Pameran “Pri S.: Sepilihan Karya dan Arsip”

0

Penghabisan hujan di Bukit Pakar mengawali dimulainya rangkaian pembukaan pameran Pri S.: Sepilihan Karya dan Arsip, sebuah pameran tribut bagi Priyanto Sunarto (1947-2014), yang diselenggarakan oleh Desain Grafis Indonesia (DGI) bersama Selasar Sunaryo Art Space pada Jumat (22/07) pekan lalu. Pameran yang mengisi Ruang Sayap dan Ruang Pamer B Selasar Sunaryo ini tak hanya menampilkan karya-karya Pri, baik sebagai desainer grafis maupun seniman, namun juga sepilihan arsip memorabilia serta sejumlah koleksi pribadi dari sosok yang mengabdikan lebih dari tiga dekade hidupnya sebagai pendidik di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung serta Institut Kesenian Jakarta ini.

PriS-PembukaanPameran-01

Seniman Besar yang Antihero

Disodorkannya rangkaian arsip bersama sepilihan karya ini adalah sebuah tawaran pembacaan terhadap sosok Priyanto Sunarto yang keberkaryaannya menandai sebuah anomali, terutama di antara kecenderungan seni Bandung yang cenderung formalis.

PriS-PembukaanPameran-03

Pameran ini sendiri juga merupakan presentasi sederhana yang berupaya menghadirkan bukti-bukti perjalanan panjang Priyanto Sunarto, dimulai dari karya tugas akhirnya (1973) di Jurusan Desain Grafis, Departemen Seni Rupa, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (saat ini Fakultas Seni Rupa dan Desain), Institut Teknologi Bandung.

Karya tugas akhirnya, Proyek Tiga Buku (buku puisi ‘O’ karya Sutardji Calzhoum Bachri, buku puisi karya Danarto, dan novel “Animal Farm” karya George Orwell) yang hadir menjadi introduksi pameran mengantarkan pengunjung pada sejumlah hal, antara lain: masa-masa awal pendidikan desain grafis di Indonesia, linearitas sejarah seni grafis tanah air, serta cara pandang baru dan kepekaan artistik spesifik yang menjadi ciri dalam Seni Rupa Baru Indonesia.

PriS-PembukaanPameran-07

PriS-PembukaanPameran-11

A.D. Pirous dalam pidatonya menyebut Pri sebagai “anak kandung dari cita-cita DECENTA dalam mencari identitas keindonesiaan.” Karya-karyanya selama di DECENTA, disebut A.D. Pirous, menunjukkan sosok Pri sebagai pribadi yang paling dinamis dalam upaya pencarian itu. Hal ini ditunjukkan terutama oleh dua karya penting yang diciptakannya saat di DECENTA: Peta Bumi Indonesia Baru (1977) dan Proyek Migrasi Pasir (1979), yang menampilkan kepekaan yang begitu halus dari seorang Priyanto Sunarto dalam menyikapi pencarian identitas itu.

Selain cetak saring, Pri juga aktif dalam membuat kartun. Berkarya sejak 1977 hingga akhir hayat, kartun-kartun opininya di majalah TEMPO menandakan sebuah kecakapan dalam merespon kondisi masyarakat yang makro dengan perspektif “orang pinggiran” yang begitu mikro. Realita masyarakat sehari-hari menjadi begitu hidup setelah bicara lewat goresan tangan khas Pri—yang disebut Pirous sebagai kecakapan istimewanyanya sebagai desainer: cenderung kasar dan berantakan, menyampaikan pesan dengan nakal dan bernas.

Kepulangannya pada 2014 disebut Pirous sebagai sebuah kehilangan besar, katanya di akhir pidatonya, “Indonesia telah kehilangan seorang pemikir dan seniman besar.” Sifatnya yang rendah hati dan menjarakkan diri dari popularitas menjadikan sosok ini jauh dari lampu sorot kesenian tanah air. “Pri adalah tokoh yang amat penting, namun cenderung antihero semasa hidupnya,” imbuh Jim Supangkat selepas seremoni pembukaan.

PriS-PembukaanPameran-08

PriS-PembukaanPameran-15

Pembukaan ini sendiri diawali dengan sambutan dari Sunaryo, selaku perwakilan dari Selasar Sunaryo Art Space, sekaligus rekan Pri—demikian Priyanto Sunarto akrab disapa—semasa berkarya di DECENTA (Design Center Association) pada periode 1970-an; dengan diikuti oleh Ismiaji Cahyono selaku Bureau Chief Desain Grafis Indonesia, serta berturut-turut: Wagiono Sunarto, Euis Priyanto, serta Chabib Duta Hapsoro selaku kurator pameran. Pembukaan pameran mencapai puncaknya dengan disampaikannya pidato pembukaan oleh A.D. Pirous, seniman sekaligus guru dan sahabat Priyanto Sunarto di FSRD ITB dan terutama, DECENTA.

Menyemarakkan Diterbitkannya Kumpulan Tulisan Pri S.

Pameran ini akan berlangsung hingga 14 Agustus 2016 sebagai bagian dari rangkaian tribut untuk Priyanto Sunarto yang diinisiasi oleh Desain Grafis Indonesia. DGI sendiri merupakan sebuah lembaga swadaya yang berfokus pada perkembangan desain grafis di Indonesia melalui pengarsipan, pencatatan, penerbitan, dan ragam kegiatan lainnya. Pameran ini sendiri diselenggarakan untuk menyemarakkan penerbitan dan peluncuran buku Pri S.: Serumpun Tulisan (DGI Press, 2016) yang menghimpun serangkaian gagasan Pri tentang desain grafis, seni pada umumnya, dan pendidikan dalam wujud tulisan dan arsip wawancara dari rentang tahun 1980 hingga 2014. Buku akan diluncurkan pada Jumat, 29 Juli 2016 pukul 15.00 WIB di Bale Handap Selasar Sunaryo dengan dilengkapi bedah buku yang akan menghadirkan Ismiaji Cahyono (DGI), Vera Rosana (Detego Studio, desainer buku), serta Riama Maslan dan Triyadi Guntur (DKV ITB), dengan dimoderasi oleh Arief Adityawan (Pengajar DKV). Kegiatan terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.

Pameran “Pri S.: Sepilihan Karya dan Arsip”

22 Juli – 14 Agustus 2016
Kurator: Chabib Duta Hapsoro
Selasar Sunaryo Art Space
Jalan Bukit Pakar Timur
No. 100 Bandung

Peluncuran dan Bedah Buku

“Pri S.: Serumpun Tulisan”
Jumat, 29 Juli 2016
15.00 – 17.00 WIB

Pembicara:
Ismiaji Cahyono (Burau Chief Desain Grafis Indonesia)
Vera Rosana (Perancang Grafis Buku Pri S.: Serumpun Tulisan, Detego Studio)
Triyadi Guntur (Pengajar Program Studi Desain Komunikasi Visual, FSRD ITB)
Riama Maslan (Pengajar Program Studi Desain Komunikasi Visual, FSRD ITB)

Moderator: Arief Adityawan

Diskusi Publik “Priyanto Sunarto dan Seni Rupa Indonesia 1970-an”

Jumat, 5 Agustus 2016 15.00 – 17.00 WIB

Pembicara:
Jim Supangkat (Kurator Seni Rupa)
Bambang Bujono (Kritikus Seni Rupa)
Aminudin TH Siregar (Direktur Galeri Soemardja, FSRD ITB & Sejarawan Seni Rupa)

Moderator: Chabib Duta Hapsoro

Foto: Desain Grafis Indonesia/Masterpiece Magazine & IPPDIG ITB

About author

No comments

Obrolan Warung Kopi

Beberapa waktu lalu tepatnya hari Selasa tanggal 20 Maret lalu Kopi Keliling diundang datang ke acara kumpul-kumpul yang diadain oleh Akademi Samali. Mengambil tempat di ...