Art

Ilustrasi Multi Budaya

0

Sebagai seorang ilustrator yang lahir di Hong Kong dan sekarang menetap di New York, karya-karya Victo Ngai menjadi jembatan budaya tradisional Timur dan gaya modern Barat. Seperti yang tertulis di website-nya, nama “Victo” bukannya typo, tapi diambil dari kata Victoria, yaitu nama yang ia peroleh sewaktu ia bersekolah di TK di Inggris. Saat itu guru-gurunya sulit memanggil nama aslinya, Ngai Chuen Ching, jadilah mereka memanggilnya Victoria. Tapi, karena teman-teman sekolahnya yang berkebangsaan Cina susah menyebut nama Victoria, maka ia pun dipanggil Victo. Sejak itu ia memakai nama Victo Ngai.

Mungkin seperti kebanyakan orang yang lahir di kondisi multi budaya, Victo juga sempat mengalami semacam krisis identitas (hehehe). Ia bisa berbicara bahasa Mandarin, Kanton, Inggris, dan Jepang. Ia bersekolah di sekolah Kristen, tapi nggak beragama Kristen. Ia mempunyai paspor Nasional Inggris, tapi bukan orang Inggris. Ia warga Hongkong, tapi nggak punya KTP Cina. Orang tuanya tinggal di Hongkong, sementara kakek neneknya adalah orang Cina yang tinggal di Amerika, dan Victo meneruskan sekolahnya di Rhode Island School of Design di Amerika. Nah, lho!!

Tapi setiap peristiwa selalu ada hikmahnya bukannn? Karena itu juga karya-karya Victo sangat multi rasa. Ia selalu membubuhkan kesan tradisional Cina di dalam setiap karya-karyanya yang bergaya modern. Ia telah banyak mengerjakan proyek mulai dari The New Yorker, New York Times, McDonald’s, Adidas, dan masih banyak lagi.

Lihat aja nih contoh beberapa karyanya yang keren-keren banget.

Besar di situasi yang multi budaya bukan berarti terpengaruh budaya luar dan melupakan budaya asal kan? Malah dengan memberikan sentuhan lokal dalam setiap karya membuat seseorang mempunyai ciri khas yang menonjol. Victo Ngai, salah satu contohnya! Jadi, jangan pernah lupakan kelokalan kamu di manapun kamu berada dan pada apapun yang kamu kerjakan.

 

Artikel oleh: @Patipatigulipat

About author

No comments

Sampah Pun Bisa Tampil Menarik

Masih inget nggak dengan Jakarta Urban Play Projects-nya Irwan Ahmett dan Tina Talisa? Atau Honkey Kong-nya Christian Aslund? Keduanya sama-sama mengeksplor hal-hal sederhana yang sangat ...