Pentingnya Perempuan Dalam Industri Kopi

0

Cowok-cowok jaman sekarang, kalian lebih suka pasangan kalian nanti kerja mencari uang atau jadi ibu rumah tangga aja? Dua-duanya sama mulianya sih sebenarnya, tapi memang lebih berat sih ya kalo dirangkap dua-duanya: jadi ibu rumah tangga dan juga jadi wanita karir…

Di dalam dunia perkopian, peranan perempuan itu sebenarnya lumayan penting lho. Di banyak perkebunan kopi di seluruh dunia, perempuan banyak yang bekerja sebagai pemetik biji kopi. Sayangnya, para perempuan ini nggak mendapat latihan dan pendidikan yang layak, sehingga mereka harus puas untuk jadi buruh perkebunan kopi aja. Dan ironisnya, di beberapa tempat di dunia, buruh perkebunan kopi laki-laki dibayar lebih tinggi dibanding buruh perempuan, padahal pekerjaannya sama beratnya. Sementara, kalau yang dipekerjakan hanya buruh laki-laki, harga kopi tentu akan jadi lebih mahal lagi karena jumlah laki-laki dan perempuan kan banyakan perempuan…

Tapi untungnya, ada juga perempuan yang bernasib lebih beruntung. Mereka lebih bisa mandiri dengan membuat usaha kopi mereka sendiri atau dipekerjakan di sebuah perusahaan kopi dengan jabatan yang lumayan tinggi. Jabatan dan posisi inipun sebenarnya bisa digeser oleh para laki-laki, tapi untungnya para perempuan biasanya lebih kreatif dan industri kopi membutuhkan orang-orang yang kreatif. Sebuah coffee shop tanpa sentuhan tangan perempuan nggak akan semenarik coffee shop yang diurus dan ditata oleh seorang perempuan. Paling nggak, coffee shop harus terasa seperti rumah, dan umumnya perempuan bisa memberi rasa itu.

bb-1

Ada sebuah kisah inspiratif tentang seorang barista perempuan nih. Pamela Chng yang hampir berusia 40 tahun ini berasal dari Singapura dan dia adalah pendiri Bettr Barista Coffee Academy, sebuah badan sosial yang mendukung kemajuan para perempuan miskin di negaranya. Mereka mempunyai program 12 mingguan yang mengadopsi pendekatan pribadi, yang akan meningkatkan kualitas hidup para perempuan yang secara perekonomian kurang mampu ini dengan memberi mereka kursus singkat untuk menjadi seorang barista. Bukan hanya itu, mereka juga mendapat pelatihan tentang hidup, pelatihan untuk mengendalikan emosi, juga latihan fisik. Di setiap semesternya, yayasan atau badan sosial ini hanya melatih 10 orang perempuan saja. Usia mereka bervariasi, mulai dari 17 sampai 50 tahun. Tujuan Pamela mendirikan kursus singkat ini adalah untuk menciptakan wanita-wanita yang lebih berhasil, lebih produktif, dan lebih percaya diri.

bb-2

Pamela yang belajar untuk menjadi seorang barista tanpa kursus apapun ini memerlukan waktu 8 tahun sebelum membentuk yayasan ini. Pelatih yang diajak untuk bekerja sama mendidik para perempuan ini juga nggak sembarangan. Salah satunya adalah David Seng, salah satu juri Australian Barista Championship. Nah, setelah mereka selesai kursus, para perempuan ini kemudian boleh magang (dan dibayar) di beberapa coffee shop keren seperti Forty Hands, Smitten Coffee & Tea, dan Jimmy Monkey. Sementara yang melatih para perempuan ini untuk jadi “pintar emosi” adalah Saima Salman, yang adalah lulusan Albert Ellis Institute di New York.

Di Singapura sudah ada seseorang seperti Pamela yang sadar betapa pentingnya peranan perempuan dalam industri kopi yang semakin hari semakin pesat ini. Siapa yang kira-kira nantinya akan tertarik untuk melakukan gerakan serupa di Indonesia ya?

No comments

[LIPUTAN] Catalyst Art Market 6

Akhir minggu kemarin, tepatnya tanggal 30 April dan 1 Mei, Catalyst Art Market kembali diadakan untuk keenam kalinya. Berbeda dari Catalyst Art Market yang pernah ...