Nikmatnya Secangkir Kopi di Lereng Merapi

0

Minuman berwarna cokelat kehitaman dengan aroma yang khas ini membawa saya untuk menikmati kopi di lereng Merapi. Saya menyempatkan pergi setelah kuliah untuk menikmati secangkir kopi lereng Merapi, ditemani semilir angin dan senja. Secangkir kopi ditambah dengan pisang goreng menambah kenikmatan. Suasana yang sia-sia apabila dilewatkan begitu saja tanpa bercumbu dengan angin malam.

Sore itu setelah selesai kuliah saya dan teman pergi ke lereng Merapi. Tujuan utamanya adalah mendatangi kedai kopi yang berada di Desa Wisata Petung di Desa Kepuharjo Cangkringan (dibawah rumah Almarhum Mbah Maridjan).

Siapapun yang ingin menuju Museum Sisa hartaku akan melewati kedai kopi yang bernama Kedai Kopi Merapi ini. Sebagai satu-satunya kedai kopi di daerah tersebut, Kedai Kopi Merapi yang dikelola oleh Ibu Sukirah (41 tahun) ini buka dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam, atau sesuai kebutuhan. Pengunjung dapat menikmati kopi Arabika dan Robusta.

IMG_2749

(sumber foto: penulis)

Untuk mencapai Kedai Kopi Merapi harus melewati jalan yang belum beraspal sekitar hampir 2 km. Jalan ini cocok sekali untuk dilewati para pengguna motor trail dan mobil jeep.

Setelah sampai tempat tujuan pengunjung akan disuguhi warung sederhana yang dipadu padankan dengan pemandangan khas lereng Merapi.

Kedai kopi Merapi dibangun setelah erupsi gunung Merapi, tepatnya pada tahun 2013. Di kedai ini, selain mendapatkan pemandangan Gunung Merapi di sebelah utara, pengunjung juga mendapatkan pemandangan kota Jogja di malam hari. Tidak hanya itu, pengunjung juga disuguhi kedai khas ndeso yang dihiasi batu-batuan besar bekas erupsi Merapi.

Sumber foto @wayansapei

(sumber foto: @wayansapei)

Ketika malam hari yang cerah bintang bertaburan disertai suara hewan malam, seperti jangkrik. Kedai ini cocok bagi pengunjung yang ingin menenangkan diri atau bosan dengan rutinitas kota. Ketika langit cerah, kegagahan Merapi akan terlihat jelas. Letak yang strategis untuk dinikmati dari pagi hingga malam hari.

Kopi yang disuguhkan di sini asli berasal dari lereng Merapi dan ditanam oleh para petani sendiri. Para petani kopi mendirikan koperasi yang diketuai oleh suami Ibu Sukirah. Koperasinya sendiri berada di Jalan Kaliurang km 20.

Awalnya ibu Sukirah mengolah sendiri biji-biji kopinya. Setelah adanya koperasi, ibu Sukirah mengolahnya di koperasi bersama anggota kelompok koperasi. Anggota koperasi ini sering mengikuti pameran di kota untuk mempromosikan kopi Merapi. Selain itu, hasil kopi-kopi olahan tersebut dipasarkan di café-café hingga ke luar daerah. Meskipun kopi-kopinya diolah oleh kelompok koperasi, kedai kopi ini dikelola sendiri oleh Ibu Sukirah.

IMG_2766

(sumber foto: penulis)

Hal yang membedakan kopi merapi dengan kopi lainnya adalah asli dari lereng Merapi yang ditanam menggunakan pupuk organik bekas erupsi abu Merapi. Cara menghaluskannya pun masih dengan cara sederhana dengan ditumbuk menggunakan lumpang dan kemudian disangrai. Tak heran jika kopi merapi memiliki kenikmatan tersendiri bagi para pecinta kopi.

Kebanyakan pengunjung yang datang ke sini adalah mahasiswa, keluarga dan rombongan wisatawan. Kalau pas hari biasa, pengunjung kebanyakan mahasiswa. Tempat ini cocok untuk melepas penat ketika wisatawan sudah menikmati area wisata Kaliurang.

Setiap pengunjung akan memiliki cerita tersendiri di sudut utara kota Jogja. Banyak pengunjung yang memang menyempatkan datang ke sini.

Romantisme pemandangan serta kegagahan Merapi akan meninggalkan kesan tersendiri bagi pengunjung. Menikmati setiap sruputan kopi Merapi langsung oleh penanamnya dengan semilir angin lereng Merapi meninggalkan kenikmatan tersendiri bagi para pecintanya. Siapapun pengunjung akan ketagihan untuk datang kembali.

Salam sruput!

 

Penulis: Nurjannah Yuliani

About author

No comments

Berkarya dengan Apa yang Ada

Mariam Pare memang bukan manusia pertama yang melukis dengan mulut, tapi kisahnya yang sangat inspiratif, patut untuk kita simak. Bayangin, dalam waktu 2 tahun saja, ...