La Roya Nan Jahanam

0

Mungkin sudah saatnya kita membiasakan diri untuk minum kopi yang terbuat dari biji kopi lokal, karena terus meroketnya harga kopi impor. Kita yang berada di Indonesia sudah selayaknya bersyukur untuk setiap cangkir kopi yang kita minum, karena mungkin pada suatu hari nanti, teman-teman kita yang berada di belahan dunia lain, nggak akan bisa menikmati kopi lagi – dan konon waktunya sudah sangat dekat.

Terus naiknya harga kopi ini tentu ada hubungannya dengan semakin berkurangnya produksi kopi yang dapat ditemukan di pasaran. Jumlah peminum kopi di seluruh dunia memang semakin sehari semakin banyak. Sebagai contoh, di Amerika Serikat persentase orang dewasa yang meminum kopi adalah 63%, sementara di tahun 2013 jumlahnya naik menjadi 83%. Angka ini tentu nggak berbeda jauh dengan yang terjadi di Indonesia, mengingat semakin maraknya pertumbuhan coffee shop di sana sini.

coffee-drought-1_wide-ad8637b94b7112eed8796278b9e1b45e7a68a5c5-s40-c85

Kanan: biji kopi yang rusak akibat musim kemarau

Tapi yang menjadi masalah ternyata bukan bertambahnya jumlah peminum kopi, tapi musim kering yang berkepanjangan. Bisnis kopi di Brazil saat ini sedang sangat menderita karena musim kemarau, sehingga harga kopi Brazil harus naik sebanyak 60% akibat langkanya komoditas tersebut, padahal Brazil adalah penghasil kopi terbesar di dunia.

COFFEE-master675-(1)

Daun kopi rusak akibat jamur la roya

Bukan hanya musim kering, tapi pohon-pohon kopi di Amerika Tengah dan Peru juga sedang diserang oleh jamur pada daun kopi yang disebut dengan nama “La Roya”. La Roya ini sangat cepat berkembang, dan penyebab percepatan penyebaran ini adalah cuaca. Hal ini tentu saja meresahkan para petani kopi di sana. Mereka nggak bisa tidur, susah makan, karena masalah ini.

Para petani besar banyak yang menyewa para pekerja untuk memetik biji kopi yang hampir matang sebelum terserang jamur. Petani kecil terpaksa harus berhutang dan menjual ternak mereka untuk menutup kerugian yang mereka derita. Biji kopi yang mereka jual di toko-toko setempat nggak laku. Anak-anak terpaksa harus putus sekolah karena orangtua mereka nggak mampu membiayai. Dan di akhir lingkaran ini juga ada para pekerja dari luar daerah yang hanya bisa mendapatkan upah beberapa dolar sehari. Waduh.

Sudah tentu masalah ini adalah masalah yang sangat serius, dan ini sudah berlangsung hampir dua tahun. Para petani semakin jatuh miskin dan orang semakin sedikit yang mau membeli biji kopi berkualitas, karena harganya sudah naik 70-80% sejak bulan November tahun lalu.

Coffeejp2-articleLarge

Bisnis kopi di Brazil menurun

Ada empat juta orang di Amerika Tengah yang menggantungkan hidup dan nasib mereka pada kopi. Sebelum musibah ini terjadi, mereka juga nggak hidup berkelimpahan. Hanya sekadar cukup. Bayangkan bagaimana keadaan mereka saat ini? Beberapa di antara para petani kopi bahkan sudah beralih menjadi petani jagung, karena bagaimana pun mereka harus tetap mencari nafkah.

Pemerintah Guatemala sebenarnya sudah membantu para petani kopi dengan menyuplai obat anti jamur, tapi jumlahnya nggak cukup. Padahal, kopi di Guatemala itu sama pentingnya seperti wine di Perancis, dan para produsennya juga para petani kecil.

Sementara itu, U.S. Agency for International Development baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka akan menambah $5 juta untuk pengembangan dan distribusi biji kopi dengan genetik baru yang dapat bertahan dari serangan jamur. Tapi sementara para ahli masih mencari cara, bukankah orang masih akan dan terus minum kopi?

Semoga kita akan tetap bisa menikmati kopi sampai kapanpun ya, semoga.

Salam seruput.

 

Sumber gambar: npr.org dan beberapa sumber lainnya

No comments

Cara Unik dalam Mencetak Pola di Objek 3-D

Dengan semakin berkembangnya teknologi, banyak hal-hal yang dulu hanya menjadi fantasi pikiran belaka atau hanya bisa disaksikan dalam film fiksi ilmiah misalnya, kini mulai bisa ...