Art

Karya yang merayakan kehilangan

0

Kehilangan nggak selalu harus menjadi alasan untuk terus bersedih, karena sebenarnya ada pelajaran yang kita dapatkan dari setiap kehilangan yang kita alami. Mungkin bukan saat kehilangan itu terjadi, tapi lama setelahnya. Begitu pula dengan kehilangan yang terjadi dalam dunia seni.

Dimusnahkan, dibuang, dirusak, dicuri, ditolak, dan sebagainya. Hal-hal yang nggak menyenangkan seperti ini nggak cuma dialami oleh manusia, tapi juga beberapa karya seni yang terbilang penting selama 100 tahun terakhir. Benda-benda ini udah hilang, dan nggak mungkin terlihat atau ditemkan lagi. Penyebabnya hilangnya bisa karena sengaja, atau karena ketidaksengajaan – misalnya karena perang, kekerasan, sensor, atau memang diciptakan hanya untuk bertahan beberapa saat. Kehilangan-kehilangan inilah yang akhirnya secara diam-diam telah membentuk sejarah seni modern atau modern art.

the gallery of lost art

Sebuah situs yang dibuat sebagai online gallery, “The Gallery of Lost Art”, yang dikurasi oleh Tate Media dan Tate Research, dan didesain oleh sebuah studio digital ISO baru aja selesai mengadakan pameran online, dan pameran ini udah berakhir sejak tanggal 3 Juli 2013 kemarin. Pendanaannya didapat dari Channel 4, The Arts, dan Humanities Research Council (AHRC). Situs ini dibagi dalam beberapa bagian, yaitu: Unrealized, Ephemeral, Rejected, Stolen, Discarded, Transient, Erased, Lost, Missing, Destroyed, Attacked.

Galeri ini nggak cuma memamerkan foto dari karya-karya seni yang hilang itu, tapi juga memaparkan presentasi tentang benda-benda itu, seperti misalnya pengaturan pixel-nya, teknik yang dipake, sirkulasinya, juga teks yang menyertai karya-karya itu. Meskipun galeri ini hanya seumur jagung dan “hanya” dapat dikunjungi di dunia maya, tapi Gallery of Lost Art ini udah memenangkan SXSW Interactive Awards. SXSW adalah festival musik, film, dan teknologi kreatif terbesar di dunia yang diadakan setiap tahun di Austin, Texas.

the gallery of lost art

Salah satu karya yang bisa dilihat oleh para pengunjung galeri itu adalah sebuah lukisan karya Willem de Kooning yang diberi judul “Untitled”.  Juga ada sebuah lukisan cat minyak karya Joan Miro yang dibuat di tahun 1937, The Reaper. Miro mendonasikan lukisan ini kepada partai Republik ketika itu, dan karena ukurannya besar, maka dipecah jadi 6 bagian dan dikirim untuk pengapalan ke Ministry of Fine Arts di Valencia. Setelahnya, lukisan ini hilang. Bisa jadi karena saat tiba di Spanyol, lukisan ini rusak jadi dibuang…

Reaper

Berapa biaya yang dibutuhkan untuk membangun galeri virtual ini? Nggak kurang dari $450.000 yang sebenernya bisa dibuat untuk membangun sebuah museum beneran. Jadi ngapain ya mereka “buang-buang uang” untuk proyek ini?

Karena mereka ingin merayakan kehilangan. Karena dalam setiap kematian ada kelahiran akan sesuatu yang lebih baik lagi.

Kehilangan apa yang ingin kamu rayakan?

About author

No comments

Dewiyanti Yusup

Dewiyanti Yusup adalah seorang freelancer lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Trisakti, Jakarta. Perempuan yang mempunyai hobi nonton dan gambar ini sudah berkenalan dengan seni sejak ia ...