Sarita Ibnoe

0

Dari sekitar kelas 3 SD, Sarita Ibnoe suka menggambar setiap pulang sekolah atau ketika lagi lowong. Freelance Graphic Designer yang baru saja mulai membangun publishing bersama temannya ini semakin dekat dengan seni karena supirnya. Kok bisa? Iya, Sarita dulu suka bermain dengan supirnya yang suka mengajaknya belajar gambar. Dari situlah ia mengikuti ekstrakulikuler seni rupa, dan akhirnya ia juga ikut les melukis.

Pada tahun 2003, Sarita sempat pindah ke Kuala Lumpur, Malaysia untuk meneruskan SMA dan kuliah. Menjelang lulus SMA, Sarita memang merasa kalau ia sudah nggak punya pilihan lain selain seni, meskipun dulu juga sempat terlintas untuk mengambil kuliah seni tari ballet. Namun ia mengurungkannya karena orang tua kurang menyetujui. Akhirnya, perempuan kelahiran Jakarta ini memutuskan untuk mengambil jurusan desain grafis yang mengarah ke ilustrasi, tanpa menghilangkan passion-nya di bidang seni murni. Di tahun terakhir kuliahnya — tahun 2008-2009  — ia pindah ke London untuk melanjutkan program kuliah yang diambilnya, yaitu ilustrasi.

Pada dasarnya, orang-orang di sekeliling Sarita sangat mendukung keputusannya untuk menekuni dunia seni, terutama teman-teman yang sudah lama ia kenal dan juga teman-teman baru. Bahkan teman-teman lamanya  yang dulu sering melihatnya mencoret-coret buku pelajaran juga senang melihat ia bisa menjadikan seni sebagai pekerjaan yang menghasilkan.

Kesibukan Sarita di publishing dan sebagai freelance graphic designer nggak menghentikan dirinya untuk tetap melukis dan menggambar di waktu luang. Style menggambar yang saat ini paling nyaman buatnya adalah drawing yang nggak terlalu detail, ditambah dengan sedikit warna. Banyak yang bilang ada ciri khas tersendiri dari warna-warna yang dipakai olehnya. Sarita sendiri banyak mendapatkan panduan untuk pembuatan karya-karyanya dari permainan warna, space kosong, dan drawing yang sketchy tapi tetap membentuk dari karya-karya Ay Tjoe Christina.

Sebelum menghasilkan suatu karya, biasanya Sarita suka bengong di waktu malam dan membuat coret-coretan untuk mencari ide. Ia suka mengamati benda-benda di sekitarnya, membaca kata-kata yang bisa dibaca, dan nggak jarang juga ia menemukan kata-kata yang pada akhirnya ingin ia visualisasikan. Ia suka mencari kata-kata dari lagu, haiku, atau bahkan sepatah katapun bisa menjadi suatu visual. Menurut Sarita, proses kreatifnya dalam berkarya biasanya lama dan bahkan malah stuck di proses mikirnya. Setelah ‘proses mikir’ selesai, ia membiasakan untuk membuat artwork-nya sekali jalan. Jadi, ia selalu mengupayakan supaya karyanya selesai di hari yang sama saat ia mulai menggambar karena kalau ditunda sampai keesokan hari, drawing mood dan tarikan garisnya bisa berbeda.

Sarita selalu berusaha supaya pesan yang tersirat di dalam karya-karyanya nggak terlalu berat. Ia mengambil tema dari kejadian sehari-hari atau memvisualisasikan sepatah dua patah kata. Visualnya mungkin terlihat berat dan rumit, tapi ia memilih untuk penikmat karyanya saja yang menginterpretasikan apa arti dari karyanya. Terkadang, karyanya yang terlihat simple malah mengandung pesan yang cukup berat.

Kalau lagi stuck dalam mencari ide, biasanya Sarita akan tidur, nonton film, dan terutama yang paling penting adalah liburan! Yang penting baginya adalah nggak memikirkan kerjaan itu untuk beberapa saat dan ketemu dengan teman-teman dekatnya. Biasanya, di tengah-tengah obrolan ia akan menemukan semangat atau ide-ide yang baru.

Sarita mengaku kalau ia belum banyak mengikuti berbagai pameran, karena ia kurang tahu di mana tempat untuk mendapatkan info-info tentang pameran. Namun pameran yang paling berkesan menurutnya adalah pameran yang waktu itu ia atur berdua dengan temannya, juga pameran Degree Show di London saat ia akan lulus kuliah. Waktu itu, ia merasa campur aduk antara perasaan senang banget karena bisa ikut pameran, tapi juga sangat sedih karena harus meninggalkan London.

Sarita juga cerita kalau ia suka minum kopi, seenggaknya satu kali sehari. Bahkan ada masa-masanya ia minum kopi terlalu banyak sampai maagnya terganggu. Sejak itu, ia nggak bisa lagi minum kopi instan. Kalau di rumah, Sarita memilih untuk minum kopi hitam, sementara kalau di luar ia suka meminum cappuccino.

 

Lihat karya-karya Sarita lainnya di sini: saritaibnoe.com

About author

No comments

Aroma Koffie Fabbriek

Menyusuri hampir setengah jalan Banceuy yang berdebu, penuh kios las dan bengkel mobil, terasa tidak sia-sia ketika akhirnya saya sampai di sebuah rumah di sudut ...