Art

Jangan Katakan Ini Kepada Para Seniman

11

People_Children_Young_artist_023259_

Apakah pacar kamu seniman? Atau mungkin, kamu punya teman, kenalan, kerabat yang seniman, entah itu pelukis, penulis, atau apapun? Hmmm… Begini, banyak orang yang belum bisa ngerti kegiatan seorang seniman, jadi terkadang muncul pertanyaan atau komentar aneh.ย Mengritik itu boleh-boleh aja, tapi mengritik itu beda jauh sama menghina. Sayangnya, kita kadang nggak sadar bahwa omongan kita yang kita anggap biasa aja, malah terdengar seperti hinaan di telinga mereka. Kayak gimana tuh, misalnya?

Satu

Jangan pernah menghina pekerjaan mereka. Jadi seniman jaman sekarang itu kalau sukses nggak kalah mapannya kok sama mereka yang kerja kantoran. Jadi jangan pernah menganjurkan mereka untuk mencari pekerjaan lain, apalagi ngomong sesuatu seperti, “Mau makan apa kamu?” Jangan. Jangan pernah. Itu sangat menyakitkan lho. Biarkan mereka berkarya dan kalau kamu memang sayang, kamu malah harus memberi semangat dan mendukungnya.

Dua

Kalau mereka bagus, itu artinya memang mereka berbakat. Bukan karena peralatan yang mereka pakai. Paling sering ini terjadi pada fotografer sih. Kadang kita nggak sadar ngomong gini, “Fotonya bagus banget sih? Pasti kameranya mahal!” Ya semahal-mahalnya kamera kalau yang menggunakan nggak punya bakat fotografi juga nggak akan bagus dong fotonya. Selain itu, dengan ngomong begini kesannya kamu meremehkan mereka lho… Nggak sadar kan?

Tiga

Jangan pernah tanyakan hasil penjualannya. “Gimana, buku kamu udah laku berapa?” Duh. Kalau penjualannya bagus, pasti mereka akan cerita kok ke kamu, tanpa kamu harus nanya. Kalau mereka diam aja, ya mungkin mereka sendiri lagi deg-degan, jadi jangan buat mereka tambah stress lagi dengan pertanyaan semacam itu…

Empat

Ide. Jangan sok tau. Mereka lebih tau apa yang lebih baik untuk karya mereka. Warna, misalnya. Tiap orang kan seleranya memang berbeda, dan karya seni itu harusnya mencerminkan selera senimannya, bukan selera kamu. Kamu nggak suka, orang lain pasti ada juga yang suka kan? Kalau dia seorang penulis, kamu juga nggak berhak sok mengomentari hal yang kamu sendiri nggak ngerti, kecuali kamu memang sastrawan atau kamu editornya. Begitu.

Lima

“Lukisan ini berapa lama sih selesainya?” Begini. Setiap orang punya gaya dan pengaturan waktu yang berbeda-beda. Ada pelukis yang baru bisa melukis ketika semua orang sudah tidur, ada yang bisa bekerja dalam keadaan seberisik apa pun. Bagus atau nggaknya nggak tergantung dari berapa lama karya itu dibuat.

Enam

Membanding-bandingkan. Karena semua orang punya gayanya masing-masing, dan satu sama lain nggak ada yang lebih baik atau buruk, karena dalam dunia seni itu memang seperti itu. Jangan pernah bilang bahwa lukisan si A itu lebih bagus dari lukisannya, atau tulisan si penulis “kacangan” itu malah lebih bagus dari karya temanmu yang sukses buat bukunya jadi best seller. Kamu sendiri bisa nggak melukis atau menulis seperti itu? Hehe…

Tujuh

“Kamu lulusan mana?” Memang mereka yang punya kesempatan untuk sekolah seni punya dasar teori yang lebih baik, tapi bukan jaminan akan jadi seniman yang sukses nantinya. Sama seperti kita, misalnya, yang kuliah di bidang ekonomi. Kadang sarjana ekonomi nggak lebih pintar dari anak kecil yang dagang asongan lho dalam cara menghitung hasil dagangan. Ya kan?

Jadi, marilah saling menjaga perasaan masing-masing. Itu sudah lebih dari cukup. Kalau kita nggak bisa mengeluarkan kata-kata yang positif, mungkin kita lebih baik diam. Itu lebih baik.

Sumber gambar: zavtaski.com

11 comments

  1. Tetarik 19 January, 2014 at 10:17 Reply

    Kalau seniman yg rendah hati mereka pasti don’t mind kalaupun ada yang mengatakan hal seperti diatas. Nggak terlalu penting.

  2. Cilukba 21 January, 2014 at 07:15 Reply

    “Kamu sendiri bisa nggak melukis atau menulis seperti itu? Heheโ€ฆ”. Ini adalah argumen yang tidak pas dan paling tidak enak dibaca entah dimanapun itu. Karena dengan logika seperti itu kita kalau mau mengkritik sesuatu harus bisa membuat sendiri. Coba kalau beli barang; anggap saja HP. Kita bilang hp ini jelek, ga bermutu, dll. trus dibilang “kamu bisa ga buat sendiri?”. Kalau begitu siapa yang bisa mengkritik? harus yang buat hp dulu baru boleh kritik?. Bagaimana dengan mobil atau motor atau komputer atau apapun itu?.

  3. hht 21 January, 2014 at 08:01 Reply

    Tulisan ini sama sekali tidak salah, hanya konteksnya yang terlalu sempit. Bisa saja judulnya menjadi: JANGAN KATAKAN INI KEPADA PARA TUKANG BECAK.
    1) Jangan menghina –> Betul, siapa yang suka dihina walaupun dia tukang becak. Banyak tukang becak yang mampu menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi.
    2) Bukan karena alatnya yang mahal –> Semahal2nya becak, kalo tidak digenjot ya ngga bakalan jalan.
    3) Jangan tanyakan hasilnya –> Kalau lagi sepi penumpang tukang becak juga pasti bad mood.
    4) Jangan sok tau –> Jangan berteori tentang cara mengayuh becak. Coba lakukan sendiri, pasti ngos-ngosan.
    5) Menuntut hasil yang nyata/cepat –> Sama saja dengan minta tukang becak mengayuh dengan kecepatan 60 km/jam.
    6) Jangan membanding2kan –> Kalau kamu merasa naik kendaraan lain lebih nyaman, ya jangan naik becak tanpa harus ngomong: “Bang, saya ngga mau naik becak abang, mending naik mobil aja” (so what?)
    7) Kamu lulusan mana? –> Ya jelaslah, kalo dia sarjana lulusan universitas top ngga bakal mau jadi tukang becak ๐Ÿ˜€
    Itu cuma ilustrasi bahwa semua profesi juga harus dihargai, tidak hanya seniman. ๐Ÿ™‚

    • Tri Ramadhanu 22 January, 2014 at 03:06 Reply

      setuju.. semua profesi sama..
      contohnya kemarin temen2 dari dokter mogok, “biar tau rasanya kalau semua dokter mogok gimana.”
      HELO!? dia pikir kalo semua SPBU tutup dia bisa berangkat ke kantor? Dia pikir kalo semua tukang sapu jalan mogok, jalanan akan nyaman dilewati?
      Intinya semua pekerjaan sama pentingnya ๐Ÿ™‚

  4. Sundea 8 May, 2014 at 16:11 Reply

    Mungkin yang agak mendekati, ada otoritas seniman di karyanya yang memang harus kita hormatin. Ngasih saran boleh aja, ngritik juga nggak apa-apa, asal tetep tau etikanya, nggak merintah-merintah si seniman untuk bikin sesuatu berdasarkan maunya kita. Seniman itu beda cara kerjanya sama tukang ๐Ÿ˜‰

    “Laku atau enggak” point-nya lebih ke gimana kita ngehargain si karya itu sebagai karya, bukan nilai nominalnya. Itu beda, lho. Kalo kita beli barang, mungkin lebih gampang nentuin harganya berdasarkan hal-hal yang lebih konkret kayak misalnya apa bahannya, tahan banting atau enggak, nyaman atau enggaknya dipake … tapi karya seni kan bukan itu ukurannya. Kita nggak bisa ngeliat harga karya seni berdasarkan misalnya mahalnya cat yang dipake, kualitas bahan bakunya, fungsional atau enggak … ada nilai lain yang lebih abstrak daripada itu.

    Terus, orang yang bener-bener punya drive seniman, biasanya kerja berdasarkan hatinya. Makanya di lagunya Titiek Puspa yang “Si Hitam” ada teks “baik budi seperti seorang seniman”. Karya itu seharusnya sesuatu yang tulus dari hati, dari kegelisahan dan refleksi, yang impact-nya lebih mirip sama doa daripada aturan.

    Kita sering liat seniman nggak gampang ditebak. Bisa tiba-tiba nggak mau aja bikin karya buat kita, tapi bisa tiba-tiba ngasih sesuatu ke kita lebih daripada yang kita harepin. Kalau kita pikir ukurannya bergantung berapa kita ngebayar mereka, itu sangat mungkin nyinggung perasaan mereka. Kalau kamu punya orang deket seniman atau yang drive senimannya kuat, sebaiknya kamu aware sekali sama hal ini. Jadilah inspiratif buat mereka, otomatis kamu bakal jadi bagian dari karya-karya mereka ^^

    Begitulah kira-kira. Jadi panjang lebar begini deh Dea.

    Semoga nggak nyinggung siapa-siapa dan memperjelas ya … :*

  5. bencikopikucing 28 May, 2014 at 16:46 Reply

    ‘jadi designer kan bisa asal menguasai photoshop, selama pesannya tersampaikan kan beres’ -> diucapkan oleh seseorang yang merasa jadi designer bisa dilakukan oleh semua orang (tapi biasanya dilakukan oleh orang2 berotak lemah). Menyesal gue gak nendang dia waktu itu.

  6. dts 3 October, 2014 at 09:25 Reply

    Jadi takut ngobrol sama seniman. Atau ga usah ngobrol aja? Bagi saya semua komentar tersebut sangat mungkin terjadi di setiap pembicaraan, terlepas dari profesinya (setuju sama “hht”). Bagaimana cara kita menangkap dan menanggapinya aja kan.

    Kalau berdasarkan tulisan ini, saya mau bilang kalau seniman itu sensitif banget. Itu juga ga boleh diomongin? ๐Ÿ™‚

    Mungkin saya lebih baik diam….

Post a new comment

I Left Korea for the American Dream, And…

Kebanyakan pendatang di Amerika Serikat mengejar yang disebut orang sebagai “American dream”, tak terkecuali seorang pemuda dari Korea yang memutuskan untuk hijrah ke Amerika Serikat ...