Pekikan Djoko Pekik

0

pekik

Salah satu pelukis Indonesia yang namanya akhir-akhir ini banyak diperbincangkan media massa adalah Djoko Pekik. Pria berperawakan kurus yang selalu tampil trendi dengan warna-warna mencolok ini dijuluki “pelukis satu miliar” karena lukisannya “Berburu Celeng” yang dibuatnya pada tahun 1998 laku terjual dengan harga satu miliar rupiah pada suatu pameran di Yogyakarta pada tahun 1999.

pekik-(1)

“Berburu Celeng” sebenarnya adalah bagian dari trilogi “Susu Raja Celeng” (1996) dan “Tanpa Bunga dan Telegram Duka Cita” (2000). Lukisan karya Djoko Pekik sendiri jumlahnya sudah lebih dari 300 buah.

Djoko Pekik lahir di tahun 1938 di desa Grobogan, Jawa Tengah dan lulusan dari ASRI di Yogyakarta, di mana dia menjadi murid dari Hendra Gunawan ketika itu. Ini sangat menarik, mengingat Djoko tidak lulus SD dan pendidikan menengah. Kematangan melukisnya sebenarnya juga tidak terasah di ASRI, tapi di Sanggar Bumi Tarung yang anggota-anggotanya berafiliasi dengan Lekra, sebuah organisasi yang bernaung di bawah PKI.

Banyak orang yang baru mengenal nama Djoko Pekik sekarang, padahal dia sudah menjadi pelukis terkenal pada tahun 1964, namun kemudian dipenjarakan sampai tahun 1972 akibat keterlibatannya dengan PKI. Lepas dari penjara, dirinya masih dikucilkan saudara, tetangga, dan seniman lainnya sampai tahun 1990.

Djoko pun vakum melukis dan beralih profesi menjadi tukang jahit untuk membiayai keluarganya. Nasib baik baru datang lagi kepadanya ketika karya-karyanya dijadikan bahan penelitian oleh Astari Rasyid, yang lalu memperkenalkan karya-karya Djoko kepada dunia. Pada tahun 1989, Djoko ikut dalam sebuah pameran politik di Amerika Serikat, dan peristiwa ini menuai banyak protes seniman Indonesia karena Djoko saat itu masih berstatus sebagai tahanan kota.

Karena nada-nada sumbang inilah, beritanya jadi masuk ke banyak koran dan majalah. Hal ini justru menguntungkan bagi Djoko, karena sejak itu para kolektor jadi memburu lukisannya – sampai suatu ketika Djoko tidak lagi mau menjual lukisannya. Orang-orang yang ingin melihatnya cukup datang dan melihat, tapi tidak dapat membelinya. Menurut banyak pengamat, lukisan-lukisan Djoko tidak ada yang sama, padahal menurut pelukisnya teknis melukisnya tidak pernah berubah dari dulu.

Harga lukisan Djoko Pekik yang sudah beredar semakin lama semakin naik, dan saat ini banyak plagiat-plagiat yang meniru karya-karyanya dan menjual lukisan-lukisan palsu itu sekitar Rp250.000.

Keunikan Djoko Pekik terletak pada kemampuannya untuk mengubah sumpah serapah menjadi sesuatu yang penuh kelakar atau bahkan sensual. Ketika kita bertemu langsung dengannya, beliau adalah sosok yang bicara apa adanya, ceplas-ceplos, dan kadang naif. Sama seperti ketika kita melihat karya-karyanya.

Saat ini Djoko Pekik tinggal bersama keluarganya di Desa Sembungan, Yogyakarta. Pameran terakhirnya tengah berlangsung di Galeri Nasional, Jakarta, sampai tanggal 17 Oktober 2013 dan diberi judul “Jaman Edan”. Menurut Djoko, ini adalah pamerannya yang terakhir.

0905101120DjokoPekik-BerburuCeleng-A

Dari 29 lukisan yang dipamerkan, hanya ada 1 lukisan yang dibuat di tahun 2013. Lukisan itu berjudul “Pawang Kesurupan” yang menggambarkan sekumpulan koruptor, dan di dalamnya juga ada Angelina Sondakh. Dalam lukisan yang berjudul “Bengawan Solo” juga “Kali Brantas” yang dibuat di tahun 2008, digambarkan pembunuhan massal yang terjadi di tahun 1965.

Sumber: Taman Ismail Marzuki, Taman Budaya Yogyakarta, dan Tempo.

No comments

Kopi Dekafeinasi: Benarkah Bebas Kafein?

Penggila kopi yang mengubah cara minum kopi ke decaffeinated coffee (kopi tanpa kafein) untuk alasan kesehatan mungkin perlu membaca ulang literatur-literatur atau bacaan tentang kopi ...