Erwan Priyadi

Nggak semua anak kembar harus kembar dalam segala hal. Mungkin ketika mereka masih kecil, mereka diberi pakaian yang sama oleh orangtua mereka, dan bisa jadi mereka juga sempat memiliki minat yang sama. Tapi setelah mereka bertumbuh dewasa, sebagian masih memiliki minat yang sama, sebagian lagi dari para kembar itu memilih minat dan jalur yang berbeda.

Hal ini juga terjadi pada Erwan Priyadi, yang lebih dikenal dengan nama Wanski. Lahir sebagai kembar bungsu dari empat bersaudara yang kesemuanya laki-laki, ketika masih kecil dulu Wanski dan saudara kembarnya suka sekali menggambar. Di setiap hari Minggu dan hari libur, keduanya sering ditemukan sedang menggambar kartun, dan keesokan harinya gambar-gambar itu mereka pamerkan di sekolah. Namun seiring perjalanan waktu, saudara kembarnya mempunyai minat yang berbeda. Masih dalam bidang seni, tapi nggak lagi menggambar, melainkan bermusik. Konon kata Wanski, banyak gadis-gadis yang terpukau oleh suara kembarannya.

Sementara Wanski tetap setia menggambar hingga saat ini, dengan media cat air, digital painting, dan pensil. Bakat ini bisa jadi diwarisi dari ibunya yang jago membatik bergaya Banyuwangi. Saat ini Wanski masih duduk sebagai mahasiswa tingkat akhir di DKV ITS Surabaya.

Wanski sempat merasa rendah diri ketika baru masuk ke kampus desain, karena teman-temannya menurutnya lebih jago menggambar. Bisa jadi penyebabnya adalah karena dirinya pernah berhenti menggambar semasa SMA dulu. Bukan karena minat menggambarnya menurun, tapi dirinya dituntut untuk lebih tekun belajar. Ayahnya, seperti halnya orangtua lainnya, sebenarnya menginginkan Wanski mengikuti jejaknya dalam berprofesi.

Untungnya, Wanski mau melawan rasa rendah dirinya dengan terus menggambar. Berbekal pengalamannya bermain dengan cat air semasa SMP, Wanski terus berkarya dan ternyata… banyak yang suka. Rasa percaya dirinya pun kembali, dan akhirnya orang sekitarnya pun mendukungnya. Masuk akal memang, karena ketika kita ragu dengna pilihan kita, orang lain pun akan meragukan kita, bukan?

portofolio-erwan-priyadi-seniman-kopi-keliling-volume-0

portfolio-erwan-priyadi-seniman-kopi-keliling-volume-0

Wanski sampai saat ini masih bingung ketika ditanya gayanya dalam melukis, tapi dirinya lalu menyebutkan pop surealisme – meskipun dirinya lebih menyukai gaya art nouveau atau Victorian, atau pola-pola ilmiah yang berbau biologi. Wanski juga suka menggambar lukisan potret, dan inspirasinya datang dari Roby Dwi Antono, Isa Panic Monsta, Emte, Valerie Chua, Conrad Roset, Joanne Nam, Teagan White, James Jean. Bukan hanya dari para seniman terkenal itu, inspirasinya juga datang dari membaca dan intuisinya.

Seperti halnya para seniman, Wanski sering menuangkan perasaannya ke dalam karyanya. Dirinya mengaku sulit bercerita kepada orang lain secara langsung, karenanya yang menjadi medianya untuk curhat adalah karyanya. “Mungkin memang sedikit egois menceritakan sesuatu tanpa dapat dipahami. Tapi inilah tujuan saya. Hanya mereka yang bernasib sama yang dapat memahami perasaan saya. Saya selalu ingin jujur dengan karya saya, karena saya tidak bisa sepenuhnya melakukan hal itu di dunia nyata.”

Untuk mengatasi creative block, Wanski melakukannya dengan… makan daging bebek! “Memang nggak nyambung sih. Mungkin karena ketika kita memanjakan perut kita, hati akan ikut riang, dan akhirnya block itu pun menghilang,” ujarnya.

Wanski yang terkesan penyendiri ini, biasa mengerjakan karyanya di malam hari dengan ditemani kopi ringan dan sebungkus rokok. Kalau kamu ingin menemaninya ketika melukis, silakan hubungi Wanski melalui akun Twitter-nya: @erwanjadi.

About author

Budaya Rumah Kopi di Vienna

Di balik keindahan kotanya dan budayanya, rumah kopi di Vienna (Wiener Kaffeehaus) punya peranan yang sangat penting dalam membentuk budaya Vienna. Tak heran, sejak Oktober ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official