Kegelisahan Seniman Bali: Plastik dan Surga

0

Bali dengan segala keindahannya: suasananya yang mistis, pantai-pantainya yang indah, matahari yang tenggelam, budayanya yang kental. Siapa pun pasti jatuh cinta kepada pulau yang satu ini. Dan seperti yang kita tahu, Bali yang sangat cantik itu adalah gudangnya para seniman. Memang benar ternyata, tempat tinggal itu penting dalam memberikan inspirasi kepada para seniman yang jadi penghuninya.

Ada beberapa pameran dan seni instalasi yang pernah diadakan di Bali, yang maknanya sangat dalam dan patut kita simak:

Plastic Attack

1.-GFIVE-plastic-rice-fields

Pameran “Plastic Attack” karya para seniman Bali yang tergabung dalam G-Five Art

Dari sekian banyak seniman asli Bali, ada sebuah kelompok seniman yang menamakan diri mereka G-Five Art. Mereka terdiri dari Gede Putra, Kadek Ardika, Valasara, Legianta, dan Upadana. Kelimanya sering mengadakan pameran baik di Bali, maupun di Jakarta dan Yogyakarta, dan mereka semua berasal dari Gianyar. Apakah mereka sekelompok seniman yang juga merangkap sebagai aktivis lingkungan hidup?

Tahun lalu, mereka mengadakan pameran yang diberi judul “Plastic Attack”. Sesuai dengan judulnya, kita pasti menduga bahwa pameran ini dimaksudkan untuk memprotes tebaran sampah plastik yang kebanyakan disebabkan oleh para pendatang dan turis yang berkunjung ke Bali, tapi ternyata nggak hanya begitu saja –  seperti yang mereka katakan dalam situs mereka:

“… melakukan sesuatu yang berawal dari hal sederhana, mengeksplorasi media sampah plastik, mengolahnya, memberinya makna yang lebih, menjadikannya artistik, menggugah pengalaman dan kenangan.”

Mereka mengatakan bahwa alasan mereka membuat karya seni hanya untuk seni semata, tanpa alasan lainnya dan bukan tentang lingkungan hidup.

Pameran ini digelar di Tonyraka Art Gallery, dan salah satu karya yang mereka buat bersama adalah lima buah dinding raksasa yang dibuat dari kumpulan botol plastik. Dinding plastik itu mereka filmkan dan mereka foto di hamparan persawahan dan juga di sebuah pantai, baru setelahnya mereka pindahkan di depan galeri seni tempat mereka mengadakan pameran, dengan sentuhan backlight yang memberikan sentuhan artistik.

Website: gfiveart.weebly.com

Not For Sale

6.-bali-not-for-sale

Instalasi “Not For Sale” karya tiga orang seniman muda Ubud, Gede Suanda Sayur, I Wayan Sudarna Putra, dan Pande Putu Setiawan

“Bali is better simpler. Paradise ‘soul and pride’ is not for sale!”

Selain G-Five Art, ada tiga orang seniman muda lainnya dari Ubud yang juga merasa prihatin dengan perkembangan di Pulau Bali. Mereka adalah Gede Suanda Sayur, I Wayan Sudarna Putra, dan Pande Putu Setiawan. Di tahun 2010, mereka membuat sebuah instalasi berupa tulisan “NOT FOR SALE” yang diletakkan di Jalan Sriwedari, di tengah hamparan sawah di Ubud.

Kelihatannya memang sederhana, tapi tulisan ini sangat nyata terlihat dari jalan raya dan menarik perhatian para pengendara. Foto di atas saat ini sudah banyak beredar di internet, dan hal ini membuktikan bahwa misi mereka berhasil. Seperti yang kita tahu, banyak lahan di Bali yang digusur dan diubah menjadi hotel, restoran, spa oleh para cukong yang ingin mengembangkan usaha di Pulau Dewata. Para penduduk setempat yang menjadi pemilik lahan memang menjual lahan mereka dengan harga sangat mahal, tapi kalau hal ini terus menerus dilakukan, bisa kita bayangkan betapa menyedihkannya, bukan?

Mereka benar. Surga memang nggak seharusnya diperjualbelikan.

Plastic Rhetoric

8.-Suja-Being-a-colorful-balinese-3

Plastic Rhetoric karya Wayan Suja

Kalau kedua karya di atas dibuat secara kolaborasi, yang satu ini dibuat oleh satu orang seniman saja, dan masih mengusung tema tentang plastik. Seniman yang “bertanggung jawab” dalam proyek ini adalah Wayan Suja, yang mencoba menggambarkan plastik baik sebagai subyek mau pun non-subyek.

Sama seperti G-Five, Wayan enggan disebut sebagai aktivis, dan dirinya bukan menentang keberadaan (sampah) plastik. Menurutnya, plastik adalah lensa kehidupan di dunia. Memang harus diakui bahwa plastik adalah media yang baru, pengalaman yang baru. Bayangkan ratusan tahun yang lalu ketika orang belum banyak menggunakan plastik, saat itu kertas lebih banyak digunakan. Dampaknya terhadap lingkungan hidup sebenarnya sama, karena kertas juga dibuat dari pohon yang ditebang. Tapi bedanya, kertas lebih mudah didaur ulang.

Ah, ternyata memang sulit ya rasanya memisahkan plastik dari lingkungan hidup, sementara hidup nggak bisa dipisahkan dari seni. Kesimpulan yang membutuhkan banyak pemikiran memang, dan mungkin lebih banyak dari hal-hal yang ada dalam kepala para seniman “plastik” di atas…

No comments

Dewiyanti Yusup

Dewiyanti Yusup adalah seorang freelancer lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Trisakti, Jakarta. Perempuan yang mempunyai hobi nonton dan gambar ini sudah berkenalan dengan seni sejak ia ...