Tio menjelaskan kalau bahan-bahan kolasenya bisa diambil dari berbagai sumber, mulai dari ilustrasi vintage (1900-1970an), ilustrasi era Victoria (1837-1901), bahkan sampai ilustrasi tahun 1600an yang biasanya banyak berbicara mengenai permesinan pada masa itu. Selain itu, Tio juga sering memakai found objects yang ia temukan di mana-mana seperti mainan abal-abal China yang sangat murah, benang, ranting pohon, apapun. Ia menyusunnya sedemikian rupa supaya menjadi karya.

Melalui karyanya, Tio ingin membuat karya yang bisa membuat penikmat karyanya bertanya-tanya sendiri tentang apa yang sesungguhnya ia sampaikan. Biasanya, Tio menyampaikannya dengan cara simbolisme. Ia ingin supaya mereka yang melihat nggak hanya sekedar lewat dan melihat, tapi juga menginterpretasikan karya-karyanya sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. Menurut Tio, kutipan dari René Magritte cukup menggambarkan karyanya, “Everything we see hides another thing, we always want to see what is hidden by what we see, but it is impossible. Humans hide their secrets too well…

Sebagai pekerja kreatif, Tio dituntut untuk sering mengerjakan pekerjaan sampai larut malam, bahkan sampai pagi. Untuk mengatasi rasa kantuk, biasanya ia selalu minum kopi. Meskipun mengaku bukan ahli di bidang kopi, Tio senang minum kopi di luar keperluannya untuk bekerja.

Sejauh ini, karya-karya Tio sudah pernah mengikuti berbagai pameran seperti Lemi The Space Wanderer Customs Exhibition di Omunuium (Bandung), Cosmically Clearance di Cosmic Joyhouse (Bandung), Kelir Festival di Museum Bank Mandiri (Jakarta), Kopi Keliling Volume 5 di Anomali Coffee (Jakarta), Caffeinated di Inkubator Asia (Jakarta), Kopi Keliling Volume 6 di 1/15 Coffee (Jakarta) dan masih banyak lagi.

Lihat karya-karya Tio lainnya di sini: behance.net/resatio dan resatio.tumblr.com

About author

Jangan Minum Kopi Pagi-Pagi!

Berbeda dengan pendapat Departemen Kesehatannya orang Inggris yang bilang bahwa waktu terbaik untuk minum kopi itu jam 14:16, ternyata menurut Steven Miller, seorang ahli syaraf ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official