Ario Kiswinar Teguh

 

Saya lebih suka menyebut diri saya sebagai papyrophilia, istilah latin yang saya temukan untuk menyebut orang-orang yang mencintai kertas.

Kehidupan pria berkacamata ini sudah bersentuhan dengan dunia seni mungkin sejak ia lahir. Ibunya sangat mahir dalam arts and crafts, seperti menyulam, menjahit, tatting, origami, dan lainnya, sementara ayahnya adalah seorang weekend woodworker dan tradesmen yang handal.

“Rumah kami diisi oleh karya-karya mereka. Taplak meja buatan ibu diletakkan di atas meja makan buatan ayah. Saya mendengarkan musik kesukaan dari audio system buatan ayah, dan merebahkan kepala di bantal sofa buatan ibu,” ujar Kiswinar. Bakat itu rupanya menurun. Pada akhirnya, pria lulusan Desain Komunikasi Visual (DKV) ini ikut membuat karyanya sendiri, mulai dari menghias tembok dengan origami sampai menggambari temboknya.

tumblr_nmfqf73eK71qgrbt4o1_1280 tumblr_nme06lFsKH1qgrbt4o1_1280

Namun, dulu Kiswinar khawatir akan satu hal. “Saat kuliah, saya menyadari bahwa saya tidak mampu (baca: kurang berlatih) menggambar,” katanya. Tentu saja, sebagai mahasiswa DKV, menggambar adalah salah satu hal penting yang harus dimiliki. “Setelah lama mencari ke belakang, arts and crafts adalah jawabannya, hal yang sudah dibiasakan oleh kedua orang tua saya sedari kecil. Dan kertas adalah material utama pilihan saya untuk menghasilkan karya-karya trimatra,” jelas Kiswinar.

Berbicara soal kertas dengan Kiswinar tidak akan ada habisnya, terlihat sekali kecintaannya akan material yang satu ini. Dari kertas jugalah ia berhasil memantapkan langkahnya di dunia seni rupa. “Seni rupa memberi kepuasan ‘instan’ bagi saya. Melihat ekspresi orang ketika melihat karya saya, memikirkan untuk melakukan apa yang saya lakukan, bahkan terinspirasi untuk melakukan hal yang lebih baik dari yang sudah saya buat,” katanya.

Tidak hanya menginspirasi orang lain, Kiswinar juga terinspirasi dari banyak seniman hebat, seperti Setiawan Sabana, Pak Raden, Neil Buchanan, dan Dan Reeder. Berangkat dari kertas, Kiswinar bisa berpameran di beberapa tempat. “Karya saya pernah dipamerkan di Galeri Nasional dan Museum Nasional,” katanya.

Pada akhirnya, ia ingin memberikan sedikit sentuhan agar kertas yang selama ini dianggap biasa mendapatkan posisi yang seharusnya. “Posisi di mana dulu kertas dianggap sebagai medium yang mempercepat perkembangan umat pengetahuan dan peradaban manusia sampai sekarang,” ujarnya menutup pembicaraan, sambil menyesap secangkir kopi tubruk.

 

 

Lihat karya-karya Kiswinar di sini: Kiswinar.tumblr.com

About author

Pecha Kucha Vol.11

Pecha Kucha kembali lagi hadir dengan acaranya yang ke 11. Dengan tema “Artfully Yours” Pecha Kucha menghadirkan beberapa narasumber di bidang seni & kreatif. Kopi ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official