Arda Awigarda

Pria yang sedang menempuh kuliah di jurusan desain program studi Desain Komunikasi Visual ISI Yogyakarta ini sejak kecil sudah tinggal di Jogja. Ia tidak ingat pasti kapan tepatnya ia mulai berkenalan dengan seni, tapi hobi menggambarnya sudah ada sejak ia kecil. Arda juga membentuk sebuah band sewaktu SMA dan seringkali menggambar untuk desain stiker, poster, dan kaos untuk band teman-temannya yang kebetulan bergerak di ranah underground.

Waktu tahun 2007, Arda sedang bermain-main dengan media digital dalam berkarya ketimbang teknik manual (freehand), karena waktu itu media digital sedang tren dan ia bisa mendapatkan harga software yang relatif murah dan beredar luas. Namun akhirnya pada tahun 2009 ia mulai tertarik dengan karya-karya John Dyer Baizley yang mengerjakan karyanya secara manual. Walaupun karya-karya John ini nggak booming pada saat itu, Arda tetap merasa tergerak dan ia mengalami perubahan besar dalam hidupnya. Dari situlah ia mulai lebih sering mengerjakan karya secara manual daripada digital. Setelahnya, ia juga merasa semakin tertarik ketika ayahnya mengajak ngobrol tentang tokoh-tokoh seniman dunia, seperti Salvador Dali. Itulah yang mendorong Arda untuk melanjutkan studi di ISI Yogyakarta.

Arda nggak ingin mengategorikan style gambarnya. Ia lebih memilih orang lain yang menilai dan menggolongkannya, karena yang ia inginkan hanyalah menjadi diri sendiri. Biasanya, ia mendapatkan ide atau inspirasi secara sengaja (dengan mencari) dan kadang secara nggak sengaja. Inspirasi Arda bisa datang dari buku, musik, teman-teman, lingkungan, dan semua yang menurutnya bisa membuat dirinya menjadi lebih baik. Intinya, semua yang telah membentuk karakter kepribadiannya hingga jadi seperti Arda yang sekarang. Karena itulah ia selalu ingin menyampaikan hal-hal yang baik dan berguna di dalam karyanya. Ketika sedang stuck dan nggak ada ide, Arda biasanya bermain ding-dong, nongkrong bersama teman, atau konsultasi dengan senior dan juga ayahnya.

Karya-karya Arda sudah pernah mengikuti beberapa pameran, seperti pameran bersama kelompok puscang “Semua Bisa Jadi Macam, Galeri Biasa Yogyakarta”, Drawing Revolution, FFR DGTMB Yogyakarta”, “Drawing Lover, Sangkring Gallery Yogyakarta” dan berbagai pameran lainya di Jogja dan kadang juga di luar Jogja.

Sebagai seorang mahasiswa dan seniman yang suka melembur untuk mengerjakan tugas, kopi menjadi teman Arda hampir setiap hari. Dulu ia biasa minum kopi dua kali dalam sehari, tapi mulai dikurangi karena ia sering susah tidur.

Oh iya, Arda ini pernah ikutan Pameran Amal ACT juga waktu bulan Agustus 2012 kemarin juga lho. Apakah kamu yang mendapatkan karyanya waktu itu?

Lihat karya-karya Arda Awigarda lainnya di sini: ardaawigarda.blogspot.com.

About author

Dengarkan Suara Mereka

Seni bisa berbicara banyak, nggak cuma tentang sisi personal si seniman, tapi juga suara hati banyak orang yang kurang terdengar. Katie Yamasaki, seorang muralis dan ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official