#ManggungdiOmu: Lilin

0

“Mari hangatkan Omuniuum,” ajak Alvin Baskoro, penampil pertama dalam acara #ManggungdiOmu episode malam itu. Secara harfiah maupun metaforik, ruang mungil toko buku Omuniuum di Jalan Ciumbeuluit, Bandung, memang terasa hangat. Penonton duduk rapat-rapat memadati ruangan. Lagu-lagu yang dibawakan oleh ketiga penampil – Alvin Baskoro, Deugalih, dan Adrian Yunan – juga menghangatkan hati. Mereka menyajikan lagu-lagu balada yang berangkat dari pengalaman masing-masing.

Selain menjual buku, Omuniuum yang bersemboyan “small shop of reading and listening” juga punya jejaring kuat dengan musisi indie Indonesia. Sebut saja Efek Rumah Kaca, Burgerkill, serta Rissa Sarasvati. #ManggungdiOmu adalah gigs yang kerap diselenggarakan di toko buku ini. Musik yang disajikan sangat beragam. Malam itu, giliran tiga musisi folk yang baru saja merampungkan EP dan albumnya masing-masing berbagi cerita.

Alvin yang paling belia bercerita lebih dulu. Ia yang baru saja menyelesaikan EP bertajuk “Beranjak” mempersembahkan lagu-lagu sentimentil seputar kesepian dan persahabatan. Petikan gitarnya yang sendu membuat penonton terbawa suasana. Ia pun sempat mengajak penonton bernyanyi bersama di salah satu lagunya.

Menyusul Deugalih yang jauh-jauh datang dari Yogyakarta. Selain memainkan lagu-lagu dari album terbarunya, “Tanahku Tidak Dijual”, Galih juga membawakan musikalisasi puisi Chairil Anwar “Buat Gadis Rasjid” yang diciptakannya semasa kuliah di Sastra Indonesia. Galih menghadirkan nuansa grunge yang kental. “Kontrol vokalnya parah,” ungkap salah seorang penonton.

Rangkaian #ManggungdiOmu malam itu ditutup oleh ketenangan Adrian Yunan. Mantan basis Efek Rumah Kaca ini hadir ditemani Wahyu pada cajon dan Asra pada keyboard. Pada tanggal 4 Juni 2017 lalu, Adrian Yunan baru saja merilis album solonya “Sintas”. Album ini merupakan cara Adrian merespon penyakit yang pelan-pelan merenggut pengelihatannya. Meski harus mundur dari Efek Rumah Kaca karena tubuhnya yang semakin lemah dan tak mungkin lagi mengikuti ritme band tersebut, Adrian tidak berhenti berkarya. “Kalau mau tetap hidup, ya harus berkarya,” kata ayah satu anak itu sebelum menyanyikan salah satu lagunya, “Mikrofon”.

Meski Adrian Yunan berkali-kali meminta maaf karena merasa lagu-lagunya terlalu personal, tak ada yang merasa keberatan. Ketika ia membagi kisah hidupnya, pendengar jadi merasa ditemani. Adrian bercerita tentang orang-orang terkasihnya, kekhawatiran sekaligus optimismenya, dan bagaimana ia menjadi penyintas.

Setiap meregang menyadarkan diri
Mengabarkan orang bisa menjadi terapi
Bisa berbagi cerita
Bukan hanya nostalgia, tak perlu sembunyi… 

Saya jadi merenung. Dalam sepekan ini, dari dunia selebritas, ada dua berita bunuh diri yang cukup menggemparkan. Pertama, dari Oka Mahendra Putra, manager sekaligus mantan kekasih selebgram fenomenal Awkarin, yang dikabarkan menenggak sianida. Kedua, dari Chester Bennington, vokalis Linkin Park yang diberitakan tewas gantung diri. Di antara berbagai spekulasi yang beredar, depresi dan kesepian disebut-sebut sebagai alasan yang menggiring mereka pada keputusan itu.

Barangkali saat ini kita memang perlu ruang-ruang hangat untuk berbagi cerita dan keberanian untuk mengungkapkan hal-hal personal apa adanya. Dengan begitu kita tak merasa sendirian atau justru membuat orang lain merasa ditemani. Tiga penampil #ManggungdiOmu malam itu sudah memulainya.

Lilin adalah cahaya kecil yang sederhana tetapi berani. Pendarnya syahdu, tapi tak pernah gagal menghangatkan dan menerangi.

-Omuniuum, Kamis 20 Juli 2017-

 

Artikel dan foto oleh: Sundea Salamatahari

About author

No comments

Minuman Kopi ala Irlandia

Tanggal 17 Maret setiap tahunnya dirayakan sebagai St Patrick’s Day bagi masyarakat Irlandia untuk memperingati Santa Patrick. Untuk meramaikannya, biasanya orang-orang menyantap cupcakes atau, yang ...