Khirzan Ulinnuha

Teman-teman adalah guru saya. Mereka yang banyak membuat saya lebih terpacu untuk menekuni bidang seni visual.

Mendapatkan pengaruh awal dari ilustrasi khas Jepang, seperti Dragon Ball dan Ksatria Baja Hitam, tidak membuat Ulin, panggilan akrab Muhammad Khirzan Ulinnuha, tidak mencintai budayanya sendiri. Beranjak dewasa, pria kelahiran 1990 ini malah menunjukkan ketertarikan yang besar dengan elemen-elemen Indonesia atau etnik Indonesia.

“Awalnya dulu saya tertarik dengan motif tribal, dan semakin terasah ketika wawasan semakin bertambah. Saya terinspirasi dari wayang, batik, ukiran Jawa, ukiran pada topeng, relief candi, barong Bali, dan lain-lain. Saya seperti terobsesi dengan topeng Indonesia. Tapi secara keseluruhan, saya selalu mencari inspirasi dari etnik-etnik Indonesia dan sedang saya konsistenkan hingga sekarang. Indonesia ini kaya kebudayaan dan kearifan lokalnya,” ujarnya penuh semangat.

Screen Shot 2015-05-25 at 1.50.44 PM

Perjalanan Ulin menemukan passion-nya di dunia seni visual mungkin bisa diibaratkan seperti mencari pasangan hidup. Ia pernah mencoba dunia seni peran, seni music, dan seni tari. Di tahun 2013, Ulin juga pernah terlibat di stand-up comedy. “Tapi dari semuanya, akhirnya saya sadar kalau menggambarlah yang bisa bikin saya lupa waktu dan benar-benar seperti tidak sadarkan diri,” katanya.

Semangat Ulin dalam menekuni dunia seni visual seolah tidak pernah surut. “Saya semakin semangat semenjak bergabung dalam komunitas Pena Hitam,” kata Ulin. Baginya, komunitas bukanlah sekadar tempat untuk bersosialisasi dan mencari teman. Ia justru banyak terinspirasi dari teman-temannya, seperti Rio Krisma, Didik aka Painsugar, Rahadil aka Bodilpunk, Tonymidi, Indra Nugroho aka Vortrakker, Garis Edelweiss, Devilreject, dan Silencer 8.

Screen Shot 2015-05-25 at 1.51.41 PM

Bagi Ulin, berkarya itu tidak hanya untuk diri sendiri. Ia ingin mengenalkan Nusantara Indonesia, termasuk kebudayaan, nilai hidup, sejarah, cerita rakyat, kearifan lokal, fauna, dan floranya ke masyarakat luas. Ia juga ingin karyanya bisa menghidupi dan memberi manfaat kepada orang banyak. “Hidup dengan berkarya, berkarya untuk menghidupi.” Itulah motto Ulin.

Ulin ini ternyata cukup filosofis ya. Dan setiap hari ia selalu mempunyai waktu untuk sekadar merenungkan diri dan menikmati momen. Yap, setiap jam setengah lima sore hingga adzan maghrib, Ulin selalu naik ke atas genteng sambil membawa tiga barang andalannya, kopi, rokok, dan lagu-lagu favorit, untuk menikmati senja. “Sepenggal momen itu saya nikmati untuk mengevaluasi diri, untuk diam dan berdialog dengan diri saya sendiri,” katanya sambil menerawang.

 

Lihat karya-karya Ulin lainnya di sini: kreavi.com/khirzanulinnuha

About author

Filosofi Kopinya David Lynch

“Even bad coffee is better than no coffee at all.” – David Lynch David Lynch (summer gambar: msn.com) Sudah tahu kan bahwa David Lynch, sutradara yang ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official