Idealisme vs Kompromi

0

Saya dan asisten-asisten saya terheran-heran karena sebuah karya saya yang menurut kami biasa saja disebut “menakutkan” oleh seorang kolektor. Sebetulnya ini bukan kejadian pertama bagi saya dan karena itu makin lama saya jadi makin ngerti apa yang kira-kira ada di dalam pikiran para kolektor.

26448164_1_x

Scrumptious Dinner

Di STPI Singapura, 2011, saya membuat 8 buah karya seri litografi. Isinya sebenarnya menakutkan, menggambarkan manusia sedang disantap para binatang dan setan di neraka. Karya itu dibuat tanpa foto, saya menggambar free-hand di atas lembaran aluminium dengan gaya yang kartunal tapi sebenarnya adegan-adegannya seram. Saya bilang karya itu berjudul, “Dinner in Hell”, tapi Lily Phua, manajer marketing STPI saat itu, menyarankan judulnya diubah menjadi “Scrumptious Dinner” karena belajar dari pengalaman, ada karya seniman lain sebelum saya yang karyanya mengandung kata “hell” dan semua kolektor yang tertarik akhirnya membatalkan transaksi. Saya menurut saja waktu itu, toh gambarnya nggak berubah, dan saya terkejut juga waktu mengetahui bahwa karya itu terjual habis.

shapeimage_1-2

Salah satu karya RE Hartanto

Waktu saya bertemu pertama kali dengan Pak Handoko, manajer saya, Beliau senang melihat karya-karya gambar saya di atas kertas. Menurut Beliau karya-karya itu nyaris sempurna, tapi ada satu masalah: isinya menyeramkan (seperti terlihat di foto). Beliau bilang, “Pencitraan gagasan itu penting. Kalau karyanya seperti ini, nggak akan ada yang beli. Seniman sering terlalu idealis dan tidak mau kompromi padahal ini penting.” Beliau menyarankan, buat karya yang citraannya “aman” sehingga karya mudah dijual dan kita bisa berkarya lagi. Nanti kalau sudah top, silakan berkarya sesuka hati.

Butuh waktu lama bagi saya untuk mengerti nasehat Pak Handoko, tapi rasanya sekarang saya mulai sedikit mengerti maknanya. “Mengerti” di sini artinya begini. Dari dulu juga saya tahu bahwa karya yang “aman” mudah dijual, seperti juga sebaliknya saya memahami bahwa seniman yang baik nggak pernah bermain aman. Namun, pemahaman saya saat itu tingkatnya masih lebih rendah dibandingkan idealisme saya, atau lebih tepatnya: ego artistik saya. Jadi dulu saya paham sih paham tapi saya nggak mau terima saran Pak Handoko. Seniman ya harus idealis, dong. Tapi sekarang saya mulai berpikir lain. Saya nggak tahu, apakah makin “melembek” karena sudah semakin tua atau sedang berpikir strategis. Tapi begini perspektif saya:

Pertama kita harus mendefinisikan dulu, apa makna “idealisme” bagi kita. Bagi saya makna dasarnya sangat sederhana: selama saya masih berkarya dan berkecimpung di dunia seni rupa, berarti idealisme saya masih ada. Nggak pameran pun nggak apa-apa, dan karyanya seperti apa juga nggak masalah. Kalau saya banting setir dan meninggalkan dunia seni rupa sama sekali berarti idealisme saya runtuh. Itu saja. Bukan apa-apa, menurut pengalaman pribadi, kalau nggak berkarya saya pasti stress dan lama-kelamaan akan depresi. Itulah alasan utama mengapa saya jadi seniman. Sederhana sekali. Jadi, kalau dalam proses kekaryaan tersebut saya harus berkompromi sana-sini, saya masih ikhlas.

Saya berkali-kali menemukan pengalaman bahwa kadang-kadang kolektor juga benar. Pendapat seorang kolektor kadang-kadang terdengar bodoh tetapi kita harus menyelidiki, apakah pendapatnya memang benar-benar bodoh atau karena ego kita terlalu besar jadi kita nggak mau menerima pendapat atau kritik kolektor (atau siapa saja)? Dalam pengalaman saya, sesudah saya renungkan, beberapa pendapat/kritik mereka ada yang benar, dalam artian bersifat konstruktif dan bisa meningkatkan mutu karya kita. Bener, lho, saya bukan sedang menjilat kolektor.

Jadi kesimpulannya bagi saya: selama bisa terus berkarya, melakukan langkah kompromi nggak apa-apa. Tapi ada satu yang saya pertanyakan: akan berujung kemana perjalanan seorang seniman bila langkah itu ia ambil? Apakah suatu saat ia bisa makin idealis? Atau sebaliknya, justru makin kompromis? Karena gejala umumnya adalah: terlalu banyak kompromi akan menggerogoti idealisme kita secara jangka panjang. Jangan-jangan, suatu saat malah sang seniman nggak bisa menghasilkan karya hebat karena terbiasa membuat karya yang aman untuk selera orang banyak.

Nah, bagaimana caranya supaya bisa tetap berkarya dan melakukan langkah kompromi saat diperlukan tetapi nggak kehilangan idealisme artistik kita yang (seringkali) berlawanan dengan selera orang banyak? Ini adalah dilema klasik dunia kreatif yang bahkan dimulai sejak saat kuliah. “Hidup-matinya” mahasiswa seni ditentukan oleh dosennya. Kalau terus mengikuti saran dosen untuk mengambil cara tertentu dan melakukan kompromi berarti idealisme terkikis, tapi kalau mengikuti idealisme sendiri, bisa-bisa malah nggak lulus. Nah, di sinilah saya kira pentingnya mendefinisikan kata “idealisme” itu sendiri.

Tujuan orang masuk ke lembaga pendidikan seni rupa kan kira-kira ada tiga: menyerap ilmu, lulus dengan baik, dan membangun jaringan (untuk karir masa depan). Jadi kalau lagi dilema tentang idealisme, ada baiknya mahasiswa merenungkan semua pilihan yang ada. Terus terang saja, untuk bisa jadi seorang seniman kita nggak perlu masuk kampus dan kuliah seni rupa. Tapi kampus menyediakan kurikulum yang disusun secara sistematis sehingga mahasiswa bisa belajar lebih cepat.  Dan yang sama pentingnya dengan ilmu adalah jaringan yang disediakan oleh kampus secara alami.

Saya bisa katakan bahwa sejak saya lulus pada tahun 1998 sampai hari ini, tidak pernah satu kalipun saya kekurangan tawaran pameran, malah kadang terlalu banyak hingga nggak bisa semuanya disanggupi. Buat saya ini luar biasa dan patut disyukuri karena saya tahu ada banyak seniman yang sulit sekali bisa mendapatkan kesempatan pameran. Saya yakin itu terjadi pada awalnya karena jaringan kampus saya. Mereka yang berkiprah di dunia seni rupa kebanyakan adalah teman dan senior-senior saya sendiri dari kampus yang sama. Selama ini saya sudah mendapatkan keuntungan tersebut dan itu besar maknanya bagi saya.

Nah, kembali ke masalah mahasiswa yang menghadapi dilema idealisme vs kompromi tadi, saya kira ia harus merenungkan kembali posisinya. Selain tiga tujuan masuk kampus seni yang saya tulis di atas, yang paling penting untuk dicermati adalah satu hal: ego. Mahasiswa atau bukan, seniman adalah mahluk yang egonya besar sekali. Ego macam ini telah melahirkan banyak maestro yang karyanya dikenang dalam sejarah tetapi ego yang sama telah mengubur impian seniman yang jumlahnya jauh lebih banyak lagi. Ego itu mirip dengan perfeksionisme. Mereka yang sukses karena perfeksionisme itu banyak tapi yang gagal karena perfeksionisme jauh lebih banyak lagi. Ego, perfeksionisme dan, pada akhirnya, idealisme, adalah sebuah pedang bermata dua. Ia bisa membawa sukses namun juga berpotensi membawa kehancuran. Itu fakta, sudah banyak buktinya.

Pada akhirnya, bila kita berhadapan dengan dilema antara mempertahankan idealisme dengan kompromi, saya kira kita sedang menghadapi ego kita sendiri. Bagi saya itu baik karena artinya kita sedang dilatih untuk menjadi dewasa. Sekarang akan saya jelaskan soal idealisme ini bagi saya pribadi secara menyeluruh.

Pertama, saya bukan seniman muda lagi. Saya sudah berkeluarga, punya satu anak berusia 3,5 tahun dan berencana untuk menambah satu anak lagi. Perjalanan hidup membesarkan keluarga masih sangat panjang, dan saya benar-benar menggantungkan hidup dari dunia seni rupa, nggak ada bisnis lain. Artinya, saya akan butuh modal untuk menghidupi keluarga saya dengan layak (dalam pengertian: sederhana saja, nggak serba mewah tapi nggak ada yang kurang) termasuk mencukupi kebutuhan pendidikan anak-anak saya nanti. Itu membutuhkan sebuah komitmen luar biasa dan konkritnya: saya harus bisa menghasilkan dana itu dari karya-karya saya. Kalau saya menghasilkan dana dari sumber yang lain boleh saja, tetapi saya harus bisa memastikan kekaryaan saya tidak terganggu karena itu prioritas hidup saya.

Kedua, pada usia 60 tahun saya nggak mau lagi bekerja untuk mencari nafkah tapi bekerja semata-mata karena saya suka. Jadi, 20 tahun dari sekarang saya harus mencapai sebuah kemerdekaan finansial. Walaupun lagi sakit, sedang liburan, membuat karya yang nggak bisa dijual, saya dan keluarga harus bisa hidup sesuai standar yang kami tetapkan dan saya masih bisa berkarya seperti biasa. Untuk mencapai hal ini saya harus punya tabungan, punya investasi dan punya passive income. Kita tahu kemapanan itu butuh modal besar.

Ketiga, berarti dalam kurun waktu 20 tahun ini saya harus bisa menafkahi keluarga, menjadi kepala keluarga yang baik, mampu terus berkarya, ikut pameran, tetap bisa mengembangkan kekaryaan ke arah yang lebih baik hingga menghasilkan mahakarya (dalam pengertian konvensional dunia seni rupa), dan menghasilkan modal yang cukup untuk bisa merdeka secara finansial. Ini adalah definisi idealisme dalam hidup saya.

Syaa optimis hal ini mungkin diwujudkan. Namun pandangan kritis saya terus mengingatkan untuk berlaku strategis. Bila dalam perjalanan hidup saya kelak saya harus melakukan kompromi: lakukan! Saya tahu itu berat tapi apa boleh buat. Bila perlu, saya harus menelan ego saya dan melakukan kompromi tanpa ngomel-ngomel. Dalam hidup ini, orang sukses dan gagal sama-sama merasakan luka. Bedanya, orang sukses maju terus walaupun terluka parah sementara orang gagal duduk merintih-rintih meratapi lukanya, menganggap dirinya korban dan menyalahkan orang lain. Jadi intinya, saya akan melakukan apa saja yang perlu dilakukan supaya tujuan-tujuan saya tercapai, selama nggak melanggar hukum dan etika.

Jadi, saya akan melakukan kompromi, selama nggak menumpulkan ide-ide brilian. Kadang-kadang seniman harus berani menampilkan karya yang kontroversial bila perlu. Tapi, kalau menampilkan karya kontroversial artinya nggak bisa menafkahi keluarga dan jadi nggak bisa berkarya lagi: jangan dulu. Tunggulah saat yang tepat. Kalau sudah merdeka secara finansial, kita bisa berkarya sesuka hati. Dan ingat, ada hal yang lebih menyengsarakan daripada memiliki punya ide brilian tapi nggak punya uang, yaitu: punya uang tapi nggak punya ide brilian. Saya pernah mengalami keduanya, dan yang terakhir membuat saya merasa nggak punya harapan.

Jadi, buat saya setiap orang memiliki konteksnya sendiri-sendiri mengenai idealisme vs kompromi, dan bisa berubah-ubah sesuai waktu dan keadaan. Intinya adalah, sebelum melakukan kompromi, tetapkan sasaran terlebih dahulu demi tujuan lebih mulia yang akan kita raih. Melakukan pengorbanan seperti itu, kita pasti akan terluka tapi setidaknya kita memiliki kekuatan batin untuk menahan rasa sakitnya. Dalam diri kita tidak ada yang begitu sensitif terhadap luka melebihi ego, ia terkesan begitu kuat namun sesungguhnya ia sangat rapuh. Menghadapi dilema idealisme vs kompromi, ego tidak boleh menjadi suara dominan yang memengaruhi kita saat mengambil keputusan.

 

Versi lengkap artikel ini bisa kamu baca di sini.
Artikel ditulis oleh: R.E. Hartanto | Twitter: @rehartanto | Instagram: rehartanto | Website: rehartanto.info

About author

No comments