Kopi Keliling Volume_0 Artworks Part 2

0

Poppy Rahayu_lores

Catfish/ˈkæt.fɪʃ/, 2014
Poppy Rahayu
Ink on Wood, 30 cm × 40 cm

Catfish /ˈkæt.fɪʃ/ adalah suatu istilah yang biasa digunakan pada dunia maya untuk menyebut seseorang yang berpura-pura menjadi orang lain dan memakai identitas palsu, entah dengan menyantumkan nama maupun foto palsu, khususnya pada jejaring sosial. Validitas pada dunia internet kerap sulit dilacak keasliannya dan sering menimbulkan salah kaprah. Sementara itu, para catfishes ini secara berkelompok bebas mengarung di antara dua jagat, dunia nyata dan dunia maya.

 

Felixitas-Citra

Berimbas pada ayam, 2014
Felixitas Citra
Silkscreen on paper

Menggambarkan dua mitos tentang ayam: bangun kesiangan rezeki dipatok ayam & makan harus habis agar ayamnya tidak mati. Di balik mitos ini tersirat makna yang baik dan berguna untuk kehidupan.

 

Puthut-Aldoko-Wilis-(Bobo)_lores

Beware with Your Coffee Seed, 2014
Puthut Aldoko Wilis (Bobo)
Graphite, Charcoal, Pastel on wood panel, 30 cm x 30 cm

Konsep karya saya adalah mengenai kolerasi antara biji kopi dan pemikiran manusia. Biji kopi, pada segala macam olahannya menjadi bibit/sumber kekuatan rasa yang terkandung didalamnya. Semakin berkualitas biji kopinya, semakin pintar mengolahnya maka akan menimbulkan rasa sajian kopi yang nikmat pastinya. Seperti halnya pada manusia, jalan pemikiran manusia adalah segala sumber dari perbuatan yang akan dilakukan. Seringkali spekulasi pemikiran instant manusia menimbulkan efek yang buruk setelahnya. Maka diharapkan dari penyampaian konsep karya ini, kita bisa lebih berhati-hati dalam menentukan jalan pikiran, supaya tidak menimbulkan kesalahan kaprahan yang berlarut.

 

Sakinah-Alatas_lores

Sakinah Alatas
Mix media on canvas
Variable dimension 20x30cm

Kawasan puncak Bogor, Jawa Barat selain menjadi lokasi liburan para warga- warga kota di sekitarnya juga turis-turis mancanegara, dalam hal ini orang Arab menjadi hal yang menarik untuk dibahas jauh lebih dalam. Banyak lokasi di kawasan ini dijadikan tempat “berekreasi” ataupun sekedar melepas lelah dari kepenatan suasana kota besar, hal ini mungkin dikarenakan iklim dan suasananya yang masih cenderung asri.

Terlepas dari itu semua, ada sebuah fenomena yang menarik dari kawasan ini, wisata sex bermoduskan kawin kontrak menjadi marak dilakukan oleh pria Arab dengan wanita lokal (warga kawasan cisarua, Bogor). Budaya yang dibawa dari timur tengah ini dipahami secara dangkal oleh warga-warga yang ikut menyelenggarakan aktifitas ini. Tidak bisa dipungkiri, uang menjadi landasan warga lokal untuk memfasilitasi hasrat sex para pria arab ini.

Nampaknya hal ini diyakini oleh warga yang ikut andil dalam wisata sex bermoduskan kawin kontrak tersebut adalah sebuah kebenaran, dikarenakan doktrin dari orang-orang arab yang katanya menghalalkan konsep kawin kontrak.
Alhasil banyak sekali anak kecil (berwajah arab) yang terlantar dan kurang pendidikan di kawasan ini, ibunya sibuk melakukan aktifitasnya dan bapaknya tak tau ntah kemana, atau sudah kembali ke Negara asalnya

 

Rahedie-Yudha-Pradito_lores

Chasing the Yellow Light, 2014
Rahedie Yudha Pradito
Oil and Acrylic On Canvas (16 x 12 inch)

“Salah kaprah pengendara kendaraan bermotor di Indonesia tentang menyikapi lampu lalu lintas khususnya lampu kuning, karena selama ini lampu kuning dianggap kesempatan terakhir untuk menginjak pedal gas demi mengejar waktu sebelum lampu merah menyala. Padahal kenyatannya lampu kuning merupakan tanda agar pengendara berancang-ancang menginjak rem untuk menghentikan kendaraannya.”

Saya memilih karya ini karena saya merasa geram setiap kali saya berada di lampu merah melihat para pengendara bermotor selalu menerobos lampu merah atau kuning, apa susahnya mematuhi peraturan, sesimpel menginjak rem dan menunggu, baik dalam kondisi dan alasan apapun. Jika mereka mau berpikir sedikit efek yang dtimbulkan berikutnya baik untuk dirinya maupun orang lain baik di jalanan maupun di sisi kehidupan yang lainnya. Dari hal ini saya juga berfikir salah satu alasan dasar mengapa Indonesia tidak bisa lepas dari kasus korupsi ya mungkin karena dari individu paling kecil dari masyarakat kita masih suka berfikir individualis, mementingkan kepentingan sendiri diatas kepentingan bersama, tidak peduli efek apa yang akan ditimbulkan bagi orang banyak atas tindakan yang dia lakukan.

 

Varsam-Kurnia_lores

Likes, 2014
Varsam Kurnia

I want to portray how much we like and value the ‘likes’ we get from all social medias, how it is becoming such a norm for us to judge a certain quality or credibility of said object from how many little thumbs up it can gather. Portrayal how praises are now bottled up, beauty and ego, they are all available in a world where the likes are a currency, and we pay for our life’s qualities with it.

 

Bagas-Nurrochman_lores

The Pantomime, 2014
Bagas Nurrochman
Water colour on Canson Paper, 30 cm x 40 cm

Saya mencoba mengangkat masalah acara televisi di Indonesia yang semakin hari semakin bermunculan acara televisi yang mengganggu. Semakin lama semakin banyak serial televisi yang meniru persis cerita dari film film yang pernah sukses di negara lain namun dibuat dengan kualitas yang buruk. Dalam hal ini semakin lama, kualitas acara televisi di Indonesia semakin memburuk. Dari film-film yang ditiru beberapa diantaranya saya pernah melihat versi aslinya, dan menurut saya itu merupakan sebuah film yang sangat bagus, akan tetapi saat film tersebut dibuat dalam versi Indonesia film tersebut bisa dikategorikan sebagai film yang buruk baik secara cerita maupun kualitas film. Saya masih belum tau pasti apa penyebab menjamurnya acara-acara yang sedemikian, mungkin karena masyarakat menganggap acara-acara tersebut menarik. Saya telah melakukan riset kepada masyarakat dan melakukan beberapa wawancara mengenai hal tersebut dan kebanyakan orang mengetahui bahwa kebanyakan serial televisi yang ditayangkan sekarang terang-terangan meniru serial atau film-film dari luar negeri , akan tetapi mereka tetap menonton acara tersebut karena penasaran.

 

Dwi-Aji-Susilo-Jati-Kusumo_lores

Your choice, 2014
Dwi Aji Susilo Jati Kusumo
water colour, ink and pen on canson paper.

Kalau lo hidup di jaman sekarang tanpa disadari lo pasti nyadar akan banyaknya salah kaprah yang terjadi di lingkungan sekitar lo. Salah satunya yang menggangu pikiran gue itu adalah perilaku anak-anak remaja jaman sekarang (sd-smp-sma). Di era seperti sekarang ini banyak banget sesuatu yang salah dan gak semestinya dilakukan menjadi hal yang lumrah atau biasa aja dikalangan tertentu. Kenapa gue bilang dikalangan tertentu? Ya karena sesuatu yang salah itu datang dari kalangan yang engga peduli dan gamau sadar.

Jaman sekarang semua pake duit, nah semakin orang tuanya sibuk nyari duit dll, pengawasan terhadap anak berkurang dan terkesan gapeduli. Disini anak gak ada yang ngawasin dan pastilah dia melakukan sesuatu yang diluar sepengetahuan orang tuanya, ditambah lagi sama teknologi yang memanjakan mereka untuk mendapat sesuatu secara instan. Informasi dan tontonan yang mereka dapat juga gak diawasi sama orang tua mereka.

Misalkan anak dan orang tuanya di ruang tamu nonton sinetron atau acara acara lain di tv, padahal orang tuanya tau disitu ada anaknya dan dia lagi nonton acara sinetron yang dikhususkan emang buat ibu-ibu. Kemarin juga ada berita yang anak SD abis nonton film porno terus ngelakuin adegan yang sama di kelasnya. Belum lagi anak SD yang ngeroyok teman sekelasnya. Ada juga pedagang yang emang gak peduli sama pembelinya, yang penting dagangan laku, contohnya anak kecil yang beli rokok dengan gampangnya tanpa ditanya ini itu. Ngeliat dangdutan di acara pernikahan orang sampai larut malam, dibiarin sama orang tuanya karena besok libur. Sedangkan dangdutan udah pasti biduannya dandan menor dengan baju minimalis, belum lagi kelakuan si penyawer. Nongkrong dipinggir jalan dengan main gaple atau kartu, meniru bapak-bapak yang sering mereka lihat. Orang tua ngajarin anaknya naik motor padahal anaknya masih SD kelas 4, sanggahnya sih ya biar nanti bisa dan berangkat sekolah sendiri tanpa menyulitkan orang tua. Serta orang tua bisa juga nyuruh anaknya beli beras atau benda benda lainya jadi gampang. Di ajarkan naik motor tetapi gak diajarin rambu-rambu dan peraturan serta resiko dalam berkendara motor. Semua contoh kasus di atas juga terkadang tertuju pada orang tua gak mau di ganggu sama anaknya, jadi nyuruh anaknya main keluar rumah.

Sedangkan yang ada di fikiran gue itu orang tuanya peduli terhadap pergaulan anak-anak meraka, dan nanyain gimana hari mereka, itu menurut gue cukup. Kalau bisa malah keluar main atau refreshing ke taman dan tempat-tempat permainan lainnya. Serta diajarin yang baik dan benar. Pokoknya masa-masa seperti meraka lagi banyak pengentahunya dan itu harus diarahin. Anak muda adalah penerus bangsa. Dan semoga aja kata-kata yang sering gue denger itu bukan cuma kata-kata.

 

Winny-Astrini_lores

Ini gambar
Winny Astrini
Water Color, Pencil on Wood 14 cm x 14 cm

Visual yang ditampilkan layaknya informasi yang kita lihat, ketika melihat karya ini pasti kita dapat langsung mengetahui dan menyimpulkan objeknya, padahal itu semua belum tentu benar, tulisan kecil “ini bukan” ,”ini gambar” adalah informasi yang akan di tuliskan kecil di bagian bawah yang mana ini, menunjukan kebenaran maksud dari karya, yaitu “ini bukan” dan “ini gambar” ,bahwasannya output karya yang dibuat ialah gambar, maka dapat disimpulkan ,haruslah kita lebih banyak membaca dan mencari tahu kebenaran sebuah hal, jangan hanya melihat dari 1 sisi keseragaman, haruslah di teliti lebih dalam lagi agar tidak salah kaprah dalam menanggapi sesuatu.

 

Horestes-Vicha-Ursaprima_lores

Budaya Sanding Budaya Tanding, 2014
Horestes Vicha Ursaprima
Mixed media on wood, 33 cm x 47 cm

Kepopuleran bukan dipandang sebagai keniscayaan hukum kerja, di mana populer merupakan sebab akibat dari kecakapan ideal dan cakupan faedah publik atas profesi yang lekat pada diri seseorang, melainkan lebih dipercaya sebagai ruang pencitraan yang bisa dikonstruksi peranti dan ritmenya.
Dunia kesenian dan kesenimanan, sebagaimana sempat dilontarkan kurator Edy Soetriyono, adalah dunia dengan lapis-lapis kasta. Artinya, derajat dari pencapaian seorang perupa, pun kurator, pastinya bertingkat-tingkat. Kasta berbasis kualitas capaian. Menurut saya memang harus ada dalam jagat kesenian. Jika tidak, dapat dibayangkan betapa rancu pemahaman kita tentang siapa perupa, siapa berpura-pura sebagai perupa, ataupun siapa yang layak sebagai perupa. Medan kesenian membutuhkan kasta atau dalam konteks yang lebih strategis kesenian membutuhkan “liga seni”.

 

About author

No comments

Cara Lebih Hemat untuk Ngopi

Jaman dulu ongkos buat ngopi itu jauh lebih murah dibanding jaman sekarang. Dimaklumi sih, karena jaman dulu orang belum sebanyak sekarang yang milih untuk nongkrong ...