Putud Utama

Putud adalah seorang freelance designer dan ilustrator yang berasal dari Semarang dan sekarang sedang menempuh kuliah S1 Desain Komunikasi Visual di ISI Yogyakarta. Putud, yang sewaktu kecil sempat tinggal di Kota Kudus ini, hobi mengoleksi kaos band-band metal dan pernak-perniknya.

Waktu kecil, selain bermain TAMIYA Putud juga suka menghabiskan waktu dengan menonton MTv, bukan kartun ataupun Smack Down yang dulu sangat digemari oleh anak-anak seumurannya. Ia lebih hafal urutan tangga lagu di MTv Ampuh daripada jadwal kartun di hari Minggu pagi. Putud mengaku perkenalannya dengan seni lebih banyak dipengaruhi dari video clip dan motion yang sering ia tonton di MTv, seperti video clip Dewa 19 – Kirana yang membuat dirinya ketakutan karena melihat orang bermata satu, atau video clip band luar seperti Californication dari Red Hot Chilli Pepper yang memicunya untuk berfantasi tanpa batas.

Lama kelamaan, mantan atlit renang ini menyadari kalau di lingkup keluarganya juga mengalir darah seni, mulai dari om dan pak de serta bu de yang sempat masuk Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), karena diminta untuk mengabdi kepada negara sebagai tentara, sampai kakaknya yang menekuni dunia desain dan akhirnya tenggelam di ranah seni rupa kemudian menjadi seorang seniman.

Kakak Putud sangat mempengaruhinya untuk terus berkarya. Selain itu, musik yang memperkenalkannya dengan seni visual juga terus membuatnya berkarya. Sewaktu SMA, ia mulai merancang huruf-huruf untuk band teman-temannya, bahkan membuatnya ilustrasi untuk band teman-temannya dan band milikinya sendiri yang rata-rata beraliran metal.

Seiring dengan berjalannya waktu, semakin banyak pertanyaan dan kegelisahan yang timbul di kepala Putud mengenai seni, apalagi semenjak kuliah di kampus seni di mana ia bisa melihat banyaknya prinsip dan idealisme yang berbeda-beda dari masing-masing individu. Putud menjadi semakin haus akan wawasan dan membaca banyak buku, meskipun sebelumnya ia nggak suka membaca, sampai melakukan diskusi yang membuatnya lebih peka ke berbagai hal yang sudah, sedang, dan akan terjadi di sekitarnya.

Kegelisahan itu nggak hanya sekedar dirasakan, tapi juga ia tuangkan ke dalam bentuk karya visual, karena ia merasa nyaman dan puas jika kegelisahannya bisa menjadi sebuah karya. Putud berharap karyanya bisa memicu kesadaran tentang kegelisahan yang ia rasakan di sekitarnya dan di masyarakat.

Mengingat latar belakang keluarganya yang banyak terlibat di bidang seni, keluarga Putud mendukung sepenuhnya pilihan yang ia ambil, dengan catatan ia harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah dipilih. Sebagai orang yang dibesarkan dalam lingkup budaya Jawa yang sangat kental, istilah “unggah-ungguh” harus selalu diterapkan pada siapapun termasuk orang yang sangat dekat di hidupnya. Orang tua Putud akan selalu “ngajeni” segala pilihan yang ia pilih, dengan memberi berbagai masukan untuk memantapkan pilihannya.

Berbicara soal seni, Putud sangat suka warna-warna terang menyala, hal-hal populer yang menjadi penanda zaman dan benda-benda di sekitar yang membuatnya tertarik, seperti papan iklan ahli gigi, tipografi bak truk, umbul-umbul lawas, sneakers, stiker macan dan naga, dan majalah jadul. Menurut Putud, komik pendekar di halaman majalah jadul dan segala hal otentik sangat mewakili kultur masyarakat Indonesia. Dari situ ia menjadi tertarik dengan aliran seni pop art, lowbrow, bahkan surealis karena banyak banget seniman berpengaruh di aliran ini. Sebut saja Andy Warhol, Morning Breath, Gary Taxali, Ron English, Phunk Studio serta Indieguerillas, Eko Nugroho, Heri Dono, dan Eddie Hara.

Selain seniman-seniman di atas, ada banyak sekali hal yang memengaruhi Putud dalam berkarya. Ia nggak akan pernah bosan untuk membahas hal-hal yang dekat dengan kesehariannya dan apa yang ia rasakan, misalnya kejadian atau fenomena ironis di struktur sosial masyarakat, atau hubungan rakyat dengan pemerintah. Dari situlah inspirasi, ide, dan konsep yang ia temukan mulai diolah dengan dibumbui oleh riset, membaca keadaan, dan buku atau literatur dari manapun. Karya Putud memicu penikmatnya untuk berpikir dan menyadari situasi yang sedang terjadi saat ini.

Mempunyai banyak sumber inspirasi bukan berarti Putud nggak pernah mengalami artist’s block. Pernah suatu kali ia menjadi stres dan bingung karena sedang mengalaminya. Untuk mengatasi hal tersebut, ia akan pergi ke toko buku untuk sekedar melihat-lihat buku, mencari kaos-kaos metal, dan yang paling penting baginya adalah sharing dengan seniman senior atau teman mengenai apa yang ia rasakan.

Karya-karya Putud sudah pernah mengikuti beberapa pameran, seperti pameran kelompok puscang “Semua Bisa jadi Macan, Galeri Biasa Yogyakarta”, “Drawing Revolution, FFR DGTMB Yogyakarta”, “Drawing Lover, Sangkring Gallery Yogyakarta” dan berbagai pameran lainya di Yogyakarta. Pameran kelompok puscang mungkin pameran yang sangat menyenangkan buat Putud karena itu adalah pameran pertamanya dengan teman-teman, yang membuat ia bersemangat untuk terus berkarya.

Minum kopi adalah kenikmatan tersendiri bagi Putud, apalagi kopi susu yang biasa menjadi temannya di kala melembur…. Putud berkata, “Standar anak kos tidak bisa lepas dari kopi.”

 

Lihat karya-karya Putud Utama lainnya di sini: putudutama.tumblr.com

About author

[Open Call] Three Musketeers Project

Berita yang menyenangkan nih buat kamu para seniman muda Indonesia yang berusia di bawah 30 tahun! Ace House Collective, sebuah laboratorium seni yang digagas oleh ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official