Lir: Where Fiction & Reality Mingle

0

Halo, teman-teman! Pameran Kopi Keliling Volume 7 di Jogja menyisakan banyak kenangan yang menyenangkan buat Kopling. Selain karena ini adalah acara pertama Kopling di luar Jakarta, Kopling juga bisa berkenalan dengan teman-teman baru yang memiliki semangat hebat di sana.

Nah, saat kembali ke Jogja untuk bebenah pameran yang telah usai akhir April kemarin, Hendra Hehe dan tim Papermoon Puppet Theatre ngenalin Kopling ke Dito Yuwono, pemilik sebuah tempat yang berfungsi sebagai cafe, galeri kecil, perpustakaan, dan art shop: Lir. Kamu yang tinggal di Jogja pasti udah nggak asing lagi dengan tempat nyaman yang berlokasi di wilayah perumahan ini. Ketika pertama kali dikasih tau, namanya memang sedikit aneh di telinga tapi terasa indah saat mengetahui filosofi di baliknya.

Lir Shop Yogyakarta

 

Nama ‘Lir’ terinspirasi dari bahasa Perancis ‘lire’, yang artinya membaca, dan bahasa Inggris ‘lair‘, yang artinya tempat persembunyian. Hmm… Pas banget buat kamu yang lagi jenuh dengan rutinitas. Di sini kamu bisa bersembunyi sambil tenggelam ke dalam imajinasi cerita di buku-buku yang tersebar di tempat ini. So, let’s just call Lir a place where fiction and reality mingle.

perpustakaan mini di dalam Lir

Waktu pertama kali tiba di lokasi, Kopling cukup kaget soalnya bisa ada sebuah ruang alternatif di tengah-tengah wilayah perumahan yang kiri-kanannya nggak ada toko apa-apa lagi selain, ya itu, rumah-rumah warga. Begitu menginjakkan kaki ke dalam Lir, Kopling udah excited banget karena disambut dengan perpustakaan mini berisi buku-buku dalam dan luar negeri serta cafe kecil di kebun belakang dengan dominasi warna hijau muda yang nuansanya homie banget. Kalau memasuki ruangan lebih dalam lagi, kamu bisa menjumpai sebuah ruang kecil yang berfungsi sebagai tempat pameran para seniman dan sebuah toko yang menjual barang-barang kuno (termasuk buku yang udah lama banget) dan kerajinan tangan crafter lokal. Sayang, beberapa bukunya memang nggak untuk dijual, tapi disewakan aja untuk dibaca di tempat. Padahal ada buku yang Kopling pengen waktu itu hehehe…

Interior di dalam Lir

Pas banget, saat Kopling mampir di Lir lagi ada pameran kolektif Via Regia yang menceritakan tentang proses berkarya dari konteks awal tentang mimpi. Pameran ini menampilkan karya-karya empat orang seniman muda, yaitu Yujin Sick, Faiz “The Robomonzta”, Yoga Mahardika, dan RHMIB.

pameran kolektif via regia yang saat itu sedang berlangsung

Dito, yang mengelola Lir bersama dengan calon istrinya, Mira Asriningtyas, cerita kalau awal berdiri Lir di tahun 2011 memang hanya fokus ke cafe dan buku. Tapi lalu mereka juga sadar kalau waktu itu kesenian di Jogja lagi sepi-sepinya karena para seniman ini nggak punya ruang untuk berekspresi. Akhirnya mereka memutuskan untuk membuat ruang alternatif bagi para seniman di Jogja yang ingin pameran. Saat ruang pameran ini baru awal-awal dibuka, yang ikutan juga kebanyakan hanya dari teman-teman yang mengenal mereka. Namun sebelum masuk tahun 2012, jadwal pameran di Lir udah penuh sampe akhir tahun! Hebat yah perkembangannya dalam setahun.

Sejak tahun 2012 itulah Dito dan Mira mulai menyaring siapa-siapa aja yang cocok untuk pameran di Lir. Biasanya, Dito dan Mira memilih para seniman yang relatif baru menekuni karirnya di dunia seni supaya mereka juga bisa merasakan langsung proses dan senangnya berpameran karena proses di Lir sendiri cukup serius. Dito dan Mira juga nggak cuma menyediakan tempat, tapi ikutan membimbing para seniman ini selama proses pembuatan, mulai dari obrolan-obrolan santai di awal tentang konsep dan lain sebagainya sampai instalasi karya dan akhirnya pameran deh. Terkadang, Mira juga suka mampir ke studio tempat seniman berkarya dan ikutan mempelajari teknik yang dipake seniman itu supaya tau pola kerja mereka. Serasa punya guru pembimbing! Hehe… Persiapan pamerannya sendiri biasanya kurang lebih dua bulan. Bulan pertama si seniman akan lebih banyak ngobrol bareng Dito dan Mira mengenai pengkaryaan. Baru di bulan kedua persiapan dilakukan. Dan entah disengaja atau nggak, Dito mengaku kebanyakan karya yang pernah pameran di Lir pasti mengandung unsur-unsur “cute“.

Art shop di dalam Lir

Oh ya, meskipun Lir memprioritaskan seniman-seniman baru untuk berpameran, tempat ini juga cukup diminati oleh seniman-seniman yang udah sering pameran lho. Hendra Hehe, Prihatmoko Moki, dan Octo Cornelius adalah beberapa yang sudah pernah berpameran di tempat ini. Salah satu anggota Papermoon Puppet Theatre, Fransiscus Kurnia Wulang Sunu, juga akan berpameran di sana.

Nggak banyak orang yang bisa berkomitmen mempertahankan ruang pameran alternatif di tengah-tengah arus galeri yang besar, karena sebagian besar seniman, baik yang baru maupun senior, pasti berkeinginan karyanya bisa terpampang di galeri ternama. Untuk mencapai cita-cita itu, pasti banyak yang harus diperjuangkan, salah satunya adalah dengan mengadakan pameran di ruang alternatif yang menawarkan pengalaman serupa. Selain bisa menjadi batu loncatan, para seniman juga bisa melatih diri mereka dalam berproses dan menyiapkan pamerannya sendiri sebelum akhirnya siap untuk berpameran di tempat yang lebih besar.

Kopling berharap Lir bisa terus menampung semangat para seniman-seniman muda lokal yang sedang berjuang meniti jenjang karirnya dalam berkarya!

Lirshop.blogspot.com | @LIRshop | Jl Anggrek I/33, Baciro, Yogyakarta

About author

No comments

Minuman Kopi Berdasarkan Astrologi

“Ramalan itu jangan dipercaya, apalagi ramalan bintang.” Sering banget ya kita denger nasehat kayak gini, terutama dari orang-orang tua. Tapi tetep aja, ramalan bintang adalah ...