Pameran Time Capsule

0

Tanggal 6 September kemarin Catalyst Art Shop resmi dibuka, ditandai dengan pembukaan pameran Time Capsule yang melibatkan tiga orang seniman muda, yaitu Ika Vantiani, Monica Hapsari, dan Muhammad Taufiq (Emte). Buat kamu yang belum tau, Catalyst Art Shop adalah sebuah ruang untuk berkreasi, berdiskusi, menjual karya & merchandise, dan masih banyak lagi. Untuk lebih lengkapnya, kamu bisa langsung baca di sini yah.

Raymond-Malvin-membuka-pameran-Time-Capsule

Lanjut lagi ke Time Capsule, Kopling juga udah pernah membahas di artikel sebelumnya kalau pameran ini ngebahas tentang perjalanan berkarya tiga orang seniman dari awal mula mereka bersentuhan dengan dunia seni sampai bisa memantapkan kakinya di posisi sekarang. Penjelasan tentang perjalanan karir mereka dibahas saat acara Artists Talk yang diadakan bersamaan dengan hari pembukaan.

Emte, yang sekarang kebanyakan berkarya dengan cat air, ternyata mulai menggambar karena dipengaruhi oleh komik dan video games. Ia suka membuat komik menggunakan rapido pemberian ayahnya. Lama kelamaan, Emte mencoba mengirimkan karya-karyanya ke berbagai majalah. Nggak sedikit majalah yang menolak karyanya, tapi ia pantang menyerah dan tetap mengirimkan karya hingga akhirnya dimuat di majalah Bobo. Sejak itu, ia semakin aktif berkarya dan mengeksplorasi berbagai macam gaya. Sampai sekarang, karya-karya Emte udah nggak terhitung jumlahnya. Ilustrasinya sering menghiasi sampul buku novel, dinding-dinding ibukota, dan dinding-dinding galeri.

Sementara itu, Monica Hapsari nggak menyangka kalau ia akan berkiprah di jalur seni karena keluarganya memang nggak berasal dari keluarga seniman. Ia pernah kuliah di jurusan Akuntansi sebelum akhirnya mengambil Kriya Tekstil di Bandung. Semasa awal perjalanan karirnya, Monica selalu menggambar figur anak kecil, karena menurutnya setiap pribadi memiliki figur yang jujur dan polos seperti anak kecil. Seiring dengan berjalannya waktu, ia mulai mengeksplorasi figur-figur lain dan selalu mengaplikasikan material fesyen ke dalam karyanya sebagai pengaruh dari ilmu yang didapat semasa kuliah. Dalam berkarya, Monic selalu menyelami sisi estetis dan konsep agar karyanya nggak hanya cantik tapi juga bernyawa.

Lain lagi dengan Ika Vantiani, seniman kolase ini memulai perjalanan berkeseniannya melalui karya-karya zine yang ia desain dan distribusikan sendiri. Beberapa lama setelahnya, ia menemukan kecintaan pada dunia kolase dan mulai sering berkarya meskipun lebih aktif berpameran di luar negeri. Ika selalu berusaha untuk berbuat lebih melalui keahliannya bergunting tempel dan menghasilkan kolase. Passion-nya yang besar membuat ia selalu konsisten dalam berkarya meskipun saat itu ia masih bekerja penuh waktu dan harus begadang. Sejak beberapa tahun lalu Ika telah meninggalkan pekerjaan penuh waktunya dan fokus kepada hal yang ia cintai: membuat kolase. Konsistensinya dalam berkarya jugalah yang mengantarkan Ika menjadi nggak hanya seniman kolase namun juga kurator berbagai pameran seni.

Monica-Hapsari-dan-teman-teman

Emte

Ika-Vantiani

Dari banyaknya karya yang dipamerkan di Time Capsule ini sebenarnya bisa dilihat kalau perjalanan karya ketiga seniman ini sangat panjang dan nggak selalu mulus. Meskipun begitu, ketiganya tetap konsisten dalam berkarya sesuai dengan gayanya masing-masing, dan itulah yang membuat langkah mereka kokoh.

Pameran Time Capsule berlangsung dari tanggal 6 sampai 25 September 2014 di Catalyst Art Shop, Jalan Kemang Utara No 50, Jakarta Selatan. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi catalystartshop.com atau cek akun Twitter @catalystartshop dan Instagram catalyst_arts.

About author

No comments

Pameran “Pri S.: Sepilihan Karya dan Arsip”

Penghabisan hujan di Bukit Pakar mengawali dimulainya rangkaian pembukaan pameran Pri S.: Sepilihan Karya dan Arsip, sebuah pameran tribut bagi Priyanto Sunarto (1947-2014), yang diselenggarakan oleh Desain ...