Bangunan Berbuku-Buku

0

Apakah kamu suka buku? Akhir-akhir ini, budaya membaca memang udah digalakkan lagi sepertinya ya, mengingat memang masyarakat Indonesia nggak banyak yang suka membaca. Membaca mungkin iya, tapi membaca buku?

Untuk meningkatkan minat masyarakat akan serunya dan pentingnya membaca buku, sekelompok orang di berbagai daerah ini “mengacak-acak tempat publik” supaya menjadi sebuah tempat membaca yang menyenangkan. Jadi, hari ini mari kita jalan-jalan ke beberapa bangunan di dunia yang berbentuk buku, atau terbuat dari buku. Yuk!

Kansas City Library District

kansas-library-(4)[3]

Sesuai dengan namanya, perpustakaan ini terletak di Kansas City yang parkirannya diubah jadi rak buku raksasa. Proyek ini didesain oleh Dimensional Innovations, dan pemilihan “buku-buku” yang terpajang di rak raksasa itu dipilih melalui voting oleh warga setempat.

Luas rak buku ini kurang lebih 25 kali 9 kaki yang bahannya terbuat dari bahan untuk buat billboard, dan berisi 22 judul buku yang merefleksikan berbagai jenis bacaan yang setelah dipilih oleh para warga, diseleksi lagi oleh The Kansas City Pulic Library Board of Trustees. Tampak di deretan buku-buku itu ada “The Lord of the Rings” karya J. R. R. Tolkien dan “Fahrenheit 451” karya Ray Bradbury. Ada juga “Tale of Two Cities” karya Charles Dickens dan “Charlotte’s Web” karya E.B. White yang klasik, dan yang terakhir udah pernah difilmin itu. Bukan hanya buku-buku karya penulis Amerika, ada juga kitab Tao atau “Tao Te Ching” karya Lao Tzu.

Bangunan Kansas City Public Library ini masuk ke dalam daftar Unique Buildings in the World, atau gedung-gedung unik di dunia.

The Phone Booth

phonebookbuilding

Bangunan ini dibuat oleh sekelompok mahasiswa dari Dalhousie University di Nova Scotia, Canada, dan desainernya adalah seorang arsitek setempat yang bernama Richard Kroeker. Kenapa disebut phone booth? Karena bangunan ini dibuat dari 7.000 buku telepon bekas (atau yang kita kenal dengan nama Yellow Pages) yang di-laminating.

Begitu banyaknya buku telepon yang dibuat setiap tahunnya membuat Kroeker berpikir bahwa jumlah buku-buku itu cukup untuk membuat sebuah bangunan. Mungkin memang seharusnya dengan adanya internet, buku-buku seperti ini udah nggak perlu diterbitkan ya, demi penghematan kertas…

Tower of Babel

Tower-of-Babel

Dalam sebuah cerita di Kitab Kejadian dalam Alkitab orang Nasrani, diceritakan tentang menara Babel yang dibuat setinggi mungkin agar menyentuh langit. “Babel” sendiri artinya adalah “Pintu Gerbang Allah”.

Pada tahun 2011, di Buenos Aires, seorang seniman asal Argentina, Marta Minujin, membuat menara setinggi 25 meter yang dibuat dari 30.000 buku dalam berbagai bahasa dan berasal dari berbagai tempat di dunia. Bangunan ini terletak di San Martin Square, dan alasan kenapa yang dipakai adalah buku dari berbagai bahasa karena menurut Minujin: seni nggak perlu terjemahan. Dalem ya…

Buku-buku yang dipake adalah sumbangan dari para pembaca, perpustakaan-perpustakaan, dan 50 kedutaan besar. Ketika menaiki menara itu, para pengunjung akan mendengar lagu karangan Minujin sendiri yang liriknya hanya kata “buku” dalam berbagai bahasa. Keren… Dinding menara Babel ini terbuat dari buku anak-anak dalam bahasa Jepang yang disambung dengan buku-buku petualangan dari Patagonia. Menara ini sayangnya hanya berdiri selama 10 hari…

Minujin pernah bekerja sama dengan Andy Warhol dalam membuat bangunan yang bergaya Parthenon di Buenos Aires pada tahun 1983 dengan menggunakan buku-buku yang dilarang untuk beredar oleh militer yang diktator pada saat itu.

 

Kalau kamu seorang pencinta buku, kamu punya ide apa supaya masyarakat Indonesia lebih cinta buku? Karena bangsa yang cerdas adalah bangsa yang cinta membaca, dan tanpa membaca, orang nggak akan tahu banyak…

Bukan cuma kutu yang bisa tinggal dalam buku. Manusia juga.

 

Sumber foto: inhabitat.com, dan beberapa sumber lainnya.

No comments