Cempaka Surakusumah

Desainer Grafis yang bekerja di Thinkingroom Inc. ini suka menekuni kegiatan lain di luar bidang desain grafis yang dijalaninya seperti tari nusantara, khususnya tari Betawi, dan biola. Awalnya, Cempaka yang lahir dan besar di Jakarta berkenalan dengan seni sewaktu ia kecil. Dulu ia suka membawa sketchbook dan crayon warna-warni kemanapun ia pergi. Semenjak mengambil kuliah jurusan Desain Komunikasi Visual, perempuan kelahiran 7 Juni 1987 ini mulai banyak belajar tentang seni dan desain dan bertemu orang-orang dengan minat yang sama.

Cempaka terinspirasi untuk menekuni bidang visual art karena dalam kehidupan sehari-hari ia bukanlah tipe orang yang bisa mengeluarkan apa yang ada di pikirannya secara verbal. Karena itu ia lebih memilih untuk menuangkannya ke dalam karya dan visual art adalah salah satu cara ia berkomunikasi. Minat Cempaka ini mendapatkan dukungan penuh dari orang-orang di sekitarnya.

Sebagai orang yang peka dengan lingkungan sekitar, Cempaka berpendapat kalau inspirasinya bisa datang dari mana saja, dari apa yang ia lewati, ia rasakan, ia lihat, musik yang ia dengar, atau hal-hal sederhana yang ada di sekitarnya. Tokoh-tokoh seni terdahulu, sejarah, cerita-cerita mitologi, beberapa desainer grafis lain, dan terutama teman-teman dan orang terdekatnya juga menjadi sumber inspirasi karya-karya Cempaka.

Untuk style karya, Cempaka belum bisa mendefinisikan seperti apa style karyanya karena ia masih suka membuat karya tanpa dibatasi style tertentu. Ia lebih memilih orang lain yang menafsirkan sendiri seperti apa karya-karyanya. Meskipun begitu, Cempaka banyak mendapatkan inspirasi dari beberapa seniman seperti Salvador Dali, Kandinsky, Frida Kahlo, Audrey Kawasaki, Heri Dono, FX. Harsono, dan Mark Ryden; serta beberapa desainer grafis seperti Sagmeister & Walsh, Jessica Hische, Eric Widjaja, Aditya Wijanarko, Louis Filli, dan Marian Bantjes. Dalam berkarya, Cempaka selalu ingin membuat orang yang melihat karyanya merasakan bahwa “sometimes, life isn’t easy”.

Pameran yang pernah diikuti Cempaka adalah Pameran Topeng Nusantara dan “Oh For Dog Sake” di Naka Contemporary Art di Bali. Ia mengaku kalau dirinya sebenarnya masih belum percaya diri untuk ikut pameran. Namun ia mempunyai bayangan sebuah pameran yang seru adalah pameran dengan konsep yang kuat dan jelas tentang pesan yang ingin disampaikan melalui pameran tersebut. Pameran itu harus memamerkan karya yang matang secara visual dan konsep, serta mempunyai lingkungan dan tata ruang yang mendukung sesuai dengan temanya. Tidak lupa, pengunjung juga harus bisa merasakan atmosfer yang berbeda ketika berada di dalamnya, sehingga mereka mendapatkan pengalaman yang layak sewaktu datang ke pameran tersebut.

Mengenai hubungannya dengan kopi, Cempaka mengatakan bahwa setiap hari ia hampir tidak bisa lepas dari kopi, tapi lagi berusaha mengurangi karena ia mempunyai penyakit maag. Namun sewaktu mengerjakan tugas akhir Kuliah, kopi selalu menemani Cempaka menangisi tugas yang tak kunjung kelar. Hingga sekarang, ngopi adalah salah satu hal yang setia bersamanya.

Lihat karya-karya Cempaka lainnya di sini: lalapop.tumblr.com

About author

Artist Talk | Arya Mularama

Part of Kopi Keliling project 2011. This video is made to share the passion and creativity of young talented Indonesian artists. Support our local artists ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official