Art

Ketika Sapuan Warna Menari-nari

0

Dalam artikel kali ini, Kopling ingin mengajak kita semua untuk berkenalan dengan seorang seniman kelahiran Inggris yang saat ini tinggal di New York City. James Nares, namanya. Dia bukan hanya seorang pelukis, tapi juga pembuat film dan pemain gitar.

Tapi apa istimewanya seorang James Nares ini?

COACH-X-JAMES-NARES-COLLECTION-BAGS-USA-NEW-YORK-HONG-KONG--JAPAN-SINGAPORE-ARTISTIC-ITALIAN-CANVAS-LEATHER-SPRING-SUMMER-2012_thumb[6]

James Nares (sumber: ggpht.com)

Dirinya dikenal sebagai seorang pelukis kontemporer yang menggunakan tarikan garis yang menarik. Ketika sedang berkarya, ia menggantungkan dirinya pada semacam katrol agar dapat melayang di udara sembari menyapukan kuas ke kanvas atau apapun media yang ia gunakan. Nares terkenal akan single-stroke brush yang menjadi ciri khasnya ketika berkarya. Waktu ngeliat karyanya, Kopling merasa bagaikan menyaksikan tetesan larutan berwarna-warni ke dalam gelas transparan berisi air dalam gerak lambat. Grace Glueck, seorang kritikus seni dari New York Times mendeskripsikan efek dari lukisan Nares sebagai perpaduan antara kaligrafi Jepang dan kartun tahun 1960-an karya Roy Lichtenstein. Sementara sang seniman sendiri mendeskripsikan karya sebagai berikut:

In-Three-Words-All

Salah satu karya James Nares (sumber: durhampress.com)

“I try to embody the nature and combine the forms—it’s like one and one making three—to expose a metaphor of some kind. It’s searching for metaphors, for likeness, like a breeding ground. It seems to me, that’s how a language develops. Everything breeds through metaphors.”

“Rasanya seperti menari,” demikian Nares menceritakan apa yang dialaminya setiap kali melukis. Terkadang ia melakukan uji coba ratusan kali sebelum dia puas dengan hasilnya.

faceaddict2

James Nares ketika berkarya (sumber: wordpress.com)

Karya-karya Nares sudah sering ditampilkan dalam berbagai film dan video, serta dipamerkan di berbagai museum di Amerika Serikat, seperti Museum of Modern Art di New York,  the Albright-Knox Art Gallery di Buffalo, NY, dan the Whitney Museum of American Art di New York. Dan keindahan lukisan karya Nares ini di tahun 2012 menggoda Coach, sebuah perusahaan tas kulit mewah asal Amerika Serikat, untuk mengadakan kerjasama dengan Nares. Hasilnya adalah serangkaian tas indah yang dilukis di atas kanvas Italia dan bahan organik.

coach-james-nares

Karya James Nares untuk Coach (sumber: purseblog.com)

Sementara dalam dunia perfilman, karya Nares yang paling menonjol sejauh ini adalah “Street”, yang pada tahun 2013 kemarin diputar di Metropolitan Museum of Art. Film ini sedikit mengingatkan Kopling dengan film “Jalanan”, sebenarnya. Bedanya, kalau “Jalanan” mengambil tema tentang kehidupan kota Jakarta, “Street” adalah sebuah film seni yang dibuat karena obsesi James Nares terhadap New York City. Berikut cuplikannya:

Kota New York yang sebenarnya sangat sibuk diperlambat oleh James Nares dalam film tersebut. Semua gerakan dalam “Street” direkam dalam gerakan slow motion. Film iin dibuat oleh Nares dari balik jendela mobilnya dengan menggunakan kamera “murahan” dengan resolusi rendah. Dan saat pembuatan film ini, Nares bahkan sempat dihentikan oleh seorang polisi di jalanan.

Menurut Nares sendiri, film “Street” ini sangat menarik karena dalam film ini kita dapat melihat keindahan dalam harga diri setiap manusia yang ada dalam film tersebut. Sama seperti “Jalanan”, “Street” adalah film tentang kemanusiaan. Tapi bedanya, dalam film ini, orang-orang yang ada dalam film tersebut nggak sadar bahwa mereka sedang diamati. Nares memang hanya ingin mengangkat tentang orang-orang yang ada di kota tersebut, bukan tentang kotanya atau bangunannya. Ada rasa sepi yang menyeruak di tengah keramaian kota. Ada rasa hampa di sana.

Dan sebagai penutup, Kopling ingin mengutip lagi kata-kata James Nares tentang film “Street”:

“It’s important for people to feel good about themselves, even in their most awkward moments. Those moments are beautiful too.”

Sudahkah kamu merasa nyaman dengan dirimu sendiri, apa pun situasi yang tengah kamu hadapi saat ini?

No comments

Jika Penulis Klasik Bermain Media Sosial

Penulis jaman sekarang itu enak karena lebih gampang dikenal orang melalui media sosial. Yang followers-nya banyak di Twitter lebih enak lagi, karena tanpa “bantuan” promosi ...