Hendy Musa

Hendy Musa, seniman yang bekerja sebagai art director di sebuah perusahaan advertising. Pria kelahiran kota Semarang ini sudah menggilai komik sejak kecil, terutama Dragon Ball. Titik awal perjalanan Hendy sebagai seniman dimulai ketika dia duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Dia menggambar gunung, sawah, lengkap dengan burung berbentuk angka 3. Ia juga sering ikut serta dalam lomba menggambar sebagai perwakilan sekolah, bahkan perwakilan Semarang. Pengalaman ini berjejak hingga dia terus mengembangkannya hingga ia mengambil kuliah Desain Komunikasi VIsual.

Hendy selalu berusaha untuk bereksperimen dengan berbagai macam gaya ilustrasi untuk memperkaya imajinasinya. Satu persatu gaya ilustrasi dibukanya untuk mencari identitas sebagai seniman. Dalam karya-karya ilustrasinya Hendy ingin menularkan kedalaman emosinya kepada penikmat seni. Untuk penggunaan alat, Hendy cenderung netral. Dia menyukai hampir semua alat gambar mulai dari kuas, marker, hingga pensil.

Menurut Hendy ada zona abu-abu antara seni murni dan seni industri. Hal ini merupakan realita yang harus diterima tiap pemimpi. Karya pribadi dan proyek bisnis pasti berbeda, dalam karya pribadinya Hendy bisa menuangkan segala macam unek-unek dan pandangan pribadinya. Sedangkan untuk proyek kantor, Hendy menggunakan kaca mata klien untuk membuat karya yang bisa dikonsumsi masyarakat umum.

Buat  Hendy, inspirasi bisa datang dari mana saja, bahkan saat menyeruput secangkir kopi hangat. Di dalam setiap karyanya, Hendy selalu ingin menyampaikan pesan, baik yang bersifat positif, sindiran, maupun negatif.

Karya-karya Hendy sudah pernah mengikuti beberapa pameran, seperti Mural Competition Pachwurk di Jakarta, Tiger Translate di Singapura, Nickdeccker Snowboarding Design Competition di Jerman, Come Closer and See The Inner Me, Pameran Kopi Keliling Volume 1, 2, 5, dan masih banyak lagi. Hendy merasa kalau setiap pameran berkesan buatnya karena masing-masing memiliki tantangan tersendiri.

“Ilustrasi merupakan visual yang berasal dari unek-unek dan mood. Karya seorang seniman menjadi asik dan sukses ketika penikmat seni berhasil menangkap nilai objektif sebuah karya.”

Kopi Keliling Volume 1

Di karya pertamanya Hendy memilih kopi toebroek sebagai tema. Selain karena itu adalah jenis kopi favoritnya, Hendy menyukai sifat dari kopi toebroek yang sederhana dan ‘sangat Indonesia’. “Yang kita butuhkan hanya bubuk kopi, gula, dan air panas dalam gelas besar untuk mendapatkan rasa yang sangat brutal kuatnya namun manis di saat bersamaan,” ujar Hendy.

“A humble coffee” – Acrylic, marker, spray paint on paper

Kopi Keliling Volume 2

Dalam karya “Everybody Likes Coffee” Hendy menggunakan pensil, akrilik, dan marker. Hendy berusaha menangkap unsur casual dari kopi sebagai sesuatu yang umum. Baik pria maupun wanita menyukai kopi, hal ini sudah menjadi agenda umum kebanyakan orang. Simbol perempuan dan pria sendiri diartikan sebagai keseimbangan. Hal ini teramu menjadi satu dalam kegiatan sehari-sehari masyarakat umum yang sangat lumrah dan sederhana, yaitu meminum kopi.

“Everybody likes coffee” – Acrylic, marker on plywood

Simak video interview dengan Hendy Musa di KoplingTV episode 11:

KOPLING TV | EPS 11 | HENDY MUSA from Kopi Keliling on Vimeo.

Lihat karya-karya Hendy lainnya di sini: http://ape-republic.blogspot.com/

 

About author

Cerita-Cerita Berbumbu Kopi pt.1

Nggak cuma penulis-penulis bule, penulis-penulis Indonesia juga banyak terinspirasi oleh kopi dalam penulisan buku-bukunya. Sebagian fiksi, sebagian lagi kisah nyata yang memakai kopi sebagai analogi. ...
joker123malaysia pussy88 xe88 mega888official