Setia Sampai Mati Sama Coffee Shop

0

Meskipun kamu bukan seorang pekerja di sebuah coffee shop, tapi pernah sering nggak kamu ngantor di coffee shop? Sering banget kan? Apa alasannya? Beberapa orang bilang, kerja di coffee shop itu jauh lebih menyenangkan ketimbang kerja di kantor. Kalau kerja di kantor bawaannya ngantuk terus, hal ini malah nggak terjadi saat mereka kerja di coffee shop. Atau kadang, kantor malah terlalu gaduh sebagai tempat untuk bekerja, karena kantornya terlalu sibuk atau ada rekan kerja yang punya kebiasaan nyetel musik dengan volume maksimal. Akibatnya, konsentrasi pun jadi buyar, dan larilah para orang kantoran itu ke coffee shop. Penelitian juga bilang, kebisingan di coffee shop itu pas untuk memicu kreativitas. Meddah_story_teller

Itu memang tentang orang masa kini sih ya. Eh, tapi jangan salah. Ternyata sudah sejak dulu orang senang menjadikan coffee shop sebagai kantor mereka. Pada Abad 16 di masa Dinasti Ottoman, Istanbul, banyak orang yang berdiskusi tentang politik dan seni di coffee shop seharian. Tampaknya memang seperti pengangguran ya, tapi buat mereka itulah bekerja. Dan sebagai informasi, konon Istanbul adalah negara pertama di dunia yang mendirikan coffee shop.

17th_century_coffeehouse_england_1-580x400 Seabad kemudian, di Abad 17, orang-orang juga mulai banyak yang “ngantor” di coffee shop. Mereka adalah cikal bakal sastrawan di kemudian hari, dan beberapa dari mereka juga menjadi penulis surat kabar yang pertama di dunia. Bukan hanya para penulis, orang-orang bisnis pun juga sering berkantor di coffee shop, seperti Lloyd’s of London dan London Stock Exchange. Karena banyaknya orang yang ngantor, sampai-sampai para pemilik coffee shop ini menyewakan tempat di coffee shop mereka bagi orang-orang yang membutuhkan privacy, seperti tirai atau pintu.

Amedeo_Preziosi_-_Istanbul_cafe-640x436

Kita kembali lagi ke Istanbul. Pada Abad 18, minat orang untuk nongkrong di coffee shop semakin besar. Mereka dapat merokok hookah, mendengarkan musik, dan sebagainya. Bukan pengangguran, tentunya. Mereka adalah orang-orang kaya pada saat itu, seperti yang terlihat dari cara berbusana mereka. Nggak heran kalau pada akhirnya sang sultan melarang orang untuk ke coffee shop karena khawatir karir politisnya terancam. Siapa tahu kalau ada rapat-rapat rahasia yang diadakan di sana juga, bukan?

604px-ParisCafeDiscussion

Di Abad 19, banyak tulisan yang indah yang dibuat di banyak coffee shop di Paris. Para pekerja “kantoran” itu bahkan mencantumkan alamat coffee shop favorit mereka sebagai alamat surat menyurat.

Syria.Damascus.CoffeeHouse.01

Lihatlah foto di atas. Orang-orang Damaskus ini sedang melakukan diskusi dengan serius, sambil bersantai. Mungkin itu yang membuat coffee shop menjadi tempat ngantor yang menyenangkan ya? Karena saat bekerja di sana, meskipun serius, tapi suasananya tetap menyenangkan. Pekerjaan selesai, hati pun senang.

800px-Estatua_Gonzalo_Torrente_Ballester_Cafe_Novelty_Salamanca-640x480

Nah, kalau yang ini adalah pengunjung tetap Cafe Novelty di Salamanca, Spanyol. Dia adalah Gonzalo Torrente Ballester, seorang novelis, penulis skrip, penulis essay, jurnalis, aktivis politik, dan semua pekerjaannya itu dilakukan di cafe kesukaannya tersebut sepanjang hari, sampai akhirnya beliau meninggal dunia 15 tahun yang lalu. Eh, tapi kalau kita ke Cafe Novelty, kita masih bisa menemui Ballester sih, tapi dalam bentuk patung… Kamu punya kenalan orang yang setiap hari berkunjung ke coffee shop nggak? Atau kalau kamu sendiri seorang pengunjung setia sebuah coffee shop, kepengin nggak sih kamu nanti dibuatkan patung seperti Ballester? Hehe…

No comments