Kopi Nggak Harus Maskulin

0

brewing-coffee-50481.jpg-w=580&h=870.jpg-w=580&h=870

Jaman dulu, nggak ada perempuan yang minum kopi, dan yang minum kopi cuma laki-laki. Bahkan, dulu banget kopi juga sering dijadiin obat kuat supaya mereka tetap perkasa walaupun lagi mabuk. Ini sebelum ditemukannya viagra dan obat-obat kuat lainnya ya.

Nggak cuma itu, bukti kalo dulu kopi itu minumannya laki-laki juga ada di Rusia. Kamu tau kan kalo di beberapa negara setiap benda punya jenis kelamin perempuan, laki-laki, atau netral? Nah, waktu abad ke-19, kata “kopi” di orang Rusia itu punya jenis kelamin laki-laki. Baru deh pas abad ke-20, penyebutan kata “kopi” ini berubah jadi netral.

Tapi, itu kan dulu. Mungkin waktu itu jenis minuman kopi juga belum ada macem-macem, cuma kopi hitam yang nggak ditambahin gula. Sekarang jaman udah berubah, perempuan juga udah minum kopi. Penyebabnya bisa jadi karena minuman kopi jaman sekarang udah nggak sepahit dulu dan variasinya pun lebih banyak, disesuaikan dengan lidah perempuan juga.

Analogi lainnya mungkin bisa dengan blue jeans. Jaman dulu yang make blue jeans cuma para pekerja tambang, dan tentunya mereka laki-laki. Tapi lama-lama karena modelnya dibuat lebih menarik dan variatif, nggak cuma pekerja tambang yang make, tapi juga orang-orang dari profesi lainnya – termasuk perempuan. Malah ada jeans yang sekarang dengan warna lain selain biru, dan modelnya juga nggak cuma celana panjang aja. Samalah kayak kopi, jaman sekarang kopi udah lebih “modis” dan sajiannya juga menarik jadi udah dilirik sama semua kalangan.

Hidup adalah masalah penyesuaian. Kalo nggak ada penyesuaian, kita nggak akan bisa ngikutin perkembangan jaman. Makanya, kalo dulu minuman kopi itu hanya kopi hitam yang pahit dan pekat, sekarang jenis-jenis minuman kopi udah beragam banget, mulai dari berbagai macam alat manual brew yang mulai naik daun untuk menghasilkan secangkir kopi yang rasanya nggak hanya pahit, tapi juga asam dan manis yang murni berasal dari biji kopinya sendiri, sampai minuman kopi berbasis susu, seperti latte, flat white, dan cappuccino.

Tapi kalo dipikir-pikir lagi, hidup ini kan nggak harus selamanya manis ya. Kadang ada pahitnya juga, begitupun dengan kopi. Semanis apapun, harus tetap ada rasa kopinya dong. Ya kalo nggak mau ada rasa kopinya namanya bukan kopi dong. Hehe… Nggak usah hidup atau kopi sih, cinta juga begitu kan? Nggak selalu sebuah perjalanan cinta itu manis, karena ada kalanya pahit. Tapi gimana pun tetap harus dijalani, dan “disruput”.

Terus gimana nasibnya dengan kopi hitam dan celana jeans berwarna biru yang klasik? Penggemarnya ya tetep aja ada. Nggak semua orang suka dengan perubahan kan? Masalah selera aja sih, dan nggak ada yang salah dengan itu.

Kamu sendiri termasuk orang yang selalu mengikuti perkembangan jaman atau orang yang sangat konservatif?

No comments

Rukmunal Hakim

Saat lulus SMU, Rukmunal Hakim yang saat ini bekerja sebagai full time illustrator sempat bekerja di bidang yang sangat jauh dari seni. Setelah lulus SMU, ...