Art

Mendobrak Tradisi dan Menciptakan Terobosan Baru Melalui Seni

0

Setiap malam sebelum tidur, ibu selalu memberikan cerita yang cukup panjang sebagai pengantar tidur. Mulai dari cerita legenda, dongeng, dan kehidupan nyata. Tapi, ibu tidak pernah bercerita tentang hal yang rumit, agar tidur kita tidak bermimpi buruk. Oleh karenanya, sebagian besar cerita yang diberikan orang tua umumnya berujung happy ending. Bahkan, hingga cerita mengenai binatang-binatang pun berakhir manis walaupun sebelumnya terdapat polemik antar tokoh.

Setelah kita dewasa dan mulai berpikir, kita sadar bahwa cerita yang happy ending, cenderung terlalu jauh dari kehidupan nyata dan dibuat-buat. Kalau kamu berpikir mengenai hal ini, tentu kamu tidak sendirian. Kopling juga pernah merasakannya. Terlebih lagi, penulis dan seniman kenamaan Amerika, Tomi Ungerer, juga berpikiran seperti itu. Tomi geram dengan cerita yang happy ending. Sebab, ia berpikir cerita happy ending di sisi lain seolah membohongi anak-anak, jauh dari kenyataan, dan tidak membuat anak belajar karena cenderung terima-terima saja.
Atas kegeramannya ini, Tomi berinisiatif membuat buku beserta ilustrasi yang menggambarkan fenomena yang dekat dan mendobrak budaya cerita yang gitu-gitu aja.

slide_397282_4883404_free

No Parking Please, 1971‐1983 (unpublished drawing for Slow Agony, first published 1983 by Diogenes Verlag AG, Zürich) Black grease crayon, black ink and colored ink wash on paper 23 5/8 x 35 inches (60 x 89 cm) Collection Musée Tomi Ungerer – Centre international de l’Illustration, Strasbourg © Tomi Ungerer/ Diogenes Verlag AG Zürich

slide_397282_4883398_free

Choice Not Chance, 1967 (political poster) 21 x 26 5/8 inches (53.3 x 67.6 cm) Collection Rennert’s Gallery, New York

slide_397282_4883402_free

New York Times, 1965 (poster) 59 1/2 x 45 inches (151 x 114.3 cm) Collection of Rennert’s Gallery, New York

Sejak 45 tahun sebuah karyanya, sebuah cerita bergambar berjudul Tiga Perampok, menjadi buah bibir. Buku ini dianggap sebagai karya monumental yang menjadi patokan buku anak-anak di seluruh dunia.

tiga pencuri

tiga pencuri

Tiga Perampok, buku yang melejitkan nama Tomi Ungerer, bercerita tentang tiga orang perampok yang jahat. Dalam satu operasinya, mereka menculik seorang anak perempuan yatim. Siapa nyana, gadis kecil itu justru meluluhkan hati mereka yang jahat, dan akhirnya mengubah mereka menjadi orang-orang baik. Begitu menyentuh. Baik dari segi gambar maupun ceritanya yang sebenarnya sangat sederhana. Tiga Perampok diikuti puluhan karyanya yang lain, yang kemudian menempatkan Tomi Ungerer sebagai salah satu penulis dan seniman cerita anak modern yang paling berpengaruh. Dalam cerita ini, Ungerer merombak alur yaitu dengan melakukan penekanan pada sifat anak yang kuat.

slide_397282_4883406_free

Untitled (We want mothers), 1977‐1979 (drawing for Babylon, first published 1979 at Diogenes Verlag AG, Zürich) Black grease pencil on paper 15 7/10 x 11 4/5 inches (40 x 30 cm) Collection Musée Tomi Ungerer – Centre international de l’Illustration, Strasbourg © Tomi Ungerer/ Diogenes Verlag AG Zürich Musées de la Ville de Strasbourg / Mathieu Bertola

Selain itu, Tomi Ungerer juga pernah membuat buku yang bercerita tentang seks. Sebuah genre yang dianggap tabu untuk kalangan anak-anak. Tetapi, Ungerer berpandangan lain bahwa ini adalah bentuk edukasi yang memang dalam membacanya membutuhkan bimbingan. Ungerer menegaskan ingin memberi pesan bahwa karena seks itu kita ada.

Dengan ilustrasi yang menarik dan cerita yang berani, Ungerer menjadi terobosan baru dalam bercerita ke anak-anak. Ia menjadi kiblat penulis-penulis untuk menuliskan cerita secara jujur dan tidak (terlalu) dibuat-buat.

Tidak selamanya kita harus terus berkreasi mengikuti arus yang ada, bukan?

About author

No comments

Kopi: Lain Negara, Lain Rasanya

Kamu percaya nggak bahwa kita semua punya sifat dasar? Bukannya bermaksud rasis ya, tapi nggak bisa dipungkiri bahwa sifat dasar tiap ras itu ada. Misalnya, ...