Seniman Juga Manusia

0

Seniman juga manusia, mereka nggak terlepas dari kesalahan dan kekhilafan – tapi yang sering terjadi adalah ketika seorang seniman terkenal, yang tadinya didewa-dewakan karena karya-karya besarnya, ketahuan oleh publik melakukan perbuatan tercela, masyarakat dan para penggemarnya langsung menjauhi mereka. Popularitas mereka pun jadi merosot, dan orang jadi ogah melirik karya mereka lagi. Padahal, seniman, sekali lagi, juga manusia – dan bukan tokoh agama yang dituntut untuk selalu berperilaku benar.

woodyallen

Hal ini nggak cuma terjadi di negara-negara timur seperti Indonesia yang menjunjung tinggi moralitas, tapi ternyata di budaya barat, juga berlaku hal yang sama. Kasus yang baru terjadi adalah Woody Allen, seorang pembuat film yang sudah sangat terkenal. Keadaan menjadi semakin parah ketika media sosial ikut berperan serta menghakimi serta mencaci-maki pemenang Oscar ini.

Seniman seakan-akan nggak punya kehidupan pribadi. Itu memang sudah resiko, sebenarnya. Masyarakat merasa memiliki mereka, jadi merasa berhak untuk memasuki kehidupan pribadi mereka. Para penggemar yang fanatik pun memutuskan untuk nggak lagi menikmati dan membeli karya mereka, meskipun karya seorang seniman itu nggak ada hubungannya dengan skandal yang mereka lakukan. Atau, sebenarnya memang sebuah karya seni itu nggak akan bisa lepas dari seniman yang menciptakannya?

451px-Bild-Ottavio_Leoni,_Caravaggio

Perlakuan ini nggak cuma dialami oleh Woody Allen. Seorang komposer, Richard Wagner, juga dikucilkan karena ketahuan bahwa dirinya seorang anti kulit hitam. Penulis novel, Charles Dickens, yang membuat istrinya dan punya hubungan rahasia dengan seorang abege juga mengalami hal yang sama. Michael Carvaggio, seorang pelukis yang paling terkenal di Roma sekitar tahun 1600-1606 juga mengalami hal yang sama.

730px-CaravaggioSalomeMadrid

484px-Caravaggio_-_David_con_la_testa_di_Golia

Akhir karir Caravaggio terjadi pada tahun 1606 ketika dia membunuh seorang anak muda yang bernama Ranuccio Tomassoni. Kabar yang beredar, pembunuhan itu terjadi karena mereka bertengkar setelah bermain judi. Karya terakhirnya, “Salome with the Head of John the Baptist” yang menggambarkan kepalanya sendiri berada di atas sebuah piring dikirimkannya ke Wignacourt sebagai permohonan maaf. Lalu “David with the Head of Goliath” dikirimkannya ke salah seorang keponakan Paus pada masa itu yang mempunyai kekuasaan untuk memberi ampunan.

Caravaggio akhirnya diampuni di Musim Panas 1610 karena teman-temannya di Roma, tapi sampai sekarang penyebab kematian Caravaggio masih menjadi misteri. Tubuhnya ditemukan di sebuah gereja, dan ada yang menduga penyebabnya “mungkin” karena demam tinggi. Beberapa orang mengatakan bahwa Caravaggio dibunuh dan mati keracunan oleh pemerintah dan pihak gereja. Entahlah, mana yang benar.

Yang pasti, masyarakat memang kejam. Ketika seorang seniman berbuat salah, mereka, kita, nggak memberi kesempatan mereka untuk membela diri, terlebih di era Twitter seperti sekarang. Nggak adil, memang – tapi itulah hidup. Itulah manusia. Contoh terkini dan terdekat mungkin bisa kita ambil dari kasus penyair yang beberapa minggu yang lalu ramai dibicarakan orang. Sitok Srengenge.

Mungkinkah suatu hari nanti kita mampu untuk memisahkan antara karya seni dengan senimannya? Sepertinya nggak sih ya, tapi anyway, nggak ada manusia yang sempurna. Dan karena seniman juga manusia, maka maklumilah kalau seniman itu bukan mahluk yang sempurna. Semoga pada akhirnya kita bisa memilah-milah antara seniman (yang kelakuannya buruk) dengan karyanya yang memanjakan indra kita. Orang yang baik hati atau orang yang penampilannya menarik, bisa saja terlahir dari orangtua yang punya catatan kriminal, misalnya, atau secara fisik jauh dari sempurna, bukan?

Sumber gambar: Wikipedia

No comments