70sOC Electric Love: Funkified

0

Musik funk lahir di era 70-an dan merupakan evolusi dari musik soul/R&B tradisional kaum kulit hitam Afrika Amerika. Berkembang dengan semangat pemberontakan dan ekspresi diri, funk berkembang menjadi musik bersemangat untuk bergoyang dan pernyataan soal kesetaraan ras. Jejak musik funk kemudian kentara pengaruhnya pada semua musik dance, baik itu disko klasik 70-an maupun musik kekinian elektronik/EDM.

Di Indonesia, musik funk bagaikan hantu. Banyak lagu bernuansa funk, namun band beraliran funk sangat sedikit. Sepanjang sejarah, musik populer di Indonesia juga sama. Di era 70-an lagu-lagu funk ada pada The Rollies, Koes Plus dan Rhoma Irama. Namun, tetap nyaris tidak ada album/band Indonesia yang kental unsur funk-nya. Tahun 90-an-2000-an mulai banyak musisi bermain funk. Beberapa di antaranya Humania, Sahabat Lama (1996), dan Funky Kopral, Funkchopat (1999) serta The Groove yang punya lagu berjudul “Funkier Than Ever” di album Kuingin (1999). Di era 2010-an saat ini mulai banyak album-album funk yang lebih kental, mulai dari Maliq & D’Essentials, Art of Tree, TOR hingga 70sOC.

Benarkah asumsi ini?

Jawabannya ada pada 70sOC Electric Love: Funkified yang menawarkan sebuah funk experience, sebuah Hearing session yang memutar lagu-lagu dari album Electric Love, 70sOC, diskusi tentang funk di musik Indonesia, menonton pertunjukan musik oleh 70sOC, acara dansa-dansi dengan iringan lagu-lagu funk/disko Indonesia tempo dulu dan sekarang.

Januari 2018 menandakan tepat setahun dirilisnya album penuh 70sOC berjudul Electric Love. Band yang tadinya beranggotakan Anto Arief, Gantira Sena, dan Galant Yurdian ini menyadari bahwa musik funk ternyata masih terasa asing bagi masyarakat Indonesia. “Padahal banyak sekali lagu yang menyelipkan nuansa funk dan kita dengar sehari-hari. Tengok saja karya dari nama-nama besar seperti The Rollies, Koes Plus, Rhoma Irama hingga Maliq & D’essentials. Akan tetapi, sangat sedikit band yang mengkhususkan diri pada genre tersebut. Semoga saja acara ini bisa membuka lebih jauh wawasan teman-teman terkait musik ini sekaligus memetakan talenta atau pendengar funk di Bandung,” tutur Anto selaku frontman.

70sOC sendiri siap mempersembahkan penampilan spesial yang dilengkapi instrumen tambahan seperti seksi tiup dan perkusi. Di sesi hearing session dan diskusi, turut pula mengundang Idhar Resmadi sebagai moderator, Reynold Marshall (gitaris Kelompok Penerbang Roket, yang dulu pernah punya band funk, Speakeasy), Tanto Putrandito (kibordis The Groove), serta DJ Munir dari Midnight Runners pun siap menjadi sajian pamungkas dengan memutarkan lagu-lagu funk Indonesia era 70-80an. Keseluruhan acara dikemas dengan nuansa intim, sehingga pihak-pihak yang hadir dapat saling mengakrabkan diri.

Selain misi di atas, Anto juga memanfaatkan momen ini untuk memperkenalkan personil baru 70sOC. “Ada Fabian Gifarian yang menggantikan Galant di bass. Saya pikir ini saat yang tepat untuk memperkenalkan dia secara khusus,” ucapnya. Ini merupakan kali ketiga 70sOC merombak formasi, terhitung sejak masih bernama 70s Orgasm Club.

70sOC Electric Love: Funkified akan diadakan pada 18 Januari 2018 di Spasial, Jl Gudang Selatan No 22, Bandung. Acara dimulai pukul 16:00 hingga 22:00 dengan harga tiket rp 20.000,-. Untuk informasi lebih lengkap dapat mengunjungi media sosial 70sOC.

About author

No comments

Robusta vs Arabika

Saat sudah dipanggang, semua biji kopi kelihatannya sama saja. Tapi padahal banyak perbedaan mendasar di setiap jenis biji kopi, arabika dan robusta, misalnya. Biji kopi ...