Sakinah Alatas

0

“Aku wanita berdarah Arab yang muak dengan aturan-aturan dan kekangan-kekangan yang menyusahkan para perempuan Arab, dan aku ingin mendobrak adat-adat lama yang sudah nggak relevan untuk diterapkan di masa kini. Aku menyerukan kemunafikan-kemunafikan akibat kekangan tersebut, lewat karya yang aku buat.”

– Sakinah Alatas

Seniman yang satu ini memang sangat apa adanya, polos, dan blak-blakan. Sama sekali jauh dari kesan pencitraan. Beberapa kali Kopling tercekat saat mendengar jawaban-jawabannya selama wawancara, tapi tak urung ingin ikut tersenyum.

“Aku sekarang lagi kuliah di Universitas Negeri Jakarta Jurusan Pendidikan Seni Rupa. Aku lahir di Bogor, sebenarnya, tapi di akte ditulis di Jakarta. Aku tinggal nomaden, karena orangtuaku sudah bercerai sejak aku masih kecil. Umi di Bogor, Abah di Jakarta, jadi pindah sekolah setiap tahun. Abah keturunan Arab, jadi istrinya banyak,” katanya dengan sangat naif, ketika ditanya tentang latar belakangnya. Tanpa sensor.

Sakinah kecil sempat kecewa, karena meskipun dirinya sering mengikuti lomba gambar, tapi nggak pernah menduduki juara pertama. “Krayonnya jelek, mungkin ya. Anak-anak lain kan krayonnya yang mahal gitu…” ujarnya. Baru setelah dirinya sering menghadiri berbagai pameran, ikut beberapa workshop di kampusnya, dirinya benar-benar mengerti seni. Sakinah nggak hanya suka seni grafis, tapi juga cukil kayu, dry point, kolase, dan juga manual print. Tapi nggak berhenti di situ, karena dirinya masih sering mencari media baru. Perempuan yang satu ini memang penuh petualangan dalam berkarya!

Sebagai perempuan yang berasal dari keluarga yang konservatif dan religius, Sakinah hingga hari ini mengaku nggak mendapat dukungan sama sekali dari keluarganya sebagai seorang seniman. “Aku nggak boleh menggambar obyek orang atau binatang, karena kata keluarga aku nanti yang aku gambar itu akan minta nyawa di akhirat…” jelasnya sedih. Untungnya, kekasihnya sangat pengertian, dan mendukung pilihan hidupnya menjadi seorang seniman.

portofolio-sakinah-alatas-seniman-kopi-keliling-volume-0 portofolio-sakinah-alatas-seniman-kopi-keliling-volume-0-part-2

Ketika ditanya mengapa dirinya memilih jalur seni visual, jawabannya sangat sederhana: karena seni visual itu yang paling mudah untuk dimengerti. Jiwa pemberontak Sakinah tercermin dari seniman idolanya, Frida Kahlo. “Aku suka karya-karyanya, dan juga karena dia seniman perempuan yang jujur dalam berkarya. Aku juga suka Yayoi Kusama, karena latar belakangnya mirip aku dan karena karakter polkadotnya,” begitu jelasnya. Pilihan setiap orang memang cerminan dari dirinya, bukan?

Berangkat dari banyaknya kepelikan dalam hidupnya, dari situ Sakinah mendapatkan banyak inspirasi dalam berkarya. Banyak protes yang dicetuskannya, dan itu caranya bersuara sebagai seorang perempuan Arab dan seorang seniman. Untuk kolase, bahannya biasa dicarinya di Tumblr atau dari majalah-majalah tua.

Nggak semua perempuan Arab mengalami nasib yang dirasakan oleh Sakinah dan ibunya, memang – tapi mau nggak mau kenyataan pahit ini sempat membuat Kopling tertohok. Ternyata masih ada orang yang mengalami keterbatasan dalam berkarya karena alasan yang seharusnya sudah dievaluasi.

Pahit, sepahit kopi hitam yang menjadi kesukaan Sakinah Alatas. Kamu boleh menyebutnya “Nina”, karena itu nama panggilan kesayangan perempuan yang sering kehilangan mood saat banyak yang mengkritik karyanya ini.

About author

No comments