Aditya Pratama Putra

Aditya Pratama Putra sempat berpindah-pindah kota antara Bandung dan Garut, sebelum akhirnya sekarang menetap di Jakarta dan bekerja sebagai Graphic Designer di salah satu advertising agency. Lulusan Desain Komunikasi Visual ini berkenalan dengan seni, khususnya menggambar, melalui ibunya. Waktu kecil, ibunya sering membacakan dongeng sambil menggambar. Dari zaman SD, Adit sering curi-curi waktu untuk ngegambar di belakang buku catatan. Ia yakin hal ini dialamin oleh semua orang yang sekarang bergelut di dunia seni visual.

Adit mengaku ia sempat belajar seni musik, tapi berhenti di tengah jalan karena lebih menikmati dunia seni rupa. Ia merasakan kenikmatan tersendiri saat menggambar, seperti menuangkan apa yang sedang dirasakan dan nggak perlu ribet untuk mengungkapkannya. Adit mengatakan kalau ia nggak mempunyai komitmen khusus untuk fokus di salah satu bidang seni, karena itu apa yang ia kerjakan di bidang seni visual ini juga berdasarkan atas melakukan sesuatu dari apa yang ia suka. Keluarga dan teman-teman Adit yang sebagian besar berasal dari seni visual membuat jalannya mudah dalam menekuni dunia ini. Orang-orang di sekitarnya sangat mendukung dan suportif atas keputusannya.

Menurut Adit, karya-karyanya banyak didominasi dengan unsur surealis yang bercampur dengan kesan kekanak-kanakan. Terkadang ia juga membubuhkan sentuhan fairy tale ke dalam karyanya. Visual artist yang menginspirasi Adit di antaranya Brett Helquist, Felicita Sala, Dadu Sin, dan Stefan Zaitsits. Adit juga sangat mengagumi visual artist lokal seperti Drs. Suyadi atau yang kita kenal dengan nama Pak Raden. Ia juga cukup sering membeli buku-buku cerita anak yang ilustrasinya sangat menginspirasi dalam berkarya.

Adit biasanya mendapatkan inspirasi dari apa yang sedang ia rasakan dan nikmati. Terkadang, kejadian-kejadian masa kecil juga cukup menarik buat Adit. Ia juga bisa mendapatkan inspirasi saat lagi mendengarkan musik, atau setelah menonton film. Bahkan ia juga bisa tiba-tiba mendapatkan inspirasi sewaktu sedang melihat sesuatu. Kalau sudah begitu, ia biasanya akan langsung mengambil pensil dan kertas. Selanjutnya tinggal mengikuti apa yang tangan dan otaknya inginkan. Melalui karakter-karakter yang berbeda di dalam karya-karyanya, Adit ingin mengekspresikan apa yang ia rasakan, pikirkan, lihat, dengar, dan ia mimpikan. Dalam berkarya Adit jarang sekali membuat konsep terlebih dulu sebelum menggambar. Tapi ia mengaku semuanya akan berbeda ketika ia berada dalam pekerjaan di mana ia harus memenuhi kebutuhan klien.

Kalau sedang stuck nggak ada ide, Adit mencoba untuk mencari waktu dan melakukan hal-hal yang jauh dari rutinitas. Dengan begitu, mood menggambarnya akan kembali dengan sendirinya.

Hingga saat ini, ada dua pameran yang pernah diikuti Adit: Pameran Tugas Akhir DKV 2010 (TUAI) di Fx dan Pameran Mascot di Central Park Jakarta. Menurut Adit, meskipun kedua pameran tersebut masih berhubungan dengan ilustrasi, mungkin Kopi Keliling bisa menjadi pameran pertamanya yang lebih menunjukkan idealisme dan karakter visualnya.

Mengenai kedekatannya dengan kopi, Adit mengatakan kalau buatnya minuman kopi bukanlah minuman yang harus dikonsumsi setiap hari. Ia meminum kopi untuk menemani lembur atau hanya ketika ia sedang benar-benar ingin minum kopi. Ia juga mengaku nggak mempunyai jenis kopi khusus yang sering dikonsumsi, tapi kepingin mencoba berbagai macam rasa kopi.

 

Lihat karya-karya Adit lainnya di sini: bersama-sarkodit.tumblr.com

About author

Rasa-rasa Kopi

Masih ingat dengan artikel Kopi vs Kopi yang ngebahas mengenai serunya nyicipin beragam rasa kopi? Kali ini, Arief Said, roaster Morph Coffee, mau memperkenalkan lebih ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official