Art

Soal Cahaya Dan Waktu

0

Beberapa waktu lalu Kopling mampir ke beberapa pameran. Yang satu ngomongin tentang cahaya, yang satu ngomongin tentang waktu. Kedua hal tersebut nggak akan pernah terpisah dengan kehidupan kita sebagai manusia. Namun kadang suka terlewatkan aja pentingnya mereka bagi hidup kita. Jadi, lewat kedua pameran tersebut, kita diajak untuk belajar kembali tentang cahaya, dan menghargai waktu.

A Study of Light

Seperti yang udah Kopling ceritain di artikel sebelumnya, pameran ini menghadirkan 4 seniman muda dengan medium, dan gaya yang berbeda-beda. Mereka adalah Stephanie Arifin, Gerry Habir, Advan Matthew, dan Talitha Maranila.

Karena berhalangan hadir saat pembukaan, jadi Kopling hanya hadir di penutupannya saja. Walau demikian, acara penutupan pameran ini nggak kalah seru dibanding pembukaannya. Ruang pamer Dia.lo.gue Artspace penuh sesak dengan pengunjung yang berdandan rapih untuk hadir di acara pameran seni bernafas fashion ini, bahkan hingga bagian taman belakang.

Sesuai dengan jumlah peserta pameran, area pamer karya pun terbagi menjadi 4 bagian. Bagian pertama (depan) adalah karya-karya fotografi super kece “Gray” dari Advan Matthew. Berseberangan dengan area tersebut ada spot screening untuk film pendek karya Stephanie Arifin yang berjudul “Le Vecu”.

“Gray”, Karya fotografi dari Advan Matthew | © Dia.lo.gue Artspace

“Le Vecu”, film pendek karya Stephanie Arifin | © Dia.lo.gue Artspace

Kopling nggak begitu sempat melihat terlalu lengkap karya Advan Matthew #menyesal, karena langsung “terjebak” di ruang screening film pendeknya Stephanie. Kalau nggak salah ingat, film ini bercerita mengenai seorang perempuan yang sedang dalam proses melupakan masa lalunya. Sedikit kurang paham sih sebenarnya, karena film ini dalam bahasa Prancis, dan subtitle-nya kurang keliatan (faktor kacamata kok, bukan ukuran subtitle-nya). Terlepas dari benar atau nggaknya cerita yang diangkat, satu hal yang pasti, film pendek ini sangat sangat classy. Baik dari pemilihan props, wardrobe, hingga setting dalam scene. Ada satu scene bahkan memakai kuda, hehe… Ada beberapa shot yang rasa-rasanya tuh kayak nonton “In the mood for love”nya Kar-wai. Nggak sabar untuk liat karya-karya dia selanjutnya. Apa mungkin sekalian screening di Bioskop Keliling? Hehehe…

Kemudian lanjut ke area tengah, ada karya lukisan dari Talitha yang berjudul “Penumbra”. Kata penumbra sendiri mempunyai arti: an incomplete or partial shadow. Lewat 3 lukisannya, Talitha menggambarkan sebuah proses transisi yang dialami oleh karakter perempuan yang menjadi sang objek. Bisa kita lihat di lukisan kiri dan kanan, ‘gelap’ sangat menguasai karakter perempuan tersebut. Kehadiran ‘terang’ dalam bentuk cahaya di lukisan tengah seakan menjadi perubahan positif dalam hidupnya.

Kopling sempat bertanya ke Talitha, apakah ada hubungan antara pengalaman pribadinya dengan karya Penumbra. Dia pun menjelaskan ada sedikit penggambaran dirinya yang telah melewati sebuah proses transisi, sama seperti karakter perempuan dalam lukisannya. Mungkin transisi gaya Talitha yang selama ini Kopling kenal sangat colorful mendadak hitam menjadi salah satu pengalaman transisi tersebut.

“”Might Call My Thought Away” (kiri), “Appendix” (tengah), “Was Never Said In Rhyme” (kanan)

Lalu yang nggak kalah seru adalah karyanya Gary Habir, yang judulnya “1903”. Sebuah karya seni instilasi cahaya yang interaktif. Sekilas kita lihat karyanya berupa sebuah pintu bernomer 1903, lengkap dengan lubang intip kecil, dan tombol bel. Untuk dapat menikmati karyanya, kita diajak untuk mengintip lewat lubang intip, dan melihat ada apa gerangan misteri di balik pintu tersebut.

Karyanya sangat mengingatkan kita akan Hitchcock. Di dalam ada beberapa manekin yang menggambarkan suasana interogasi yang sangat noir. Dengan bantuan headphone, kita akan mendengar suara-suara yang sarat akan kode tersembunyi, seakan berharap kita bisa membantu mencari jawaban atas kasus misteri tersebut. Sangat menarik!

“1903”, karya instalasi dari Gary Habir | © Dia.lo.gue Artspace

Overall, closing partynya cukup seru dan ramai. Walau karya yang dipamerkan tergolong sedikit, tapi Kopling salut buat para senimannya. Karena selain berkarya, mereka juga berlaku sebagai organizer acara tersebut. Sukses terus buat 4 sekawan Stephanie, Gary, Advan, Talitha, dan juga buat LIAISON PROJECT-nya.

Video mengenai pameran a study of light oleh Stephanie Erlita Arifin

Soal Waktu: Transisi

Nah, kalau acara yang satu ini Kopling sempet dateng ke pembukaannya. Jatuh di hari minggu ceria, tepatnya tanggal 3 Februari lalu, ada sekitar 25 seniman muda menampilkan karya mereka di Tryst Resto and Gallery. Masih inget kan sama Tryst? Dulu Kopling sempat ngadain acara Volume 4 di sana.

Ke-25 seniman ini membahas habis mengenai arti ‘Waktu’ dan ‘Transisi’ lewat karya yang bervariasi, mulai dari lukisan, kolase, paper sculpture, hingga instalasi dengan menggunakan barang-barang bekas. Kenapa sih ngebahas tentang waktu dan transisi? Ada apa gerangan?

Waktu terus bergerak dan tidak akan pernah menunggu siapa atau apa pun. Ia akan terus berjalan meninggalkan kita tanpa pemberitahuan sebelumnya. Pilihan untuk ikut bergerak, atau nggak, itu ada di tangan kita masing-masing sebagai manusia. Ketika manusia bergerak melalui waktu demi waktu, lambat laun ia akan bertransisi, entah itu menjadi baik, buruk, ataupun keduanya. Di sanalah rumah mengambil peranan penting. Habitat rumah, sebagai tempat kita menghabiskan sisa waktu dari 24 jam, mempengaruhi segala tindakan dan pemikiran kita. Begitu kurang lebih yang hendak disampaikan Willow and Wod lewat karya instalasi mereka yang berjudul “Habitat Alami”.

Karya “Habitat Alami” bikinan Willow and Wod yang super epic. Terbuat dari kayu dan benda-benda bekas seperti gear, dinamo tamiya, baut, dll

Lain Willow, lain Kiswinar Teguh. Transisi dibungkus dalam kemasan ‘Cinta’. “Witing tresno jalaran soko kulino“, adalah sebuah falsafah Jawa yang menurut Kis dapat mendeskripsikan soal waktu dalam dimensi perasaan. “Cinta datang karena terbiasa/seiring waktu”, begitulah kira-kira terjemahannya. “Ada yang bilang bahwa cinta bisa datang seketika dan tak terduga. Namun sebagai keturunan Jawa, saya percaya akan proses yang harus dilewati dengan kesabaran,” kata Kiswinar. Cinta tidak jatuh dari langit begitu saja. Itu adalah sebuah hal yang harus dipupuk dan dipelihara. Dan yang memeliharanya tidak lain adalah kedua belah pihak yang berada di dalam rasa itu. Maka dari itu dia membuat sebuah karya paper sculpture yang merupakan permainan anagram dari potongan tipografi yang apabila kita lihat dari sisi yang berbeda akan membentuk kata ‘aku’ dan ‘kamu’.

Presentasi karyanya di atas sebuah meja bundar. Kalau kita bergerak arah balik jarum jam, perubahan kata ‘kamu’ ke ‘aku’ pun tercipta karena perspektif

Masih banyak karya-karya lain yang gak kalah menarik di pameran Soal Waktu ini. Bakal panjang banget artikelnya kalau Kopling bahas satu per satu. Kalau kamu mau lihat foto-foto dokumentasi acara pameran tersebut, kamu bisa cek di sini.

Selain pameran, kegiatan acara hari itu beragam, mulai dari spot jualan produk-produk art, game vintage (yang masih nyala!), acoustic performance, talkshow, sama pertunjukan sulap oleh Kiswinar. Dateng ke acara-acara seru penuh dengan passion kayak gini nih yang membuat Kopling pengen cepet-cepet bikin acara lagi, hehe…

Dia.lo.gue ArtspaceLIAISON PROJECTLimbo Studio | Kultur Blender | Tryst Resto & Gallery | Willow and Wod

About author

No comments

IBC 2013: Jogja & Surabaya

Teman-teman Kopling pasti udah pernah denger tentang Indonesian Barista Competition (IBC) kan? Seperti yang udah pernah diumumin bulan Januari kemarin, dan seperti yang udah dilakukan ...